
Rania awalnya berontak, namun Tomi semakin erat memeluknya hingga akhirnya dia menyerah pasrah dan diam tanpa membalas pelukan Tomi.
"Maaf...." ucap Tomi pelan.
"Maaf kan aku..." kembali dia berucap.
Rania tak juga menjawab. Tubuh mungilnya terguncang pelan, dan Isak tangis terdengar sangat memilukan.
Tomi masih mendekap erat tubuh Rania. Dia bisa merasakan sakit hati dan kekecewaan yang dirasakan Rania. Melihat gadisnya menangis entah mengapa hati Tomi juga menjadi sangat sakit. Apalagi yang menyebabkan itu semua adalah dirinya.
Tomi melonggarkan pelukannya dan mencoba menatap mata Rania yang menunduk menahan tangisnya.
Rania yang mendapat kesempatan segera bersiap untuk berlari, namun baru beberapa langkah Tomi kembali mencekal tangannya. Kali ini dengan sangat kencang.
"Lepaskan....lepaskan aku brengsek!!!" ucap Rania marah. Rania meronta dan mencoba melepaskan tangan nya.
Tomi diam, namun tetap mencekal kuat tangan Rania.
"Aku....aku bilang lepas..." ucap Rania lagi. Kali ini dia menatap tajam mata Tomi. Menentang dengan sinar mata penuh kemarahan.
"Aku tidak akan melepaskan mu. Tidak akan." ucap Tomi dengan suara tinggi. Dia juga tersulut emosi saat Rania memaksa untuk melepaskannya.
"Dengar!" bentak Tomi.
"Aku akan membawa mu pulang ke Jakarta. Dan aku akan mengikatmu untuk selamanya hingga kau tidak bisa lari lagi dariku." ucapnya.
"Aku tidak mau, lepas....." Rania terus meronta.
Tomi yang ikut emosi menarik paksa Rania dan memasukkannya ke dalam mobil, kemudian menguncinya. Dengan langkah cepat Tomi masuk ke dalam mobilnya dan melajukannya dengan sangat kencang.
Tomi terus mengemudikan mobilnya kencang, membuat Rania yang awalnya marah menjadi ketakutan.
Dengan cara Tomi menaiki mobilnya dengan gila gilaan bisa saja mereka berdua mengalami kecelakaan.
"Tom... hentikan....hentikan..." teriak Rania.
Tomi masih saja mengemudikan mobilnya dengan kencang tanpa memperdulikan Rania.
"Hentikan, kamu gila ya, apa kamu ingin kita berdua mati? kalau kau mau mati, mati saja sana sendiri. jangan bawa bawa aku." ucap Rania kencang.
"Kalau kau tidak mau bicara dengan ku dan mendengarkan penjelasan ku, lebih baik kita berdua mati saja." ucap Tomi pada akhirnya.
" Untuk apa aku hidup, kalau harus seperti ini." Imbuhnya lagi.
__ADS_1
Rania tampak berpikir, Tomi terlihat serius dengan ucapannya. Ini gila, aku belum mau mati konyol seperti ini. Papa, mama, tolong Rania, Pa. bathinnya.
Rania yang ketakutan akhirnya bicara, "Baik, aku akan bicara dengan mu, aku janji, tidak akan lari lagi, tapi tolong hentikan ini, aku takut...aku....belum mau mati." ucapnya pelan.
Tomi menurunkan kecepatan mobilnya, senyum tipis yang nyaris tak terlihat menghiasi wajahnya. Dan dengan santainya berbicara, "ingat kata katamu, kau sudah janji. Awas saja jika kau lari, aku pasti akan mendapatkan mu." ucapnya.
Tomi melajukan mobilnya pelan, dan berbelok kearah hotel yang terletak tidak jauh dari kota.
Pikiran Rania dipenuhi dengan berbagai macam dugaan.
"Mengapa harus berbelok ke hotel?" ucap Rania cepat dan menatap tajam kearah Tomi.
"Ini sudah malam dan kita akan menginap disini. Aku ingin bicara berdua dengan mu tanpa ada gangguan dari pihak manapun." ucap Tomi.
"Bukan berarti harus di hotel kan?" protes Rania.
Tomi terkekeh melihat sikap Rania. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh gadis mungil ini.
"Aku memang membawamu ke hotel, tapi bukan berarti kita harus tinggal satu kamar.Atau kau maunya kita satu kamar dan tidur satu ranjang, Hem.?" tanya tomi
Pipi Rania sontak memerah, menahan malu akibat ucapan vulgar Tomi.
Walau saat ini dia sedang marah, namun kalimat Tomi masuk kedalam hatinya.
Kembali Tomi terkekeh pelan. Kali ini kalimat yang diucapkan nya menohok keras di hati Rania.
"Bukankah kita sudah pernah tidur seranjang, mengapa kau harus malu. Apa kau lupa?" tanya Tomi menggoda.
Blush, pipi Rania kembali merona.
Tomi turun dan membuka pintu mobil Rania. Kemudian menariknya turun untuk mengikutinya masuk ke dalam hotel. Tomi memang menginap di hotel ini dan sudah dua malam dia menginap.
Rania melirik tangannya yang terus digenggam Tomi.
Setelah mendapatkan kunci kamarnya, Tomi menarik Rania untuk makan ke restoran yang terletak di lantai satu.
"Kita makan dulu, aku rasa kita butuh banyak energi sebelum membahas masalah kita nanti. Kau juga harus mencharge energi mu jika ingin berdebat dengan ku." ucap Tomi.
Tapi kali ini Rania menolak. "Tidak, aku tidak lapar. Sekarang cepat katakan, jangan membuang buang waktu lagi. Aku mau semua segera berakhir dan aku bisa segera pergi." ucap Rania.
Tomi menarik Rania menaiki lift dan naik kelantai paling atas. Tangannya tetap menggenggam tangan Rania.
"Cepat katakan,aku tidak punya banyak waktu." ucap Rania saat sudah sampai di rooftop hotel.
__ADS_1
"Aku hanya ingin menjelaskan apa yang sudah kau dengar. Ya, aku mengakuinya. Jika apa yang kau dengar itu semuanya benar, tapi itu dulu sebelum aku mengenalmu" ucap Tomi.
"Lalu untuk apa kau mengajak ku bertemu, hah! jika semua itu benar, aku tidak butuh lagi penjelasan mu." potong Rania cepat.
Wajahnya sudah memerah menahan air mata yang tampak menggenang di pelupuk matanya.
"Dengarkan aku, aku memang salah tapi itu dulu, sekarang aku sangat mencintai mu, aku tidak akan sanggup hidup tanpa ada dirimu, aku mencintaimu Rania, sangat." ucap Tomi lirih.
"Dulu aku memang merasa sakit hati saat tahu kau menolakku, dengan alasan aku gendut, tua dan botak. Sombong sekali dirimu yang berani menolak seorang pria tampan seperti ku. Apalagi kita belum pernah bertemu."
"Oleh karena itu aku mencarimu, tapi ternyata takdir mempertemukan kita, kau mencopet dompet ku, hingga dengan mudahnya aku bisa membalas mu. tapi takdir berkehendak lain, aku jatuh dalam perangkap ku sendiri."
Rania menunduk, bingung dengan semua penjelasan Tomi. Jelas jelas dia mendengar Tomi mengatakan itu semua. Dan hatinya masih sangat sakit, mengingat ucapan Tomi waktu itu.
Tomi menarik dagu Rania dan menatap tajam mata nya. Rania menyadari dari tatapan mata Tomi yang benar benar mencintai Rania.
"Baiklah, aku memaafkan mu, tapi bukan berarti aku mau menjadi kekasihmu. Aku sudah membenci mu. Aku menbenci mu.
" ucap Rania.
"Aku rasa semuanya sudah jelas, jadi lebih baik sekarang aku pergi." ucap Rania.
tubuh Tomi menegang mendengar ucapan Rania yang akan pergi meninggalkan nya.
"Kau mau kemana?" tanya Tomi dengan kening berkerut.
"Aku akan pulang, bukankah semuanya sudah jelas, dan sudah tidak ada yang dibicarakan. Aku sudah memaafkan mu. Aku pergi" ucap Rania yang sudah tak sanggup membendung air mata yang membasahi pipinya.
Tomi terkejut dengan sikap pasrah Rania. Ini sungguh bertolak belakang dengan perkiraan nya. Menurut nya Rania akan marah habis habisan dan tak mau memaafkannya, namun ini Rania menyerah pasrah pada takdir.
Tomi tidak akan membiarkan itu semua terjadi. Tomi mengejar Rania yang sudah melangkah menuju tangga untuk turun kelantai bawah.
Bersamaan dengan Rania yang melangkah menuruni tangga, Tomi juga menarik tangannya kuat. Rania yang tidak berpegangan merasa mengambang dan tidak sanggup menjaga keseimbangan tubuhnya, akhirnya jatuh terjerembak ke bawah.
Mata Tomi membola seketika. Ternyata tindakannya menghentikan Rania berujung pada kecelakaan yang mengakibatkan Rania terjatuh.
Tomi berlari menuruni tangga dan mencoba membangunkan Rania, namun Rania seperti enggan membuka matanya. dia pingsan dan darah mengalir di belakang kepala nya .
Bagaimana kisah selanjutnya????
Tunggu up nya besok pagi ya....
jangan lupa beri like, vote dan koin dan komen.
__ADS_1