Pencopet Cantik

Pencopet Cantik
Kena deh


__ADS_3

Rania kembali mengerjakan tugas yang diberikan kepada dirinya.


Sedikit merasa heran karena tidak biasanya tugasnya sebanyak itu. Rania mulai membolak balik berkas yang menumpuk diatas meja.


Loh ini kan tugas yang di kerjakan Juan kemaren, kenapa semua jadi di limpahkan padaku?


Rania terus memeriksa berkas lainnya yang kesemuanya bukan pekerjaannya.


Dengan tatapan protes Rania bangkit dan berjalan ke arah meja Juan, yang letaknya tak jauh dari meja Rania.


"Kak, kenapa semua pekerjaan mu ada di meja ku? apa kakak nggak salah." ucap Rania.


"Boss yang meminta aku meletakkan nya di meja mu. Aku juga bingung, apa kesalahan ku, hingga kau yang mengerjakan semua tugas ku. Sedangkan aku tidak diberikan tugas apapun. Apa mungkin boss akan memecat aku?" ucap Juan heran dan sedih.


"kakak tidak salah, aku rasa boss ingin mengerjaiku. Dia melimpah kan sekua Pekerjaan padaku. Tunggu disini aku akan menanyakan nya langsung." ucap Rania dan berlalu meninggalkan Juan yang masih sedih.


"Tidak usah Rania, boss memang sudah mengatakan jika dia akan memecat ku! Bagaimana nasib anak dan istriku?" ucap Juan sedih


Rania Tidka tega melihat Juan yang bersedih, dia berjalan menuju ruangan Tomi untuk menanyakannya.


Tok...tok...tok....


"Masuk" terdengar sahutan dari dalam.


Rania melangkah masuk, dengan langkah pasti. Berdiri tepat di hadapan Tomi. Dengan wajah sangar.


Tomi yang masih di sibukkan dengan laptopnya segera mengangkat kepalanya dan sedikit heran melihat Rania berdiri, diam di hadapannya. Sedikit mengerutkan keningnya baru kemudian tersenyum tipis.


Aku tahu kau kesini pasti ingin protes, bukan. Kau pasti marah karena semua pekerjaan aku limpahkan padamu. hehehe sepertinya kau sudah memakan umpan ku.


Eh...kenapa dia malah tersenyum, sialan...aku semakin yakin jika dia ingin mengerjai aku. Boss sinting. Maki Rania di dalam hatinya.


Tomi kembali mengubah ekspresi nya dan memasang wajah datar. "Ada apa?" tanya nya garang.


Nyali Rania tiba tiba hilang melihat sikap garang yang di tunjukkan Tomi. Rania terdiam dan bergelut dengan perasaannya sendiri.


"Jika Tidak ada hal yang penting yang akan kau bicarakan, lebih baik kau keluar? masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." ucap Tomi kembali menyadarkan lamunan Rania.


Rania kembali membulatkan tekadnya dan mengumpulkan keberaniannya.


"Saya kesini ingin bertanya, kenapa bapak melimpahkan semua tugas kepada saya?" tanya Rania akhirnya.


"Memangnya kenapa? terserah aku, aku Boss nya?" ucap Tomi angkuh.


Dasar boss angkuh, kalau bukan karena aku butuh pekerjaan ini, sudah aku tinju wajah sombong mu itu.


"Tapi pak, bagaimana dengan sekretaris Juan?" tanya Rania yang sukses membuat Tomi menghentikan pekerjaannya dan kembali fokus melihat Rania. Mengerutkan keningnya tanda berpikir keras.

__ADS_1


"Juan?" ulang Tomi.


"Iya Pak. Sekretaris Juan bersedih, dia bilang bapak akan memecatnya dan sudah melimpahkan semua tugas nya ke saya. Saya tidak mau orang lain kehilangan pekerjaan karen saya." ucap Rania.


Polos sekali dia, aku hanya ingin mengerjainya tapi kenapa dia berpikir Sampai sejauh itu. Dan dia memikirkan oranglain, padahal dirinya sendiri belum tentu selamat, benar benar lugu.


ehmmm... senyum tipis muncul di wajah Tomi. Namun dengan cepat dia mengubah ekspresi wajahnya.


"Benar, aku berencana memecat Juan." ucap Tomi memprovokasi Rania.


"Kenapa? Bukan kah selama ini dia bekerja dengan sangat baik." tanya Rania terkejut.


"Sudah ada dirimu sebagi sekretaris ku, jadi untuk apa aku harus membayar lebih dengan memperkejakan nya." ucap Tomi.


Benar dugaannya jika Rania pasti akan protes.


"Jangan, kasihan dia. Lebih baik bapak pecat saya saja. Saya lebih nyaman kerja sebagai OB dari pada jadi sekretaris bapak."


"Apa maksudmu?" ucap Tomi marah.


"Kau mau lari dari perjanjian itu. Ok, Aku akan membebaskan mu saat ini juga, Tapi kau harus mengembalikan uang ku plus dendanya sebesar dua puluh juta. Sekarang..." ucap Tomi.


Rania menelan ludahnya, bagaimana dia harus membayar nya, lagipula hutangnya kan hanya dua juta. Kenapa jadi dua puluh juta.


"Tapi pak??"


" Tidak ada tapi tapian.... Sekarang kau pilih yang mana!" Ancam Tomi.


Senyum kemenangan muncul di wajah Tomi. Langkahnya tinggal beberapa pijakan lagi dan dia akan berhasil.


"Aku akan tetap memperkerjakan Sekretaris Juan, dengan satu syarat...." Tomi sengaja menggantung kalimatnya. Menatap tajam ke arah Rania. Membuat Rania menjadi takut.


"Kau harus mau menjadi kekasih ku." ucap Tomi.


Rania membulatkan matanya tak percaya, mendengar apa yang di ucapkan Tomi. Dia memandang lekat wajah pria aneh di hadapannya ini.


permintaan apa ini. Aku kabur dari rumah karena tidak mau di jodohkan dengan orang yang tidak aku cintai dan ini, Bos sinting ini memaksa aku menjadi kekasihnya. Sama aja dengan Papa. Bagaimana ini, jika aku tidak mau, kasihan sekretaris Juan, kehilangan pekerjaannya, tapi jika aku mau....a....aku jadi pacar singa galak ini.


Oh..tuhan...Dosa apa yang aku lakukan hingga berada di situasi sulit seperti ini.


Bathin Rania dan mengeleng gelengkan kepalanya.


"Cepat jawab, aku tidak punya banyak waktu." ucap Tomi.


Rania masih diam, bingung harus menjawab apa.


"Ok, diam mu berarti kau menolak dan aku akan memecat sekretaris Juan sekarang."

__ADS_1


"Tunggu" Ucap Rania.


"A...aku bersedia menjadi kekasih bapak, asal bapak tidak memecat sekretaris Juan."


"Apa kau yakin??" ucap Tomi Menatap Rania tajam..


"Yakin." jawab Rania.


"Aku tidak perlu janji, aku perlu bukti. Cium aku jika kau benar mau menjadi kekasihku." ucap Tomi,


Rania menelan ludahnya kasar.


Permintaan apa lagi ini. Menciumnya yang benar saja. Yang kemaren saja sudah membuatku tak bisa tidur. Lalu ini, aku yang harus menciumnya, bagaimana ini, dasar boss sialan. lihatlah gaya nya,. 😡


"Baiklah diam mu berarti kau Tidak bersunguh sungguh ingin jadi kekasihku. Sekarang keluar dan panggilan Juan kesini. Dan aku juga akan memecat mu, karena telah berani menolak ku. Segera keluar dan kembalikan uangku dalam waktu satu hari."


Rania semakin kecut mendengar ucapan Tomi. Dia harus mengembalikan uang sebanyak itu, dari mana dia mendapatkan nya. Jika dia meminjam kepada salah satu temannya sudah pasti nanti temannya akan memberitahukan Papa nya dimana dia berada. Dan dia terpaksa pulang ke rumah.


Rania menggelengkan kepala nya sendiri. Tidak, dia tidak mau pulang.


Rania mendongak dan kaget melihat Tomi sudah berdiri di sampingnya menyandarkan tubuhnya pada meja kerjanya.


Rania menarik nafas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian dan bergerak maju untuk mencium Tomi.


Ayo Rania kamu pasti bisa, hanya cium di pipi. Tidak masalah.


Cup.. Rania mencium pipi Tomi.


Tomi menatapnya.. "ulang!" ucap Tomi.


Rania menatap tajam sebagi tanda dia protes.


"Aku mau kau mencium ku di sini!" ucap Tomi menunjuk bibirnya.


Rania kembali membulatkan matanya


Dasar sialan....bagaimana ini...a..aku harus menciumnya..tidak tidak....bathin Rania.


Rania kembali memajukan wajahnya perlahan dan penuh rasa ragu..


"Tutup matamu" ucap Tomi semakin mengintimidasi nya.


Rania menutup matanya dan tiba tiba Cup.. Tomi mencium bibirnya. Hanya kecupan karena Rania langsung membuka matanya dan mendorong Tomi.


Tomi tertawa melihat wajah Rania yang memerah, menahan marah dan malu.


Rania berlari keluar ruangan Tomi.

__ADS_1


Mamie akan sangat senang jika banyak yang like and vote. Terima kasih.



__ADS_2