
Rania dan Tomi sudah Kemabli ke apartemen mereka. Kini tiada lagi kecanggungan diantara keduanya.
Hari sudah menjelang malam. Rania dan Tomi bersiap untuk pulang ke rumah orangtua Rania.
"Malam ma, Pa." sapa Rania memasuki rumah orangtuanya.
"Malam sayang." ucap mamanya. Menyambut hangat anak dan menantu nya.
"Silahkan duduk, nak Tomi. Sayang buatkan minum untuk suami mu." ucapnya pelan.
Rania ke dapur membuat teh untuk papa nya dan juga Tomi. Mamanya menyusul setelah ber-basa basi dengan Tomi.
Tomi duduk berdua dengan mertuanya. Sedikit canggung namun sudah tak setakut dulu. Kini Tomi dapat ngobrol santai dengan papa Rania.
"Dimana kalian akan tinggal?" tanya papa Rania disela obrolan mereka.
"Untuk sementara kami akan tinggal di alam ku saja pa. Sebelum mendapatkan rumah yang sesuai dengan keinginan Nia. Lagipula kami hanya berdua, lebih praktis jika tinggal di apartemen saja." jawab Tomi.
"Tapi alangkah baiknya jika kalian segera membeli rumah." ucapnya lagi.
"Pasti pa." jawabnya
"Papa sudah membeli rumah di daerah Depok, yang tidak jauh dari kantor mu dan juga dekat dari sini. Papa belinitu untuknhadiah pernikahan kalian. Semoga kalian suka?" ucap pak Hutomo.
Tomi diam, bingung harus bicara apa. Senang tapi juga malu karena mertuanya lebih dulu memikirkan tempat tinggal nya.
Melihat Tomi diam, pak Hutomo kembali berucap. "Aku tahu kau mampu membeli rumah sendiri, bahkan mungkin yang lebih mahal dari rumah yang papa belikan. Tapi apakah salah seorang ayah memberi hadiah pernikahan kepada anak dan menantunya?" ucap pak Hutomo.
Tomi terkejut, pak Hutomo mampu membaca pikirannya.
"Bukan begitu, Pa. Papa jangan marah dulu. Tomi nggak bilang Tomi menolak, tapi Tomi kaget papa sudah menyiapkan semuanya. Terima kasih pa." ucap Tomi.
"Tak perlu berterima kasih. Papa sudah senang jika kau menjaga dan menyayangi anak papa. Seperti yang papa bilang, Rania itu anak papa satu satunya, tolong jaga dia dan sayangi dia. Jangan menyakiti hatinya." ucapnya lagi.
"Tomi janji oa, akan menyayangi Rania dengan sepenuh hati dan akan menjaga nya dengan segenap jiwa dan ragaku." ucap Tomi mantap.
"Terima kasih." jawab pak Hutomo berkaca kaca.
Rania yang mendengar ucapan papa nya, ikut berkaca kaca. Dia masuk membawa nampan berisi air minum.
"Papa..." ucapnya memeluk erat papanya. Setelah meletakkan minuman yang dia bawa diatas meja.
Rania menangis haru dipelukan papanya. "apa kau tidak malu, bertingkah seperti ini di depan suami mu?" tanya pak Hutomo.
Tomi tersenyum, sementara Rania menggeleng dan masih memeluk erat papa nya.
Malam ini mereka menginap di rumah orangtua Rania.
Tiga hari berlalu, Tomi sudah masuk kantor. Kembali menjalani aktivitas nya seperti biasa.
"Halo, ya dit?" jawab Tomi setelah mengangkat telponnya yang berdering.
"Bisa datang ke kantor ku?" ucapnya.
"Ok, Setelah jam makan siang, siang ini aku janji makan siang dengan istri ku." ucapnya.
"Baiklah, aku tunggu. Kalau tidak keberatan ajak Rania sekalian, aku juga sedang bersama Alya." jawab Radit.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kita makan siang bareng?" ucap Tomi.
"Boleh juga. di Kafe x ya." ucap Tomi.
"Ok, Tunggu aku."
Tut.....panggilan terputus.
Diliriknya jam menunjukkan pukul sebelas tiga puluh, Tomi mengambil kunci dan hendak keluar menjemput istrinya.
"Mau kemana, yang??" tanya Rania melihat Tomi bersiap siap.
"Oh, sayang. Aku baru mau menjemput mu. karena kau sudah disini, duduk lah dulu.aku rasa kita punya waktu setengah jam lagi sebelum berangkat." uca Tomi menaik turunkan alisnya.
"Maksudnya?" tanya Rania heran.
Tanpa menjawab Tomi berjalan mengunci pintu ruangannya. mengangkat Rania dan menggendongnya,bawanya masuk kedalam ruang pribadinya yang terdapat di dalam ruangan tersebut. Membaringkan istrinya dan mengurungnya dibawahnya. Tanpa bicara Tomi sudah mulai menciumi istrinya memebeikan rangsangan agar istrinya terbuai. Rania mengalungkan tangannya di leher suaminya dan mulai membalas ciuman Tomi. Hingga akhirnya penyatuan cinta berakhir dengan indah.
"Sayang...buruan. kita dah telat nih" ucap Rania menunggu Tomi yang bersiap siap.
"Iya...ini.juga dah selesai sayang, kenapa kamu buru buru sekali."
"Nggak enak ma kak Alya dan kak Radit. Kamu sih...." ucap Rania manyun
"Kok aku sih yang. Kamu tuh yang selalu menggoda ku, hingga aku pengen lagi dan lagi." ucap Tomi tersenyum nakal.
"Ya udah ayo cepat." ucap Rania marah.
"Ayo...jangan marah donk yang, kalau marah tambah cantik." ucap Tomi merayu istri nya.
Di kafe rrafit dan Alya sudah menunggu. Tomi masuk dan bergabung dengan mereka.
"Maaf ya kak, kami terlambat." ucap Rania merasa bersalah.
"Tidak apa apa." jawab Alya.
"Aku paham, namanya juga oenagntin baru, ya kan yang." ucap Radit menyindir.
Alya tertawa mendengar.ucapan Radit, sementara Rania tersipu malu, wajah memerah mendengarnya.
"Tak usah malu, mereka juga dulu gitu yang." ucap Tomi pada Rania, yang mendapat jitakan dari Radit.
"Aku tidak seperti dirimu," jawabnya.
"Oh ya, aku mengundang kalian kesini ingin memberikan hadiah atas pernikahan kalian. Semoga suka." ucap Alya menyerahkan sebuah amplop.
"Apa ini?" tanya Rania bingung.
"Bukalah." ucap Tomi.
Rania membukanya dan dianbersorak bahagia. " Tiket honeymoon yang, keliling Eropa." ucapnya antusias.
"Kau serius dit? tanya Tomi.
Radit mengangguk.
"Thanks bro, ini terlalu mahal. Sekali lagi terima kasih."
__ADS_1
"Tidak masalah, kau adalah sahabat ku, dan tidak ada yang lebih mahal dari sebuah persahabatan." jawab Radit.
Tomi terharu dan mereka berdua berpelukan....
...****************...
Dua bulan berlalu,
Pagi ini Rania merasa sangat tidak enak badan. Sebenar nya sejak kemaren dia merasa pusing dan mual. Namun pagi ini mualnya terasa sangat parah.
Tomi sudah keluar dari kamar mandi, dilihatnya Rania masih meringkuk diranjang.
"Yang, kok belum bangun kamu sakit?" ucapnya khawatir.
"Aku merasa pusing dan mual." jawab Rania.
"kita ke dokter ya, takutnya kamu terkena sakait yang serius." ucap Tomi kembali.
Dia mengambil sweater untuk Rania dan bersiap membawanya ke dokter. Baru beberapa langkah berjalan, mual di perutnya memaksa untuk segera di muntahkan. Rania berlari ke westafel yang ada di kamar mandi.
Namun tidak ada Yangs ia muntahkan hanya cairan bening. Sejak semalam Rania tidak makan karena tidak berselera makan.
Tomi menggendongnya dan membawanya ke dokter.
"Bagaimana dokter, sakit apa istri saya?" tanya Tomi khawatir.
Rania sudah menjalani pemeriksaan sejak tadi, bahkan dokter juga meminta sampel air seni nya. Dan ini membuat Tomi berpikiran macam macam.
Dokter Sasa tersenyum. "Istri anda tidak sakit tuan, istri anda saat ini sedang hamil." jawab dokter Sasa.
"Ha hamil?" ucap Rania dan Tomi bersamaan.
"Ya hamil, mungkin baru tiga empat Minggu usianya. Untuk lebih eyakinkan lagi, Anda bisa melakukan USG." ucap dokter Sasa.
"Sayang, kamu hamil" ucap Tomi senang.
"Terima kasih sayang. .."
"Aku akan jadi ibu, " jawab Rania terharu.
Tomi dan Rania sangat bahagia, Dan meraka dengan sabar akan merawat janinnya hingga nanti akan mereka lahir.
Tomi dan Rania akan ke rumah mamanya untuk memberitahukan kabar bahagia ini.
Sampai ketemu lagi..
Singgah juga di cerita baru mamie yang akan rilis hari ini dengan judul.
...Istriku Keponakan ku...
Ceritanya Bram jatuh cinta pada keponakan nya sendiri. Bram pengusaha muda yang mapan. Namun diusianya yang sudah menginjak tiga puluh tiga tahun dia belum juga memiliki istri. Bram seorang playboy yang setiap saat bergonta ganti wanita.
Entah apa yang merasukinya, hingga dia tertarik dan jatuh hati kepada keponakannya sendiri Vira yang dia panggil yome.
Mau tau kisahnya. ikutin ya....
__ADS_1