
wanita tua tersebut memperkenalkan dirinya bernama Sumini. Dia tinggal di kota kecil tidak jauh dari stasiun.
Bu Sumini atau biasa di panggil dengan Buk Sum, adalah pemilik rumah makan yang terkenal di daerah ini. Nama rumah makannya juga sama dengan namanya. "Warung Nasi Bik Sumi" akan tetapi semua orang memanggilnya Bik Sum.
Bik Sum, tinggal di rumah bersama dengan para pekerja nya yang berjumlah delapan orang. Dia hidup sendiri karena anak dan cucunya tinggal di kota.
"Masuklah, Tini akan mengantarkan mu ke kamar." ucap Bu sum kraeah Rania.
Tin," panggil Bik Sum.
"malam ini kau akan tidur dengan Rania." ucap bik Sum selanjutnya.
"Baik, Bik." jawab Tini.
"Mari Rania, ikut saya." ucapnya ke arah Rania.
Rania mengikuti Tini masuk kedalam kamar. Di dalam kamar Rania melihat sekelilingnya. Ada tempat tidur besar,dan juga lemari.
"Kamu bisa memasukkan pakaian mu di dalam lemari itu." ucap Tini kembali menyadarkan Rania.
"Eh...iya. Aku Rania...'' ucap Rania megulurkan tangannya.
"Namaku Tini." jawab Tini.
"Dimana kamar mandi nya?" tanya Rania.
"Ada di belakang. Jalan terus dan di ujung kamu bisa belok ke kanan. Kamar mandi ada disana." ucap Tini.
Rania membuka ranselnya. Mengambil bajunya dan keluar kamar menuju ke kamar mandi.
Setelah menyelesaikan mandinya, Rania kembali ke kamarnya dan naik ke tempat tidur.
__ADS_1
Dilihatnya tinonsudah tertidur lelap. Rania coba memejamkan matanya, namun bayangan wajah Tomi tiba tiba hadir.
Baru kemarin malam dia dan Tomi berbagi tempat tidur yang sama. Berbagi cerita cinta dan masa depan mereka berdua. Tapi ini dalam satu malam semuanya telah berubah. Sirna dengan rasa getir dan kecewa yang teramat sangat menusuk hati.
Titik bening yang coba dia bendung sejak tadi mengalir tanpa permisi.
...****************...
Di apartemen nya Tomi terlihat sangat kusut. Dia duduk termenung, menyesali semua perbuatannya.
Kemeja yang dia gunakan sudah kusut dan lusuh karena sejak pagi dia belum juga mandi dan menggantinya. Wajahnya muram, matanya berkantung hitam dan sayu. Satu malaman ini Tomi tidak bisa tidur, memikirkan Rania yang belum juga ada kabar beritanya.
Ponselnya berdering, membuat Tomi tersadar dari lamunannya.
Dilihatnya dilayar nama sang Papa yang menelponnya.
Tomi mengangkatnya, namun dia diam tak menyapa.
"Ya, Pa." jawab Tomi akhirnya namun terdengar malas.
"Papa menelpon ku untuk menagih janji mu kepada Papa. Siang ini bawa gadis yang kau cintai ke hadapan papa. Jika tidak, kau harus menikah dengan gadis pilihan Papa sesuai dengan kesepakatan kita." ucap pak Rahmad .
"Ya, Pa. Tomi akan datang." Ucap Tomi.
"Papa tunggu siang ini di kantor Papa. Jangan sampai terlambat." ucap pak rahmad mengakhiri telponnya.
"Bagaimana, Apa yang di katakan Tomi?" Tanya pak Hutomo ntidka sabar.
"Dia mengatakan akan membawa kekasihnya siang ini juga. Anak itu sungguh tak pandai berbohong." ucap pak Rahmad tersenyum.
"Maksud mu, dia terlihat sangat sedih kehilangan putri ku?" ucap Pak Hutomo.
__ADS_1
" Ya, seperti yang kita tahu selama ini ternyata mereka memang saling mencintai, tapi akibat kebodohan Tomi dan keegoisan Rania maka akhirnya mereka berdua terpisah." ucap pak Rahmad.
"Aku berpikir sebaiknya kita memikirkan ulang perjodohan ini. Aku rasa kita salah karena telah memaksa kan kehendak.kita pada mereka." Ucap pak Hutomo.
Menarik nafas panjang dan menghembuskan ya dalam. Kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Sebaiknya kita batalkan saja rencana perjodohan ini. Jika takdir mempertemukan mereka kembali mungkin mereka memang berjodoh, tapi jika tidak. Sebaiknya kau mencari gadis lain yang cocok untuk putra mu." ucap pak Hutomo lagi dengan suara berat.
"Aku rasa juga begitu. Maafkan aku," ucap pak Rahmad.
" Aku permisi dulu, aku akan menelpon mu jika sudah mendapatkan informasi terkini tentang putri ku." ucap Hutomo.
Pak Hutomo melangkah keluar dari kantor pak Rahmad. Saat keluar dari lift tak sengaja dia bertemu dengan Tomi, yang berdiri menunggu lift terbuka.
Merka saling tatap. Namun amarah dan kebencian tampak jelas di wajah pak Hutomo. Menjadikan suasana menjadi canggung dan
"Siang Om,, " Sapa Tomi ramah.
Pak Hutomo hanya membuang muka tanpa berniat menjawab ucapan Tomi. Dengan langkah angkuh dia berjalan meninggalkan Tomi sendiri dengan penuh tanda tanya.
Tomi menaiki lift menuju ruangan Papa nya.
Tadi begitu Papanya selesai menelponnya, Tomi langsung bergegas mandi dan memakai pakaiannya. Dan berjalan keluar ke kantor sang Papa.
Kali ini Tomi benar benar kacau dan terlihat frustasi. Rania telah membawa kabur harapan dan cintanya. Hidupnya terasa hampa dan kosong.
Tomi menyusuri lorong panjang hingga sampai di ruangan Papanya.
" Siang, Pa " sapa Tomi begitu memasuki ruangan. Merebahkan diri di sofa hingga bersandar.
"Ada apa, Pa?" tanya nya.lagi
__ADS_1
"Bagaimana dengan perjanjian kita. Mana gadis yang akan kau kenalkan mepada Papa?" tanya pak Rahmad to the point.