
Mobil Tomi memasuki pekarangan rumah dannberhenti tepat di teras. Tomi turun dan memberikan kunci mobilnya kepada pengawal yang berdiri disana. Melangkah memasuki rumah orangtuanya.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah dua malam saat dia tiba. Seorang pelayan membuka kan pintu dan Tomi masuk kedalam. Berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Baru beberapa anak tangga terdengar jelas suara seseorang yang memanggil namanya.
"Tomi..." panggil seorang pria yang tak lain adalah papanya.
"Malam, Pa." sapa Tomi melihat papa nya yang sedang memanggil namanya.
"Kenapa kau pulang selarut ini?" tanya pak Rahmad heran. Tak biasanya dia pulang larut, biasanya dia lebih memilih pulang ke apartemen nya.
"Aku sudah sangat ngantuk. Besok saja aku ceritakan, Pa." ucap Tomi.
Tanpa menunggu papa nya menjawab, Tomi kembali berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.
Pak Rahmad hanya geleng kepala dibuatnya. Dia tidak marah, didalam hatinya dia merasa senang, anaknya mau pulang kerumah. Besok saja aku tanya, kelihatannya dia juga sangat lelah. bathinnya.
Tomi masuk dan membuka sepatu dan dasinya. Kemudian dia berbaring di tempat tidur. Rasa kantuk mulai menyerangnya. Perlahan matanya tertutup rapat tanpa menunggu lama.
semburat merah dan cahaya yang menembus tirai masuk dan menyinari wajah Tomi. Perlahan dia.mulai bergerak dan mengucek matanya, coba mengembalikan kesadarannya.
Beberapa saat kemudian Tomi duduk di tepi tempat tidur. Kesadaran nya sudah kembali sepenuhnya, diliriknya jam. Pukul enam.tiga puluh lima. Tomi segera bangkit danenuju kamar mandi. Mandi dan segera bersiap. Dengan cepat memakai pakaian dan dasinya. Senyum muncul dibibirnya saat terbayang wajah cantik Rania.
Tomi sendiri masih tak percaya, akhirnya dia bisa memenangkan hati pak Hutomo calon mertuanya.
Sedikit bersiul sambil menyisisr rambutnya.
Berulangkali wajahnya mengulas senyum sendiri. Menunjukkan betapa bahagia nya hatinya saat ini.
Dengan langkah pasti dan wajah ceria, Tomi berjalan menuruni tangga. Ibunya terkejut, karena dia tidak tahu jika Tomi berada di rumah.
"Pagi, Ma,Pa." spaa Tomi dan mencium.pipi mamanya.
__ADS_1
"Pagi sayang, kapan kamu sampai? Kok mama nggak tahu?" tanya bu Rahmad.
"Tadi malam, Ma" jawab Tomi.
Bu Rahmad mengambilkan roti dan segelas susu untuk Tomi.
"Makasih ma." ucap Tomi
"Pa, Ada yang ingin Tomi bicarakan berdua dengan Papa." ucap Tomi serius.
"Katakan saja, tak perlu sungkan." ucap pak Rahmad.
"Begini Pa. Tomi berencana ingin melamar rania.minghu depan." ucap Tomi lantang.
Bu Rahmad sampai tersedak mendengarnya. Pasalnya dia tidak mengetahui jika selama ini Tomi dan Rania berpacaran, Apalagi.hingga berencana mau menikah. Bukankah dulu dia menolak perjodohan mereka? bathin Mamanya.
"Mama kenapa? tanya Tomi khawatir.
"Ya ma dulu aku emang nolaknya, tapi takdir telah mempertemukan kami, tanpa kami tahu jika sebenarnya kami sama sama lari ketika kami di jodohkan.
Waktu itu Tomi nggak sengaja nyelamatin rania.yang hampir di lecehkan. Kemudian beberapa hari.berikutnya, Tomi bertemu.lagi dengannya karena dia bekerja di perusaahan kita sebagai OB. Dan ternyata sejak pertemuan itu kami saling jatuh cinta. Hingga sekarang kami.berencana menikah" ucap Tomi bangga.
"Bukankah kau yang memaksanya.najdi pacar bohongan mu!" ucap pak Hutomo telak. Tomi terdiam mendengar ucapan papanya.
"Itukan dulu, pa. Sekarang Tomi mencintai Rania." ucapnya tegas.
"Apa Rania juga mencintai mu?" tanya pak Rahmad .
Tomi menghembuskan nafas panjang sebelum kembali berucap.
"Pa, Rania sudah mengingat semuanya
Ternyata dia pura pura amnesia, Rania hanya ingin menguji ketulusan Tomi, tapi sebenarnya Rania juga mencintai Tomi" Ucap Tomi bangga.
__ADS_1
"Dan tadi malam Tomi sudah melamarnya kepada papanya." ucap tomi tenang.
Giliran pak Rahmad dan istrinya yang dibuat kaget.
"Kau sudah melamarnya?" tanya Bu Rahmad yang tak dapat menutupi keterkejutannya.
"Ya", jawab Tomi dengan bangga.
"Dan lamaran ku diterima." ucapnya sombong.
Beda dengan bu Rahmad, pak Rahmat justru sangat terkejut. Bagaimana Hutomo sudah menyetujuinya tanpa bicara dulu dengan ku. Lihatlah betapa sombongnya anak ini. bathin pak Rahmad.
"Lalu bagaimana kau meyakinkan Rania
Apa kau kembali memaksanya?" tanya pak Rahmad dengan tatapan curiga.
"Tidak pa. Tomi tidak serendah.itu." ucap Tomi kesal.
"Papa tak perlu mengingatkan mu, apa yang sudah kau lakukan untuk mendapatkannya. Papa tidak menyangka anaka papa bisa senekat itu." ucap pak Rahmad, kalimat kali ini menusuk ke dalam hati Tomi.
Tomi sendiri heran, bagaiamana papa nya bisa tahu semua yang dia lakukan dengan Rania.
"Apa papa memata matai aku?' tanya nya akhirnya.
"Aku hanya ingin memastikan kau memilih gadis yang tepat. Dan papa bangga, kau bisa menaklukkan Rania sekaligus Hutomo. Aku tau Hutomo sangat protektif jika menyangkut anak semata wayangnya. Papa bangga padamu." ucap pak Rahmad tersenyum.
Tomi bernafas lega.
"Ma, Kau persiapkan semuanya, Aku akan menghubungi Hutomo untuk tanggal pastinya. Dan aku akan mengadakan acara lamaran yang mewah. Aku bangga padamu, nak." ucapnya lagi.
Tomi tersenyum bahagia. Akhirnya beberapa langkah lagi, dia akan resmi menjadi suami Rania.
Tomi berangkat lebih dulu ke kantor. Wajahnya cerah, senyum selalu menghiasai wajah tampannya. Membuat siapa pun yang melihatnya meleleh. Bahkan beberapa karyawan heran, karena tak pernah melihat Tomi seperti ini.
__ADS_1