
Rania berlari keluar kantor dan berakhir duduk di taman. Akhirnya air mata yang dia tahan sejak tadi jatuh juga. Kata kata Tomi sangat menyakiti hati nya. Entahlah kenapa dia menjadi marah dan kesal.
Tuduhan Tomi tidak berdasar, dan dia bukanlah anak nakal yang suka keluyuran malam dan Hura Hura di club. Dia anak rumahan yang manja dan berpacaran pun dia belum pernah.
Dulu Rania pernah menyukai teman satu sekolahnya, namun Mama dan Papa nya selalu mengingatkan dia, jika sekolah nomor satu dan dia tidak boleh berpacaran sebelum duduk di bangku kuliah. Dan Rania mengikuti saran orangtuanya.
Apalagi dulu sahabatnya Kita sering galau dan nangis karena putus cinta. Membuat Rania yakin bahwa jatuh cinta hanya akan mengganggu sekolahnya. Hingga dia memendam perasaan nya Sampai lulus sekolah. Dan sampai saat ini Rania tidak pernah bertemu dengannya.
Lamuna Rania buyar saat seseorang memanggilnya.
" Rania, Kamu sedang apa disini?" tanya Dimas.
Dengan cepat Rania menghapus sisa airmatanya.
"A...aku tidak ngapa ngapain, kak. Kok kakak ada disini?" tanya Rania.
"Ini sudah waktunya makan siang. Aku akan makan di luar dan melihat mu duduk melamun disini. jadi aku datang menghampirimu. Sudah makan siang?" tanya Dimas.
"Belum, tapi aku lagi nggak laper." jawab Rania. Benar dia tidak merasa lapar. Mood nya benar benar rusak setelah mendengar ucapan Tomi tadi.
__ADS_1
"Ayo kamu.harus makan. Jika tidak, nanti kamu akan sakit. Dan aku tidak mau kalau kamu sampai sakit." ucap Dimas.
"Maaf kak, tapi aku tidak lapar. Kakak makan saja duluan." jawab Rania.
Dimas menyerah dan berlalu dari hadapan Rania. Rania melanjutkan melamun nya.
Jam makan siang sudah berakhir dan kini Rania sudah duduk di meja kerjanya.
Tomi belum juga kembali ke kantor, hingga Rania sedikit bersantai.
Dimas masuk ke ruangannya membawa makan di tangannya.
Rania tersenyum dan menerima makanan yang di bawa oleh Dimas.
"Terima kasih kak, nanti akan aku makan jika aku sudah merasa lapar." jawab Rania.
"Jangan Sampai kau melewatkan makan siang mu. Karena nanti kau kan terkena sakit maag. Ok. Aku kembali ke ruangan ku. Jika kau memiliki masalah kau bisa membagi nya dengan ku. Aku siap kapan kau butuh teman. " ucap Dimas berjalan keluar dari ruangan Rania.
Di depan pintu tanpa sengaja Dimas hampir menabrak Tomi yang akan masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
"Maaf, Pak!" Ucap Dimas sambil menunduk hormat. Setelah itu berjalan menjauh meninggalkan Tomi.
Apa yang di lakukan Dimas di ruangan ku ??? Apa benar mereka berdua pacaran????
Tomi masuk dan duduk di kursinya. Masih enggan mengeluarkan suaranya.
Sesekali Tomi melirik ke arah Rania.. Wajahnya masih terlihat sedih. Dan apa itu, dia menangis. Apa ucapan Ku tadi yang membuatnya menangis? ah, mana mungkin buktinya dia malah ngobrol dengan Dimas.
Itu pasti makan yang dibawa oleh cecunguk tadi. Ehm... modus sekali dia. Apa tidak ada cara lain mendekati cewek yang lebih keren dan menarik, bukan dengan cara murahan seperti itu. Dan gadis ini sok jual.mahal denagn ku.
"Kau sudah makan siang?" tanya Tomi ke arah Rania. Rania diam membisu, malas menjawab pertanyaan Tomi yang tak perlu di jawab.
"Ayo" ucap Tomi berdiri.
"Rania juga berdiri mengikuti langkah Tomi dari belakang. Masuk ke dalam mobil dan Tomi melajukan dengan kencang. Tak satupun yang memulai pembicaraan. Mereka memilih diam. Dan Rania membiarkan Tomi begitu saja.
Tomi juga diam, karena bingung harus bicara apa.
Mobil yang mereka kendarai berbelok ke sebuah kafe yang cukup ramai. Tomi masuk dan mengikuti langkah pelayan yang mengantar mereka ke sebuah ruangan. Ruang VIP yang sudah di pesan oleh Tomi. Dia ingin makan siang berdua tanpa ada gangguan dari mana pun.
__ADS_1