
Rania menolak saat Mark mengajak nya masuk kembali ke dalam gedung.
"Maaf, Mr. Tapi saya ingin sendiri. Di dalam pengap dan berisik. Saya butuh waktu untuk sendiri dan menenangkan hati saya." ucap Rania.
"Kamu kenapa, Rania?" tanya Mark heran.
"I'm Okay. Tapi aku memang lagi ingin sendiri. Sorry..." ucap Rania dan mengatupkan kedua tangannya memohon maaf.
Dengan terpaksa Mark berjalan meninggalkannya sendiri.
Rania masih duduk melamun di taman. Tomi yang sejak tadi bersembunyi pun akhirnya keluar.
Awalnya dia ingin langsung menemui Rania, tapi dia urungkan saat di lihatnya Alena menghina Rania dan Rania hanya diam saja. Hati Tomi ikut sakit mendengar ucapan Alena.
Ingin dia berlari dan segera memeluk Rania. Kembali niat itu dia urungkan karena Mark ada disana.
Amarah, kesal dan cemburu menguasainya. Namun kemudian Tomi tersenyum saat Rania menolak halus tawaran Mark. Dia menjadi yakin jika Rania juga menyukainya.
Hati Tomi menghangat melihat sikap Rania yang tegas. Tidak tergoda dengan Mark yang kaya raya. Dan dia black blakan menolaknya.
Dengan langkah lambat dia berjalan menghampiri Rania. Berdiri tepat dibelakangnya.
Rania yang melamun tidak menyadari kehadiran Tomi. Rania merasa sedih, marah dan kesal melihat Tomi berpelukan dengan wanita lain di depan matanya.
Tomi memeluk Rania dari belakang. Membuat Rania terkejut, bayangan peristiwa pemerkosaan kembali muncul membuatnya dengan cepat berontak dan mulai berteriak.
"To....long..." ucapnya yang langsung di hentikan oleh Tomi.
Tomi membekap mulutnya dan berbisik.
"Ini aku Tomi. Diam, nanti orang mengira jika aku seorang penjahat." Ucapnya pelan.
"Lepaskan......cepat lepaskan aku." Rania meronta. Dia kembali merasa kesal.
" Biarkan seperti ini sebentar saja," ucap Tomi yang masih memeluk Rania dari belakang dan meletakkan kepalanya di ceruk leher Rania.
"Kau bisa memeluk kekasihmu, jadi lepaskan aku." ucap Rania yang sukses membuat Tomi menjadi kesal. Namun kemudian dia menarik sudut bibirnya dan semakin mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Apa kau cemburu, nyonya Tomi?" tanya Tomi yang semakin membuat Rania marah.
"Lepaskan aku, lepas....." Rania terus saja meronta. Namun tak berarti apa apa bagi Tomi, dia tetap memeluk Rania erat.
Setelah lelah meronta, Rania akhirnya pasrah dan diam. Airmatanya jatuh tanpa bisan dia bendung lagi.
Tomi merasa heran, dan Segera membalik tubuh Rania agar menghadap kepadanya.
"Katakan apa yang membuatmu menangis?" Apakah karena Alena??" tanya Tomi.
Rania menggeleng, dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Mengapa dia merasa marah dan kesal saat Tomi bersama dengan wanita lain, dan kini dia merasa sakit hati karena merasa Tomi hanya mempermainkannya.
Tomi yang masih bingung, berusaha menenangkan gadis yang dia cintai ini. Dia menarik Rania ke dalam pelukannya.
Tiba tiba Rania mendorongnya dan berlari. Ucapan Mark dan penghinaan Alena kembali terngiang. Benar yang mereka katakan, jika Tomi tidak mungkin menjadi kekasihnya, dia hanya mempermainkan hatinya. Dan itu sakit... Rania yakin dia telah jatuh hati pada Tomi, boss galak nya itu.
Rania terus berlari, menuju hotel dan mengemasi barang barangnya. Dia memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Dia tidak mau bertemu dengan Tomi, setidaknya sampai hatinya merasa tenang.
Tomi tidak mengejar Rania, menurutnya Rania masih butuh waktu untuk berpikir.
Tomi kembali kedalam gedung dan tak lama kemudian acara di tutup.
Tomi mengendarai mobilnya dengan sangat kencang menuju bandara, dimana kekasih hatinya berada.
Rania sudah memutuskan akan kembali ke Jakarta malam ini. Dan mungkin dia akan kembali ke rumah orangtuanya.
Dia akan meninggalkan aku?? tidak, aku tidak akan mengijinkannya. Dia harus bertanggung jawab karena telah mengobrak abrik hatiku. bathin Tomi.
Dalam waktu tidak kurang dari delapan belas menit Tomi telah tiba di bandara. Berkeliling berlari mencari dimana Rania berada. Anak buahnya juga sudah berpencar mencari Rania.
Beberapa kali Tomi menabrak orang yang berpapasan dengannya.
Dari jauh dilihatnya seorang wanita duduk bersandar di kursi tunggu keberangkatan. Tomi berlari mendekat, dan ternyata benar dugaanya, gadis itu adalah Rania, gadis kecil yang keras kepala dan mencoba lari darinya.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Tomi.
Aku seperti mendengar suaranya, tapi mana mungkin boss galak itu ada disini.
__ADS_1
Rania diam dan tak menoleh. Dia hanya fokus melihat game di ponselnya
"Rania azkia," panggil Tomi keras.
Seketika Rania mendongak dan matanya membulat sempurna saat mengetahui jika yang ada dihadapannya ini adalah Tomi.
Apa yang dia lakukan disini,?? kenapa dia menyusul aku kesini???? berbagai pertanyaan muncul di kepalanya.
"Rania, ayo pulang!" ucap Tomi mencoba meraih tangan Rania dan mengajaknya kembali ke hotel.
Rania menarik tangannya. " tidak mau?" ucap Rania tegas.
Dia sudah membulatkan hatinya untuk menjauhi Tomi sebelum cintanya semakin dalam dan dia semakin sakit hati.
"Kau tidak bisa menolak, ingat perjanjian kita?" ucap Tomi mengancam.
"Aku akan membayarnya saat nanti aku kembali ke rumah orangtua ku. Kau tenang saja aku tidak akan lari." jawab Rania.
Kali ini Tomi yang merasa terkejut.
Rania akan pulang, berarti dia akan meninggalkan ku, bagaimana bisa dia melakukan itu setelah aku membuka hatiku untuknya. Tanpa aku sadari, Kehadirannya memberi warna baru dalam hidup ku. Dan kini Rania akan pergi setelah mengobrak abrik habis perasaan ku? tidak aku tidak akan membiarkan ini terjadi. bathin Tomi.
Dengan cepat Tomi menarik tangan Rania dan akan membawanya pulang ke hotel. Rania meronta dan memukul lengan Tomi sambil berteriak minta di lepaskan.
Kini semua mata tertuju padanya. Petugas keamanan datang dan ingin meminta Tomi melepaskan Rania. Karena menggangu ketertiban dan membuat onar. Tapi langkah mereka terhenti melihat anak buah Tomi yang berbaris di sekitar mereka.
"Jangan kasar, nak. Lepaskan gadis itu, apa yang akan kau lakukan padanya?" ucap seorang wanita paruh baya yang merasa kasihan terhadap Rania yang terus meronta.
Tomi berhenti dan menoleh kearah wanita tersebut. "Maaf Bu, istri saya sedang ngambek dan berniat kabur dari rumah. Jadi saya akan membawanya pulang ke rumah." jawab Tomi enteng.
Wanita itu tampak manggut manggut. "Jangan seperti ini nak, Masalah rumah tangga bisa diselesaikan dengan kepala dingin, jangan main kabur kaburan, kasihan suami mu dan lihat kalian jadi tontonan." ucap wanita itu kembali.
Rania tersadar dan melihat sekeliling, semua mata tertuju padanya. Dia terdiam tak berani lagi melawan karena merasa malu sudah jadi tontonan.
Tomi melirik anak buahnya. Dan dengan cepat mereka membubarkan orang orang yang ada disekitar nya.
"pastikan jika ini tidak terliput oleh media." ucap Tomi.
__ADS_1
Dan kembali menarik Rania dengan cepat. Rania sampai terseok Seok mengikutinya langkahnya yang panjang.