
Mbak-mbak penjaga gerai diam, begitupun Rayyan dan Alfindra. Madel sibuk mengurus pembayaran, meminta pelayan lain membungkus dress yang ditunjuk oleh Alfindra tadi.
"Merah, putih, peach, dan..." Madel menghitung-hitung setelah selesai barulah dia menghampiri Alfindra yang masih beradu mata dengan Rayyan di depan.
"Beres, Tuan!" lapor Madel diangguki Alfin.
"Awas kamu, awas saja kalau ketemu lagi," ketus Alfindra bersikap seolah-olah Rayyan adalah musuh bebuyutannya.
"Aku menantikannya, Tuan kaya nan arogan. Selain itu aku juga menantikan jandanya Almira. Jangan lupa, kalau aku punya bukti kamu selingkuh," ucap Rayyan menghentikan langkah Alfindra.
Alfindra berbalik dan menarik krah Rayyan spontan membuat beberapa disana memandang mereka.
"Tuan, lebih baik kita segera kembali ke hotel."
Madel berusaha melerai dengan mengajak Alfindra pergi dari sana.
Alfindra masih menahan emosi, tak terima dengan ucapan Rayyan meski entah ia sendiri tak tahu pasti perasaannya pada Almira.
"Enak saja, mau menunggu janda istriku. Mati saja!" gerutu Alfindra.
Madel malah tertawa, "Tuan, tahan emosimu."
"Siapa yang emosi? Aku hanya tidak terima. Laki-laki itu, si Rayyan Rayyan itu pasti yang sudah mengirim fotoku dengan Salma di caffe, pasti dia yang memata-mataiku, mengira aku selingkuh dari Almira!"
"Mungkin Tuan, tapi anda perlu tahu satu hal... Kalau Pak Rayyan itu pemilik caffe-caffe viral di sekitaran kantor kita. Orang tuanya juga penguasa bisnis Bandung, mungkin dia kesini untuk ikut perjamuan juga."
"Artinya Almira akan bertemu dengannya nanti?"
"Ya, Tuan!" jawab Madel.
"Ck!" Alfindra berdecak pelan, mengusap wajahnya. Tanpa sadar sudah melewati beberapa gerai.
"Jass itu senada dengan dress nona Almira, Tuan!" tunjuk Madel.
"Terserah kau saja, aku akan menunggu di mobil."
Madel mengangguk, Alfindra lantas membawa paperbag yang ada di tangan Madel dan memilih turun ke lantai dasar.
Lagi-lagi ia bertemu dengan Rayyan. Laki-laki itu tersenyum menatap Alfindra. Namun, bukan senyum ramahnya melainkan sebuah senyum ejekan.
"Bertemu lagi? Calon duda," kelakarnya membuat Alfindra melotot tajam.
"Kau yang bujang lapuk! Setidaknya sebelum menduda, aku sudah puas hidup bersama Almira."
"Kau... Sia lan!" maki Rayyan dibalas senyum miring Alfindra.
Beberapa menit kemudian, Madel datang memutus perdebatan mereka.
Alfindra dan Madel kembali ke hotel, sementara Rayyan berdecak pelan. Ia sudah berusaha membuka kebusukan suami Almira, tapi kenapa sampai sekarang tak membuahkan apapun. Mungkin juga, karena ia tak bersungguh-sungguh mengejar Almira.
Sampai di hotel, Almira masih tertidur membuat Alfindra yang emosi seketika mereda karena melihat wajah bantal istrinya.
__ADS_1
"Almira..." Alfindra menggoyangkan bahunya pelan berharap istrinya bangun.
"Al, kebakaran kebakaran," seru Alfindra di telinga membuat Almira berjingkat karena terkejut.
"Mana... Mana kebakaran!"
Hahhahahhahaha..
Alfindra terbahak, bahkan emosi yang tadi menguasai diri berangsur hilang. Lenyap terpikat oleh pesona Almira yang kebingungan, polos-polos nyenengin.
Alfindra menyodorkan paperbag ke hadapan Almira.
"Semuanya, Mas? Aku kira tadi mas mau ngajak aku belanjanya," keluh Almira.
"Kamu tidur aja kaya kebo, gak bangun-bangun! Kamu coba, tapi warna merah hanya boleh dipakai di hadapanku," seru Alfin sukses membuat Almira melongo di tempat.
"Ya ampun, bagus banget!" Almira bersorak saat mendapati dress navy.
"Lho kok..." Alfindra bingung. Tapi sejurus kemudian tahu kalau yang berhasil mendapatkan dress di mall tadi adalah Madel assistennya.
***
Sore berganti malam, sedari satu jam tadi Almira duduk di depan cermin mempersiapkan diri. Ia bahkan sampai rela menahan lapar demi bersiap menemani Alfindra ke perjamuan. Entah, beberapa hari ini nafsu makannya menghilang. Mungkin karena efek banyak fikiran.
"Sudah belum?" tanya Alfindra seraya melirik jam di pergelangan tangannya.
"Belum, baru juga pakai foundation," jawab Almira. Beruntung ia sering dandan saat Qtime bersama Caca. Meski tak sepintar make up para artis.
Almira menggeleng.
"Ya sudah makan di perjamuan saja, bebas sesukamu!" Alfindra memijat pelipis. Sebenarnya kepalanya dua hari ini agak pusing, akan tetapi ia tahan.
Almira menyapukan tipis bedak, memakai pensil alis meski tak sampai diukir atau dicetak, atau digaris-garis, tak lupa sapuan maskara dan lipstick berwarna kalem.
Selesai bersiap, Almira meraih cluch kemudian memasukkan ponsel dan dompet.
"Yuk, Mas?" ajak Almira membuat Alfindra mematung seketika.
"Ehm, sebentar!" bangkit dan merapikan jassnya lantas menghampiri Almira dan meminta istrinya itu mengalungkan tangan di lengannya.
Madel menyambut mereka di depan kamar hotel lantas berjalan beriringan menuju parkiran. Tentu saja Madel memilih di belakang sebagai pengawas sepasang pasutri itu.
"Jauh nggak, Mas? Kira-kira sampai malem nggak ya?" Almira menoleh ke arah Alfindra yang sedang membukakan pintu mobil. Madel sudah stay di depan merangkap jadi sopir.
"Mungkin! Santai saja, nanti jangan jauh-jauh dari aku atau Madel soalnya mama sama papa juga ada disana."
Glekkk...
Almira sudah menduganya, akan tetapi ia berusaha tenang dan tersenyum manis. Tugasnya hanya menemani Alfindra, sisanya biar sang suami yang mengurusnya.
Mobil mereka melaju ke hotel Emeral B. Hotel terbesar milik salah satu kolega Alfindra.
__ADS_1
"Kok ke hotel lagi sih, Mas? Emang jamuan pesen kamar hotel?" tanya Almira dengan polosnya.
"Bukan, sudah kamu nurut saja!" mereka terus berjalan, bahkan memasuki lift hingga sampai di ballroom tempat acara.
"Wah!" gumam Almira.
Alfindra mengajaknya masuk dan menyapa si empi acara bersama Madel. Kedatangan mereka disambut hangat Peter dan istrinya lalu mempersilahkan masuk menikmati jamuan.
"Keren ya, Mas?" gumam Almira lagi. Meski polos dan baru pertama kali menghadiri acara seperti ini, ia tak sampai jelalatan dan membuat malu Alfindra.
Semua orang memandang mereka dengan takjub, ada juga yang menyapa Alfindra langsung bahkan berterus terang menanyakan siapa sosok Almira.
"Fin!" panggil Dominic.
"Pa," sapa singkat Alfindra. Dominic memeluk putranya, sementara Silvia dengan muka masam sama sekali tak menghampiri putranya. Memilih menunggu dikejauhan.
"Gimana kabarmu, kenapa tak pernah pulang? Anak nakal," seru Dominic lagi membuat Alfindra hanya meringis karena tangan kekar papanya yang memeluk lehernya erat.
"Baik, Pa. Kenalkan ini Almira," balas Alfindra. Almira mengulurkan tangannya sopan, tanpa terduga Dominic menyambutnya dengan ramah bahkan tak segan untuk membalas salim takzim Almira.
"Wah wah, siapa ini? Kekasihmu kah Tuan Alfindra?" tanya salah seorang kolega.
"Hya, Pak!" angguk Alfindra.
"Cocok sekali, saya tunggu kabar baiknya Tuan!"
"Haha, kami sudah menikah!" aku Alfindra membuat semua yang disana tercengang.
Almira sudah keringat dingin berada disana, sementara Dominic hanya mengangkat tipis bibirnya sebagai ekspresi.
"Wohla benarkah Tuan Dominic?" tanya mereka ingin memastikan langsung pada papanya Alfindra.
"Ya, begitulah. Masih dalam perencanaan resepsi," kelakar Dominic.
Silvia diam-diam mendengarkan pembicaraan itu, tangannya mengepal kala melihat sendiri suaminya tak keberataan saat mendengar kabar Alfindra menikah.
"Mereka bohong!" sahut Silvia.
"Wanita yang bersama Alfindra hanyalah koleksinya saja. Sebenarnya, ehm kami sendiri juga tidak tahu kalau Alfindra menikah. Bukankah itu bisa disebut kalau wanita ini simpanan?" Silvia melirik sinis Almira dan sudah berdiri di samping Dominic.
"Mah!" tegur Dominic agar istrinya tak membuat ulah. Silvia hanya mendekus kesal.
"Lho kok bisa...?"
"Permisi..." Alfindra menarik Almira menjauh dari kedua orang tuanya.
"Omongan orang tuaku jangan dimasukin hati. Kamu tunggu sini sebentar, makan! Aku akan bicara sebentar dengan mereka," pinta Alfindra.
"Aku yang harusnya minta maaf, mas. Maaf membuatmu kerepotan," lirih Almira.
Alfindra menggeleng, mengusap lengan Almira lalu pergi menemui Dominic.
__ADS_1