
Sekertaris baru yang dimaksud Madel rupanya gadis yang sopan. Sangat jauh dari pikiran Alfindra yang was-was kalau Madel asal menerima orang tanpa melihat atitude, penampilan, skill dan yang utama bukan wanita ganjen seperti di novel-novel.
"Mari Tuan," seru Madel membukakan pintu mobil untuk Alfindra. Sementara Maya langsung masuk ke mobil bagian belakang. Sempat mencuri tatap Alfindra dan Madel dari kaca depan, Maya bersyukur langsung diterima kerja di era gempuran teman-teman menikah.
"Siapa namamu?" tanya Alfindra menatap belakang dari kaca spion.
"Maya, Pak!"
"Ouhhh, sebelumnya kerja dimana?"
Glekkk...
Maya terdiam, ia bahkan tak memiliki pengalaman kerja di perusahaan manapun. Hanya saja ia sering membantu kekasihnya mengurus pekerjaan.
"Ehm, ini pertama kalinya saya bekerja, Pak!" aku Maya. Selama ini, ia hanya membantu Leon mengurus pekerjaannya. Karena tak ingin terus merepotkan sang kekasih, ia memilih melamar di perusahaan lain.
Bagi Maya memang begitu, karena kerja bersama Leon pun tak seperti bekerja serius.
"Tapi skill Maya ini bagus lho," seru Madel yang sudah tahu kinerja Maya.
"Bapak bisa aja," senyum Maya pada Madel.
Sampailah mereka di caffe yang akan Alfindra gunakan untuk bertemu klien. Matanya mendelik kala mengingat tempat ini, tempat yang sama dirinya bertemu Salma dan Rayyan. Jangan sampai laki-laki itu cepu pada istrinya.
"Memang tidak ada caffe lain yang bisa kamu reservasi, Del," Keluh Alfindra memijat hidung.
"Loh kenapa memang, Pak? Caffe ini terkenal bagus lho selain terkenal enak bersih juga nyaman untuk kegiatan apapun," seru Maya tanpa sadar.
Madel hanya tersenyum melihat celotehan Maya, kalau saja gadis itu tak memiliki kekasih, mungkin akan Madel jadikan kandidat pertama calon istri.
"Nona Alina mintanya di caffe ini, Tuan!" seru Madel menginformasi.
Benar saja baru duduk, Alfindra bahkan baru mau buka suara tapi ia melihat Rayyan masuk dengan wajah sok-sok di mata Alfindra, sok ganteng dan sok cool.
__ADS_1
"Dih gantengan saya kemana-mana," gumam Alfin tanpa sadar.
"Gimana Pak?" tanya Maya kepo.
"Sutttt, kamu diam. Pak boss lagi sensian kalau masuk caffe ini," bisik Madel. Tak berselang lama, seorang gadis datang dengan napas terengah seperti habis di kejar maling. Alina sempat mengibaskan rambut panjangnya sebelum duduk, kemudian menyalami Alfindra, Madel dan Maya bergantian.
"I'm sorry saya terlambat. Tadi ada masalah ugren yang harus diselesaikan," seru Alina menjelaskan, Alfin dan Madel mengangguk makhlum. Namun, tidak dengan Maya ia mengerjapkan matanya beberapa kali menatap Alina sambil berfikir keras.
"Tidak masalah Nona Alina, kita tidak buru-buru. Lagi pula, baru duduk beberapa detik lebih lama bukan berarti Nona Alina terlambat bukan," kelakar Madel.
Alina mengangguk saja, CEO Wijaya Grup memang secuek itu.
Madel membiarkan mereka memesan minum, baru memulai meeting. Selanjutnya terjadi kesepakatan kerja sama antara Kingdom dengan Wijaya Grup.
***
"Kita anter Maya dulu, sekalian jalan bukan! Nona Alina tadi sendiri?" tanya Alfindra.
Alina mengangguk, "sendiri, ah Maya bareng kakak saja," seru Alina membuat Maya seketika teringat siapa wanita yang saat ini aea di hadapannya.
"Iya, udah ayo bareng aku," ajak Alina pada Maya. Ia tahu Maya adalah teman Devano dan Keyra jadi tak ada salahnya memberi tumpangan pada gadis imut itu.
"Jadi mereka saling kenal," seru Madel tanpa sadar.
Pukkk....
"Bingung kan mau pilih mana? Tapi Maya tadi ada bilang punya kekasih, pilihannya tinggal Nona Alina. Aku pribadi gak yakin wanita mandiri, berkelas, modis dan CEO itu masih single." Alfindra melengos meninggalkan Madel yang masih termaya-maya.
Belum juga mengambil mobil, wajah Alfindra kembali dibuat masam berpapasan dengan Rayyan. Laki-laki itu sedang menggandeng wanita lain, tapi...
"Eh si Caca kan, yang waktu itu ngasih ide pas main di mansion," batin Alfindra. Meski baru pertama kali melihat wajah Caca secara langsung, Alfin sudah bisa menebak kalau gadis itu adalah Caca, ia pernah mengamatinya lewat kamera cctv saat mupengin Almira.
Alfindra menyeringai, sepertinya ia punya ide membalas Rayyan hari ini.
__ADS_1
Dengan percaya diri, mendekat ke arah Rayyan dan Caca.
"Caaaa..." panggilnya iseng. Caca pun menoleh, Alfindra rasa rencananya akan berhasil.
"Ehm, siapa ya?" Caca mengerutkan alisnya merasa seperti familiar tapi otaknya lagi buntu tak sanggup mengingat apapun.
"Saya Alfindra, suami---"
"Suaminya Almira," potong Rayyan membuat Alfindra mendelik sinis menatapnya.
"Iya saya suaminya Almira," jawabnya agar lebih menyakinkan.
"Mau pergi ya, sayang sekali. Sibuk dong," kelakar Alfin SKSD. Sok kenal sok deket, iye.
"Kami mau pergi." Bukan Caca, melainkan Rayyan yang menjawab.
"Wah, Ca. Padahal saya mau ngajak kamu ke apartemen, kebetulan saya sama asisten mau langsung pulang. Almira nyidam Ca, pengen ketemu kamu katanya. Makanya saya meeting disini dengan harapan bisa ketemu kamu," jelasnya panjang lebar.
"Wahhh, ge lo si Mira nih gak kabar-kabar, kalau gitu beneran aku teh boleh ikut? Kangen juga sama Almira," seru Caca semangat.
"Tapi Ca, kita kan mau,---"
"Duh mas, ini Almira lho. Bestie terbaik aku lagi nyidam, next time aja yaaa," izin Caca mode puppy eyes. Mau tak mau, dengan terpaksa Rayyan mengangguk.
Alfin bersorak dalam hati meledek Rayyan, lalu mengajak Caca ke mobilnya dan pulang. Senang sekali membuat wajah Rayyan merah emosi, Alfindra merasa ini hanya balas dendam kecilnya, sekarang Alfin tahu kelemahan si Rayyan Rayyan itu.
"Aku ikut," protes Rayyan.
"Gak gak, no! Almira masih trauma lihat wajah kamu," tambah Alfindra membuat Caca membulat.
"Trauma?" tanyanya lirih diangguki Alfindra.
"Ceritanya panjang, Ca!" jawabnya.
__ADS_1
Madel hanya menggeleng melihat tingkah Tuannya, meski begitu ia tetap menuruti Alfindra mengantarnya kembali ke apartemen bersama Caca untuk bertemu sang istri.