PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab - 75


__ADS_3

Melihat Arsa dan Ayara mulai bosan berada di ruangan yang terbatas, Alfin pun mengajak Arsa dan Ayara ke time zone untuk mengeksplor lebih banyak mainan.


"Dahhh mmah, ain dulu ya?" pamit Ayara dengan mode puppy eyesnya membuat Almira yang sedang creambath tak kuasa menahan tawa.


"Kacian mama tinggal," keluh Arsa.


"Main dulu sama Papa dan Om sana, nanti mama nyusul," seru Almira. Lega, saat melihat dua anak kembarnya tak rewel dalam asuhan Alfindra tanpanya.


"Bye mama, have fun!" goda Alfin mengedipkan mata, "terima kasihnya nanti malam," sambungnya membuat Almira melipat bibir pura-pura cemberut.


"Sudah ku duga, pasti ada maunya," batin Almira menatap suami, anak-anaknya dan Bambang yang mulai menjauh.


Satu jam lebih Almira habiskan di salon. Saat Rita menawari lebih banyak perawatan kulit, Almira menggeleng senyum.


"Next time aja, Tan. Nggak enak ninggalin anak-anak meskipun ada papanya," ujar Almira. Dibandingkan perawatan lama di salon, tapi pikirannya jalan-jalan penuh berisik anak-anak dan kepikiran. Lebih baik Almira melakukan perawatan pentingnya saja, rambut dan wajah.


Tubuh wanita dua anak itu sudah lebih segar, tanpa menghubungi Alfindra, ia lebih memilih langsung menyusul ke area time zone dimana mereka bermain.


"Mas?" panggil Almira,


Yang dipanggil hanya senyum sekilas lalu memberi kode agar mendekat, "sini."


Almira menghela napas, kenapa dadanya terasa terbakar saat melihat ada wanita lain yang ikut mengasuh anak-anaknya. Dan wanita itu sangat akrab dengan Alfindra.


"Siapa?" tanya Almira melirik wanita yang tiba-tiba ikut bergabung dengan Arsa dan Ayara.


"Astaga, lupa aku. Dia Bianca, calon pengganti Madel."


"Calon pengganti Madel?" tanya Almira mengerjap, tak mengerti.

__ADS_1


Alfin memintanya mendekat, Bi, titip anak-anak bentar boleh?" tanyanya.


Bianca mengangguk, "maaf, Bu. Aku nggak sengaja melihat Pak Alfin disini jadi sekalian sapa," jelas Bianca semakin membuat Almira tak nyaman.


"Bi? Atau Beee?" batin Almira merutuk, kenapa suaminya terlihat manis sekali pada wanita yang katanya masih calon pengganti Madel?


Alfin menuntun istrinya ke kursi area sepi, tapi masih bisa mengawasi anak-anaknya dari jauh. Meski ada Bambang dan Bia disana, tentu suami istri itu tak tenang meninggalkan Arsa dan Ayara di tangan orang lain.


"Madel mau menikah, sayang. Jadi, beberapa hari yang lalu aku memintanya mencari pengganti. Dan Bianca cukup pintar menghandle pekerjaan Madel," aku Alfindra.


"Menikah, tapi kenapa harus wanita, Mas?" tanya Almira. Menelisik wajah Bianca dari jauh, dia wanita cantik, muda, energik dan Almira nggak mau uring-uringan di rumah karena asisten suaminya wanita.


"Aku nggak bisa menolak apa yang direkomendasikan oleh Madel, sayang. Dan ini darurat," ujar Alfindra lalu meraih tangan istrinya.


"Jangan cemburu, walau cemburu itu tandanya kamu cinta banget sama aku," sambungnya membuat Almira melipat bibir menahan kesal.


"Yaudah, sekarang kita lanjut jalan-jalan aja, ya?" ajak Alfin.


Almira terpaksa mengangguk, ia tak ingin merusak momen keluarga kecilnya dengan rasa cemburu. Setidaknya demi anak-anak ia akan berusaha menahan cemburunya.


"Arsa, Ayara. Makan, yuk?" ajak Almira lalu merentangkan tangannya.


"Hollleeee," ucap dua bayi kembar itu menghambur dalam pelukan Almira.


"Kamu mau gabung juga, Bi?" tawar Alfindra. Merasa tak enak sebab gadis itu sudah sedari tadi turut mengawasi si kembar.


"Boleh dari pada aku sendiri, Pak Alfin." Senyum, Bianca melempar senyum sok manisnya membuat Almira muak.


"Cari perhatian ke laki orang, dasar!" rutuknya dalam hati.

__ADS_1


Alfin menggendong Arsa, karena Ayara lagi mode nempel banget dengan Almira. Mereka berjalan ke area food court yang ada di lantai atas. Sementara Bianca mengekor bersama Bambang.


Almira tak banyak bicara, rasanya kesal setengah mati saat melihat Bianca terus-terusan mencuri pandang ke arah Alfindra. Ia menatap Bambang seolah minta pertolongan lewat sorot mata.


"Ehm, kamu beneran ke mall sendiri tadi?" tanya Bambang.


Bisa dilihat ekspresi Bianca langsung berubah, "ya, sendiri."


"Jarang sekali ada wanita apalagi masih gadis mendatangi mall sendiri," sindir Bambang, seolah tahu jikalau wanita di sampingnya ini memang memiliki maksud terselubung.


"Aku hanya jenuh," aku Bianca.


Saat mereka mencari duduk di foodcourt, Bambang menarik Bianca agar tak gabung dengan Tuannya.


"Kita duduk disini, jangan ganggu mereka," lirih Bambang membuat Bianca ingin buka suara tapi kembali urung saat tempat duduk mereka, terisi penuh karena Arsa dan Ayara duduk sendiri.


"Kamu lihat kan mereka, keluarga sebahagia itu masih aja ada orang yang punya niat nggak baik," tunjuk Bambang ke arah Almira dan Alfindra.


Sementara Bianca, hanya memutar bola matanya meski sedikit merasa tersindir oleh ucapan laki-laki di depannya ini.


***


"Tuan, ini Bianca. Dia temanku kuliah dulu, kebetulan lagi butuh banget kerjaan."


"Tapi, Del. Nggak langsung jadi assisten juga," tolak Bianca kala itu.


"Iyya, assisten tetep dihandel aku. Tapi, otak cerdas kamu itu sayang banget kalau dianggurin."


Dan melihat Madel begitu memuji kepintaran Bianca pun membuat Alfindra akhirnya setuju menjadikannya assisten meski masih dalam tahap calon pengganti.

__ADS_1


__ADS_2