PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
41. Banyak tingkah


__ADS_3

"Almira," bisik Alfindra. Belum puas meluapkan rindunya. Alfindra memeluk sang istri yang sedang berkutat di dapur memasak.


"Mas, aku lagi masak. Katanya mau makan," keluh Almira merasa sang suami banyak tingkah hari ini. Memeluknya terus menerus, juga sedikit manja.


"Makan kamu, aku mau makan kamu dulu!" bujuknya mengedipkan mata. Terbiasa melihat Alfindra yang dingin, tegas dan kaku mendadak genit membuat Almira ge li sendiri melihat tingkahnya.


"Mas ih..." Almira melotot tak percaya.


"Mau coba di dapur," bisiknya setelah Almira menyelesaikan acara masak.


Almira membalikkan badan dan merangkulkan tangannya, "aku masih bau, belum mandi."


"Kalau begitu biar aku yang memandikanmu hari ini." tanpa ba bi bu, Alfin membopong tubuh Almira dan membawanya masuk ke dalam kamar.


"Mas, shhhh..." Alfindra menciumi wajah Almira dan terhenti di bibir semerah cerry, kemudian melu matnya pelan.


Definisi mandi yang tak benar-benar mandi, suami Almira itu hari ini banyak tingkah. Menggempurnya di bathub tak cukup membuatnya puas. Percintaan mereka berpindah di kamar, Alfindra benar-benar meluapkan rindunya pada Almira yang tertahan seminggu ini. Ternyata sikap egois itu menyesatkan? Benar-benar sesat, padahal kalau dia mau lebih awal tak akan menderita selama ini, untung si junior tak lupa tempatnya berpulang.


"Mas..." Almira membelai wajah Alfindra yang hanya berjarak beberapa centi darinya. Hembusan hangat napasnya bahkan terasa, momen seperti ini sejujurnya yang Almira harapkan. Namun, masih ada satu hal yang mengganjal di hati Almira, tentang restu dan mantan kekasih Mas Alfindra.


"Hm, mau lagi?" jawabnya mengerling.


"Ishhh... Capek Mas, badan aku remuk semua," keluh Almira. Terang saja, beberapa ronde mereka lewati dengan bercinta. Padahal jam sedang panas-panasnya.


"Ayo makan, aku mendadak lapar!" ajak Alfindra. Masih mengenakan pakaian santai, menggandeng Almira keluar kamar untuk makan siang. Perset*n dengan Madel yang ia tinggalkan sendiri mengurus pekerjaan.


Hari ini, Alfindra ingin bermanja-manja seharian dengan Almira. Seminggu ini, Alfindra berhasil membuat Silvia anteng hingga dirinya bisa dengan mudah menyelidiki Zion dan Salma yang sedang ehm di luar sana tanpa harus membuat Silvia mengganggu Almira.


"Soal mama gimana, mas? Aku masih belum bisa tenang kalau mama kamu masih benci aku," keluh Almira.


"Aman, sebentar lagi pertunjukan akan dimulai. Kamu percaya kan sama aku?"


"Hm, agak percaya sih." Almira membuka piring, mengambil nasi dan lauk yang ia masak tadi.

__ADS_1


"Mau disuapin nggak?" tawarnya diangguki antusias oleh Alfindra. "Kangen," selorohnya membuat Almira tersenyum menggeleng.


"Ada-ada aja mas sayang," lirih Almira.


"Coba ulang?"


"Mas ish..." Almira mengerucutkan bibir. Mulai menyuapkan makanan ke mulut suaminya, Alfindra makan dengan sangat lahap seperti habis tak makan sehari lebih.


"Mas laper banget emang?" tanya Almira keheranan. Selain banyak tingkah, makan Alfindra juga terlihat berbeda dari biasanya, lebih lahap.


"Lumayan, lama nggak makan masakan kamu. Apalagi disuapin gini," aku Alfindra jujur.


"Dih, ngerayu ya? Kaya gitu sok mau diemin aku," cibir Almira sepaket bibir menekuk.


Cup...


Kecupan singkat Alfindra daratkan di bibir manyun Almira membuat wanita itu seketika semakin bersemu merah. Hari ini, Alfindra ingin menebus kesalahannya.


"Mama yakin mau jodohin mereka, Alfindra kan sudah punya wanita lain, Ma!" bujuk Dominic. Ia berada di pihak Alfindra, terpaksa ikut bersandiwara demi membuka dan menyadarkan mata Silvia kalau yang dilakukannya itu bukanlah hal yang benar.


"Yakin, pa. Lagian Alfindra pulang ke rumah itu artinya dia setuju dengan pilihan mama. Mama mau Salma menjadi menantu keluarga kita," seru Silvia antusias.


Zion yang tak sengaja mendengar itu menjadi muram, ia menaiki tangga tanpa menyapa kedua orang tuanya.


"Gimana liburan kamu, Zi?" tanya Dominic menghentikan langkah putra sulungnya.


"B aja, Pa." Jawab Zion lesu. Ia capek, ditambah mendengar Salma akan datang demi makan malam bersama Alfindra membuat lubuk hatinya paling dalam merasa tersakiti.


"Ya sudah, kamu mandi. Bentar lagi turun makan malam," ujar Dominic.


"Alfindra datang?" tanya Zion diangguki Dominic.


"Datang!"

__ADS_1


***


Alfindra meraih wajah Almira dan mendaratkan kecupan singkat di kening, pipi lalu berpindah ke bibir. Mungkin jika tak akan menghadiri makan malam, ia akan mencium sang istri sampai bawah.


"Aku tinggal dulu, aku pastikan rencanaku berjalan dengan baik," pamit Alfindra.


Almira mengangguk meski berat, "tapi aku takut, Mas. Aku takut kamu tar diracuni, terus dijebak dan ya... Kamu tahu arah fikiranku kan?"


"Jadi sekarang kamu merasakan juga takut itu."


Takkk...


Alfindra menjitak kening Almira hingga membuatnya mengaduh sakit, "aku masih belum menghukummu karena Si Rayyan Rayyan itu."


"Hm, aku juga masih belum menghukummu mas. Aku juga akan menghukummu habis ini," balas Almira. Mengantar Alfindra sampai depan pintu apartemen, ia berpesan pada Madel untuk menjaga dengan baik suaminya.


Alfindra dan Madel menuju kediaman Dominic. Sampai disana, Salma lebih dulu datang dan membantu Silvia bersiap.


"Fin," sapanya dengan senyum sumringah.


"Hm." Alfindra hanya berdehem, ia mencari keberadaan Dominic.


"Gimana, Fin?" tanya Dominic menyambut.


"Aman, Pa. Meski harus mengorbankan bang Zion, aku rasa itu akan cukup menampar mama. Tapi..."


Zion mendelik sinis saat Alfindra melirik ke arahnya, "apa? Bukankah dari dulu citraku sudah buruk. Lakukan saja, lagi pula hanya di depan mama foto telan jangku itu kamu peralat," desis Zion lalu menyulut rokoknya.


"Minum dulu." Dominic menyodorkan sebotol wine ke arah Alfindra.


"Demi kesejahteraan bersama, bang."


"Asal kamu kenalkan istrimu padaku, aku tak keberatan!" canda Zion, ia memang tertarik dengan Almira akan tetapi mendengar kisah sang adik justru membuatnya prihatin.

__ADS_1


__ADS_2