
Padahal Almira sedang hamil, tapi kenapa malah dirinya yang sekarang menggebu-gebu. Padahal ingin sekali menolak, tapi malah tangannya terangkat mengalung mesra di leher sang suami. Tak ingin menyiakan kesempatan, tentu dengan senang hati Alfindra melakukannya. Bukan karena rasa nafsu ingin dilayani yang membuncah, tapi melihat Almira polosan dengan perut membuncit membuatnya tak lagi bisa menahan diri untuk tidak gemas. Lebih tepatnya, gemas, sayang, terpesona, campur-campur.
"You're so sexy," bisik Alfindra pelan.
Almira hanya tersenyum manis, lalu membiarkan bibir coklat itu menyapu lembut setiap inci kulitnya.
"Sebentar..." bisik Alfindra menurunkan wajah, disingkapnya kain tipis penutup perut sang istri, lalu mengusapnya pelan.
"Mas," desis Almira pelan merasakan sensasi geli, lucu, juga terharu.
"Hai jagoan mama papa, lagi apa di dalam?" bisik Alfindra.
"Iya-iya Papa juga kangen," bisik Alfindra lagi membuat Almira yang mendengarnya terkekeh pelan. Tak terasa matanya berkaca-kaca melihat sang suami begitu mendambakan dirinya dan calon anak-anak mereka. Ahhh bukankah ini sangat menyenangkan, bayangan buruk pertama kali berstatus sebagai istri sudah hilang.
Almira berbesar hati menerima Alfindra, memakhlumi salah-salahnya dulu dan semakin hari semakin membuat Almira sadar bahwa sebenarnya Alfindra adalah pria yang baik, suami yang pengertian meskipun memiliki gengsi segunung. Ya, satu sikap sang suami yang membuat Almira gemas dan kesal adalah gengsinya. Entah dengan Hana, papanya, Bang Wildan bahkan jika itu mama mertua dan Bang Zion.
Lamunannya kembali buyar saat Alfindra tiba-tiba sudah menyerang bibirnya.
"Mas, kaget aku!" dumel Almira setelah ciuman singkat itu terhenti.
Alfin mengelus kepalanya sayang, membelai pipi lalu menatap mata sang istri lekat, "mikirin apa? Sampai melamun?" tanyanya yang sekarang tingkat kepekaannya tinggi.
"Mikirin kamu hehehe, kamu ganteng Mas!" Almira mengedip-ngedipkan matanya, hal itu semakin membuat Alfin semangat.
Dilepasnya kain penutup terakhir, perut buncit itu semakin membuat Alfindra tergila-gila.
"Makin gede kok makin seksi ya, yang!" puji Alfindra tak henti-hentinya tersenyum. Tangannya sudah bergerak menyusuri setiap inci kulit Almira, hal yang wajib ia lakukan sebelum bercinta adalah memanjakan istrinya lebih dulu.
__ADS_1
"Dihhhh, modus nih calon bapak."
"Enggak kok yang, aku mulai ya," bisiknya lembut dibalas anggukan antusias oleh sang istri.
Malam panjang yang mengesankan bagi Almira karena semakin perutnya membesar, semakin lembut dan terlihat hati-hati sang suami memanjakannya. Hingga, keduanya lelah dan memejam bergelung selimut masih dengan tubuh sama polos.
***
"Gimana, Dok? Kelihatan nggak cowok ceweknya?" tanya Alfindra. Setengah mati ia penasaran dengan calon buah hatinya, akan tetapi dibalas senyum oleh dokter obgyn itu.
"Udah deh, Yang. Ntar juga tau cowok apa ceweknya," kekeh Almira.
"Hasil pemeriksaan semua bagus ya, sekarang udah kelihatan. Kembar cowok cewek, Bu! Kalau boleh tau mau metode lahiran apa? Apa mau operasi saja mengingat Ibu hamil anak kembar?" tawar sang dokter.
Almira menggeleng, "kalau bisa normal, saya pilih normal, Dok. Biar suami bisa ikut menyaksikan!"
"Wah cowok cewek ya, Dok? Memang bibit unggul sih," seru Alfindra tersenyum puas.
"Lancar dok, apalagi kalau ditemenin suami hehehe," ujar Almira terkekeh.
Alfin meringis mendengar perkataan sang istri, "pasti aku temenin kok. Tapi boleh kan ajak mama?"
"Cuma satu orang yang mendampingi, Yang!"
"Iya, biasanya begitu Pak. Kalau sudah keluar baru boleh dibesuk sama-sama," ujar dokter.
Alfin hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "oke, aku berani kok!" akunya jumawa.
__ADS_1
Pulang dari rumah sakit, mereka mampir ke rumah orang tua Alfindra. Silvia dan Dominic menyambut mereka dengan suka cita, bahkan Silvia langsung menggandeng Almira ke meja makan.
"Mama udah masak banyak buat nyambut kamu," serunya senang. Mereka bercerita ngalor ngidul mengabaikan para suami yang lebih fokus membicarakan bisnis.
"Bang Zion gak ikut makan, Ma?" tanya Almira.
Silvia menggeleng misterius, "abangmu nyusulin Salma."
"Ck, kirain bakal nyari wanita lain," sahut Alfindra yang ternyata sudah ikut bergabung di meja makan, disusul Dominic.
"Mana boleh begitu, kan Abangmu harus tanggung jawab."
"Emangnya hamil? Segala pake tanggung jawab," seru Alfindra membuat mereka yang disana geleng-geleng kepala.
"Jangan jadiin rasa benci Mas ke Salma alasan buat orang lain ikutan benci. Mas tau kan, kalau Salma dan Bang Zion itu sebenarnya saling mencintai, jadi apa yang gak mungkin sih?"
"Kalau Salma mencintai Bang Zion dia gak akan pergi." Alfindra masih berusaha menyangkal, bahkan jika pendapat itu dari Almira.
"Makan, Fin. Udah iya aja kenapa sih? Sama istri sendiri gak ngalah," Silvia melotot ke arah putranya. Yang ditatap hanya bisa nyengir kuda, melirik sang istri dan mamanya bergantian, lalu berlindung di balik punggung Dominic.
"Papa nggak ikut-ikutan!" seru Dominic angkat tangan.
***
Gara-gara perdebatan di rumah orang tuanya tadi, sepanjang jalan Almira berubah murung. Apalagi bahasan Salma masih menjadi hal sensitif di rumah tangganya. Almira selalu merasa insecure pada gadis itu meski pada akhirnya Salma dan Abang iparnya menjalin tali asmara.
"Marah? Nanti dedeknya sedih lho kalau mamanya marah-marah!" Alfin melirik istrinya, Almira buang muka ke samping mengabaikan.
__ADS_1
"Sukur-in, udah tau ibu hamil sensi pake acara debat," batin Alfindra mentertawakan diri sendiri.
Alamat dia tidur lihat punggung.