PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab 63


__ADS_3

Tidak ada kebetulan-kebetulan jika itu terjadi berkali kali dalam sehari. Setelah mengatakan yang sejujurnya pada Alfindra, ia langsung melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Memasuki bulan-bulan sibuk, Alfindra tentu mengurangi aktivitasnya di kantor. Ia ingin menjadi calon ayah siaga untuk anak-anaknya, juga istri tercinta.


Jam lima lebih sedikit, Madel membereskan sisa dokumen kemudian pulang. Sampai di lobi, suasana kantor Alfindra sudah kosong. Madel menghela napas perlahan, keluar kantor dengan perasaan entah. Seperti bosan campur-campur hampa, di usia yang hampir dua puluh delapan Madel masih menyandang status single. Pertemuannya dengan Wina mulai mengusik, menggelitik bahkan berhasil membuatnya salah tingkah padahal baru sehari.


Madel menuju parkiran, baru juga masuk mobil. Ia mendapati pesan dari nomor yang tak dikenal.


'Total biaya kerusakan mobil lima puluh juta,'


Madel mengernyit, sebanyak itu?


'Yakin sebanyak itu? Saya bukan orang bodoh, Hey Nona!' balas Madel.


'Datang saja kesini, aku bisa kok kasih notanya.'


Glekkk...


Mungkin, bagi Alfindra yang notabene nya CEO uang segitu tak terlalu banyak. Tapi baginya yang kaum mendang-mending? Bukankah mending buat melamar anak orang?


"Shitttt!" umpat Madel. Terpaksa harus menguras tabungan untuk biaya kecerobohannya pagi tadi.


Lantas, ia menelepon Wina untuk mengirim nomor rekening dan ia akan mentransfernya.


Masalah Alfindra akan menanggungnya, Madel tak sampai hati merepotkan sang boss untuk urusan pribadi ini.


Madel mendesah berat, nyatanya sampai detik ini Wina belum juga mengirimkan nomor rekeningnya.


"Apa harus ketemu dulu baru selesai," gumam Madel. Lalu memilih memutuskan pulang ke apartemen saking lelahnya. Lelah dengan pekerjaan juga lelah karena pikiran.

__ADS_1


***


Di tempat lain, Wildan didera panik luar biasa saat Hana terus menerus merasakan sakit di bagian perut. Menurut tanggal, harusnya kelahiran si bayi masih dua minggu lagi. Tapi ini?


"Sudah, duduk! Paling cuma mules karena emang tadi aku makan rujak kan?" Hana berusaha tenang, agar sang suami tak terlalu panik. Hana yakin, ini hanya efek mules.


"Na, darah Na? Itu darah," panik Wildan setengah memekik. Lalu berteriak memanggil Anton.


"Pa, ayo ke rumah sakit, Pa!"


Anton bergegas mendekat, lalu ikut membantu Wildan menggendong putrinya keluar.


"Shitttt, mobil belum siap," umpat Wildan. Saking terburu-burunya, ia lupa kalau mobil masih dalam keadaan tertutup.


"Biar papa yang gendong, kamu buka mobil supaya Hana dibawa masuk dulu," perintah Anton. Sebagai Ayah, tentu juga ikut panik mengingat dua kali dia menemani sang istri melahirkan.


"Gimana Dokter?" tanya Wildan kala dokter selesai memeriksa keadaan istrinya.


Istri anda mengalami pendarahan hebat. Resiko kekurangan darah akan terjadi bila dipaksa melahirkan normal," ujar Dokter disertai helaan napas panjang.


"Tapi tenang saja, kita bisa mengambil tindakan operasi. Tinggal bapak setuju atau,--"


"Saya setuju," ujar Wildan berusaha menahan panik.


Anton mengusap lembut bahu menantunya, berusaha menenangkan Wildan. Ia tahu, laki-laki itu sangat mencintai putrinya, terlihat saat ini kepanikan menyelimuti Wildan bahkan saking paniknya tanpa sadar mata lekat itu berkaca-kaca.


"Kita berdoa yang terbaik buat Hana, Wil." lagi, Anton merasa harus menenangkan Wildan. Bahu kekar itu merosot, terduduk di kursi tunggu sambil menggigit kuku jarinya.

__ADS_1


Wildan sempat mengangguk sekilas menjawab mertuanya sebelum tubuh dan tenaganya benar-benar hilang.


Entah harus bahagia, atau sedih. Yang jelas pengalaman pertamanya menjadi suami siaga membuat otaknya kacau. Apalagi saat melihat istrinya yang pucat diatas brankar, melewatinya menuju ruang tindakan.


"Mas?" pelan Hana memanggil suaminya.


Wildan menghalangi suster yang membawa istrinya.


"Sebentar sus, sebentar saja!" pintanya seraya memegang lembut jemari Hana. Wildan mendaratkan ciuman-ciuman kecil disana.


"Aku yakin kamu kuat, sayang! Kamu pasti bisa," ujar Wildan. Tak terasa air matanya jatuh, pun dengan Hana.


"Maafkan aku, selama ini belum menjadi istri yang baik. Maafkan aku Wil," lirih Hana.


Wildan tak bisa berkata-kata, andai ia bisa menggantikan sang istri, mungkin hal itu sudah dilakukan.


"Na,--" tenggorokannya tercekat kala suster membawa Hana ke ruang tindakan.


"Boleh saya ikut, sus?" tanya Wildan.


"Maaf, Pak! Harap tunggu di luar ruang operasi."


"Tapi sus, saya ingin menemani istri saya, saya akan bayar berapapun. Saya mohon," keluhnya mengiba. Wildan sampai berjongkok seraya mengatupkan tangannya dan...


Ting, ruang itu tertutup. Wildan hanya bisa menatap frustasi dari luar.


***

__ADS_1


__ADS_2