
Zion terbahak melihat adiknya yang mulai posesif dan kekanakan. Baginya, melihat Almira seperti sedang melihat angin surga, sejuk dan indah.
Ia bahkan sampai melupakan Salma, apa kabar dengan gadis itu? Apa akan tetap menjadi bodoh dengan mengejar-ngejar Alfindra meski sudah tidur dengannya.
"Kau sungguh posesif, aku hanya memujinya. Lagian, sebagai ipar yang baik bukankah sebaiknya kita sering bertemu dan mengobrol biar akrab. Aku juga akan memberikan restu kalau dia berhasil mencuri hatiku," kekeh Zion.
"Ck! Aku tidak perlu restumu, bang," decak Alfindra.
"Kau sangat keras kepala, apa kau tidak tahu kalau tadi pagi mama heboh memintaku mengambil mangga ini khusus dari pohon belakang rumah langsung. Mama juga memintaku mengantar kesini," seru Zion jumawa.
"Aku akan menuruti ngidamnya adik ipar cantik, dia pasti kepingin mangga tapi suaminya gak peka makanya berinisiatif beli sendiri," ledeknya tak henti-henti.
"Bukan Almira yang pengen mangga. Ck! Istri nakalku itu memang lain dari yang lain," gumamnya memperhatikan Almira yang sedang berkutat di dapur membuat asinan.
"Asinan sudah jadi, Mas. Taraaa...." Almira membawa dua piring asinan mangga ke meja dimana Zion dan Alfindra duduk disana.
"Ehm..." Alfin menatap ngiler mangga di piring, tak sabar untuk memakannya.
"Wait..." Zion menatap Almira dan Alfindra
bergantian, masih tak percaya.
Almira sedikit menjaga jarak, ia memilih duduk di sisi Alfin. Membiarkan suaminya menjadi penengah antara ia dan Zion.
"Neng cantik, disini gak ada minum?" tanya Zion, mengibaskan baju kode kegerahan padahal AC sedang menyala.
"Astaga, aku sampai lupa. Sebentar!" Almira beranjak akan tetapi tertahan oleh tangan Alfindra.
"Biar dia ambil sendiri, suapi aku!" Alfin melirik sinis abangnya.
"Cih dasar bucin. Aku kan tamu, tamu adalah raja dan raja itu harus..."
"Harus mandiri," kekeh Alfin membuat Almira menahan tawanya.
"Dasar!" seru Zion kemudian beranjak sendiri ke dapur untuk membuat kopi. Matanya menelisik isi meja makan. Sial, tak ada apapun disana membuat Zion kembali hanya membawa kopi dan menekuk wajah menatap pasangan suami istri yang tengah suap-suapan mangga.
"Mas, gak ada makanan. Aku belum masak buat makan siang," seru Almira lalu melirik Zion yang datang menekuk wajah. Almira masih enggan mengajak abang Alfindra itu bicara.
"Pesan saja! Aku gak mau kamu capek, kasian calon baby,"
"Jadi karena calon baby ya? Bukannya dulu Mas bilang alergi makanan luar?" tanya Almira menahan tawa, wajah suaminya seketika muram mirip tisu bekas.
__ADS_1
"Kan dulu, dulu dosaku banyak makanya mau nebus satu persatu."
Alfindra masih sibuk makan asinan mangga, bahkan asinan yang masih tersisa punya abangnya ikut menjadi lirikan seolah asinan itu ikut melambai minta dibelai.
Srekkk...
Alfin menggeser pelan-pelan piring milik Zion, lalu melahapnya tanpa disadari si pemilik.
"Nackal," bisik Almira.
"Pengen," kekeh Alfindra.
"Kan nanti bisa lagi, Mas. Kasian bang Zion," bisik Almira.
"Tapi aku pengennya sekarang," kekeh Alfindra.
Otak gesrek bin cetek Zion yang mendengar itu seketika traveling. Mendadak ia jadi tak nyaman berada disana, diantara pasangan suami istri gaje.
"Aku pulang," pamit Zion segera pergi tanpa menoleh. Sampai di pintu, melotot ke arah Alfindra minta dibukakan pintu.
"Pergi sana bang," usir Alfindra.
"Lah, Dasar adik minus akhlak. Neng cantik abang pulang dulu," pamit Zion mengedipkan mata pada Almira.
***
"Mas, aku tuh masih suka gimana gitu sama abang kamu. Apalagi kalau inget kejadian dia ngejar aku pas kamu mau ke Bandung," gumam Almira mengeluarkan unek-uneknya.
"Baguslah, aku juga gak suka kamu terlalu akrab sama dia. Dia itu..."
"Kenapa Mas?" tanya Almira.
"Gak papa. Oh ya, emang kamu ada ketemu mama?" tanya Alfindra.
Almira mengangguk, "iya tadi ketemu di super market. Kebetulan aku cari mangga enggak ada, mama bilang di belakang rumah kamu banyak," jelas Almira.
"Ohhh, tapi kalian gak berantem kan di tempat umum?"
"Enggak, orang mama biasa aja, datar aja gitu kaya nggak ada niat ngajak berantem! B aja," seru Almira.
Alfindra sontak menjewer telinga istrinya, "dasar nakal."
__ADS_1
"Ihhh enggak ya, mas yang nakal."
Alfindra menarik istrinya, menyembunyikan wajah Almira di ketiak seperti kebiasaannya akhir-akhir ini kalau lagi gemas.
"Mas, kalau nanti mama mulai menerima hubungan kita, pernikahan kita aku minta mas merubah sikap mas sama papa ya," pinta Almira.
Alfindra diam, ia memang sebal dengan Anton bahkan hingga saat ini. Namun, tak bisa dipungkiri yang namanya orang tua tetap lah orang tua seburuk apapun sifatnya. Seperti Silvia, mau bagaimanapun Silvia tetaplah wanita yang telah melahirkan Alfindra, mendidiknya, dan merawatnya sedari kecil.
"Aku nggak merasa nganggap papa kamu musuh. Aku cuma memberi sedikit tamparan, Mir. Kamu tahu, saat aku ke rumahmu terakhir kali dia menyebutmu anak sia lan. Kamu istriku, Mir. Seburuk apapun perlakuanku padamu saat itu, aku tetap orang pertama yang tak terima saat dia menyebut kamu sia lan!"
"Aku,--" Almira diam menunduk, yang dikatakan Alfindra memang benar adanya, tapi sejak saat itu juga Anton sudah berubah dan Almira ingin suaminya dan sang papa berbaikan.
"Papa sudah berubah, Mas!" cicitnya pelan.
"Aku tahu, tapi nggak sekarang Mir. Aku mau fokus nyelesaiin mama dulu, kam--"
Almira menjauh, "aku mau ke kamar mandi bentar mas," potongnya.
Almira masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, ia jadi kesal sendiri. Meskipun dalam hati Almira cukup sadar diri kalau pernikahannya berawal dari transaksi jual beli.
Makan siang pesanan Alfin sudah datang, ia mengernyit kala tak mendapati sang istri segera keluar. Lantas setelah meletakkan makanan di meja, ia menyusul ke kamar ingin melihat apa yang tengah dilakukan Almira sampai melupakannya.
"Semoga selalu sehat. Bang Wil, kalau kak Hana nakal cubit aja ginjalnya," kelakar Almira di sambungan video call.
"Idihhhh, cubit-cubit yang ada dia milih Mir cubitnya sebelah mana," tawa Hana.
"Segera periksa, kakak bilang juga apa. Kamu palingan hamil orang tambah gendut," serunya.
"Nanti lah, masih mager mau ke dokter. Salam buat papa, semoga lekas sembuh, dahhhh..." Almira menutup panggilan video call lalu menghela napas kasar.
Alfin hanya bisa menatap punggung Almira yang membelakanginya, meski sebenarnya masih amat kesal dengan Anton, entah kenapa kali ini ia merasa kasian dengan Almira.
Istrinya yang disakiti saja sebaik itu, masa ia tak bisa berdamai dengan keadaan. Bukankah lebih bagus kalau berbaikan?
"Mir?"
Almira tak berniat menyahuti.
"Sayang, kamu kenapa?" ulangnya dengan nada selembut mungkin.
"Aku ijin pulang sebentar ya, Mas. Gak lama," pamitnya beranjak untuk mengambil tas.
__ADS_1
"Nackal, belum juga dikasih izin," geram Alfindra dalam hati. Namun, pada akhirnya Alfin mengalah dan memilih ikut Almira mengunjungi Anton.