
Sehari menginap di rumah papanya tak membuat Almira puas, belum selesai rindu kumpul bersama, sang suami malah mengabarkan jikalau keluarga besarnya akan bertandang ke rumah untuk silaturahmi dua keluarga.
"Aku belum belanja, Mas. Aku sama kak Hana mana lagi hamil gini, mana mas ngabarinnya dadakan banget. Gimana makanan buat nyambut mama sama papa," keluh Almira.
Namun, di luar nurul sang suami malah tersenyum penuh arti menatapnya semakin lekat.
"Aku udah kasih tau Hana sama papa tadi malam, tenang aja!"
"Terus kita harus biarin kak Hana kerepotan gitu," sela Almira tak terima. Lebih tepatnya, kenapa bukan memberitahunya tapi malah memberitahu kak Hana? Bahkan Papa Anton.
"Aman lah, biarin aku sama Wildan yang menyiapkan makanan!"
"Hah?" Almira tercengang, tak percaya. Namun, detik selanjutnya tersenyum penuh arti. Di usapnya anak rambut yang menutup dahi suaminya.
"Makasih ya, Mas!" bisiknya selembut mungkin lalu membawa Alfindra untuk istirahat.
***
Pagi menyapa, tak perlu menunggu matahari terbit. Dua cowok kece kini sudah mencari pasar tradisional untuk belanja. Seorang Alfindra nyatanya mau blusukan bersama kakak ipar demi mendapatkan beberapa stok makanan segar. Aneka lalapan, juga daging serta sayuran yang akan mereka masak harus fresh meski beli dari pasar.
"Huahhh, capek juga keliling pasar. Gak bisa bayangin capeknya jadi wanita," keluh Alfindra. Tentu hal itu membuat Wildan terbahak pelan.
__ADS_1
"Dih ngakak, heran aku. Kamu biasa apa pergi-pergi ke pasar gini?" tanya Alfindra. Sampai-sampai mengangkat tinggi dua kantong kresek penuh yang di tangan.
"Ya namanya juga bantuin mama," jawab simple Wildan.
"Kamu itu masak pinter, baik, mau ke pasar, kok bisa sih jatuh cinta sama Hana?" tanya Alfindra berhasil membuat Wildan seketika terdiam. Merasa salah dengan kalimatnya, Alfindra pun merasa tak enak.
"Ehm, maaf." pelan Alfindra berdehem karena tak enak membuat Wildan diam.
"Santai, Fin. Kadang cinta emang gak butuh alasan logis. Tapi yang jelas, kami itu saling mencintai," aku Wildan dengan bangga. Tak tahu saja, kalau istrinya itu pernah rela mendatangi mansion Alfindra dan menggodanya terang-terangan.
"Kamu yakin dia mencintai kamu?"
"Seyakin aku yang mencintai dia, perkara sebenarnya enggak pun aku nggak masalah."
"Yang penting sekarang dia milik aku, udah lah. Yok pulang, sebelum para istri mengamuk," kelakar Wildan.
"Oke deh!"
Butuh lima belas menit untuk mereka sampai di rumah. Ternyata dua wanita hamil berstatus istri sudah menunggu dengan wajah masam di depan. Sontak hal itu membuat Alfindra dan Wildan menyongsong istrinya masing-masing, lalu menuju dapur untuk menyiapkan beberapa makanan. Dan sekitar pukul sepuluh, Orang tua Alfindra serta Zion sampai di rumah orang tua Almira.
Anton menyabut Dominic dan Silvia dengan senyum teramahnya. Dan yang membuat Dominic senang adalah rupanya Anton adalah teman seperjuangannya di masa putih abu.
__ADS_1
"Dunia emang sempit, ya?" kelakar Dominic merangkul bahu Anton.
"Sesempit pikiran saya waktu mau ngutang ke anak kamu, hahaha!" Anton terbahak. Sontak candaannya itu berhasil membuat Alfindra mendelik tak percaya. Padahal sebenarnya, menjerat Anton pada hutang adalah tak tik dirinya untuk mendapatkan Hana dulu. Tak disangka, ia malah mendapatkan pengantin pengganti yaitu Almira.
Namun, meski hanya pengganti Hana justru Almira lah wanita yang menyadarkan Alfindra tentang cinta, membuat Alfindra mengerti bahwa obsesi dan cinta itu beda tipis.
"Ayo masuk, masuk dulu!" ajak Wildan dan Hana.
"Wah!" Silvia tersenyum, lalu semua berkumpul di ruang tamu setelah saling bersalaman.
Silvia duduk dekat Almira, ia sempat mengusap-usap pelan perut sang menantu seolah mengajak si calon bayi berinteraksi.
Lalu, tangannya berpindah ke perut Hana yang jauh lebih besar dan melorot. Silvia turut berdoa semoga kelahiran Hana maupun Almira diberikan kelancaran nantinya.
"Cowok atau cewek nih?" tanya Silvia menanyai Hana.
"Cowok Tante, hehe!"
"Syukurlah, semoga sehat-sehat lahirannya nanti. Hari perkiraan lahirnya kapan?" tanya Silvia.
"Masih lama tante, makasih banyak doanya!"
__ADS_1
Almira yang melihat keakraban kakaknya dengan mama mertua pun tersenyum senang. Meski pada akhirnya, ia tetap belum bisa seakrab itu dengan Silvia, Almira sangat bersyukur karena saat ini tak ada lagi masalah yang berarti.
Mungkin nanti, seiring berjalannya waktu.