PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab - 79


__ADS_3

Almira menghubungi mertuanya, untuk sekedar menanyakan keadaan Arsa dan Ayara. Terus terang, meski senang memiliki waktu menemani Alfindra bekerja, ia pun tetap kepikiran anak-anak. Apalagi mereka baru beberapa bulan lepas asi.


Namun, Silvia meyakinkan bahwa kedua cucu kembarnya itu sangat penurut dan tidak rewel.


"Mereka nggak rewel, Mir. Bahkan seneng banget dari tadi pagi main sama Opa-nya. Kamu tenang aja, nanti sorean aja jemput mereka pulang. Oh ya, karena papamu lagi cuti beberapa hari gimana kalau besok kami jemput lagi si kembar. Pengen ngajak mereka jalan-jalan," ujar Silvia dengan binar mata penuh harap.


Melihat tatapan itu membuat hati Almira menghangat. Meski hanya lewat sambungan video call, Almira sangat senang akhirnya kembali merasakan hangatnya masih sayang mama meskipun dari mamanya Alfindra.


"Kalau begitu, biar aku dan Mas Alfin menginap disana saja, Ma. Kebetulan kami sebentar lagi mau pulang, sekalian ambil perlengkapan Arsa dan Ayara."


"Oke, Mir. Mama juga pengen kumpul-kumpul semuanya," ujar Silvia.


"Iya, Ma. Aku,--" disela obrolan Almira dan Silvia, Alfin keluar dari kamar istirahat yang ada di kantornya dengan bertelanjang dada membuat Almira meringis dan menoleh horor pada suaminya.


"Alfin, astaga. Kamu jangan karena Almira ke kantor terus seenaknya kerja gak pakai baju gitu," omel Silvia menggelengkan kepala melihat tingkah putranya.


Alfin meringis, tanpa tahu malunya malah merebut ponsel Almira, "kami lagi on the way buatin mama cucu lagi, biar genep jadi empat."


Sontak saja Almira mencubit keras pinggang suaminya.


"Auhhh, sakit yang. Nanti aja kalau nambah,--"


Plak...


Almira sampai memukul paha Alfindra saking tak tahu malunya sang suami.


"Malu, Mas. MALU..." Jelas saja Almira malu, karena satu jam yang lalu terlewati dengan pergumulan panas mereka di kamar istirahat yang ada di ruang kerja Alfindra.

__ADS_1


Beruntung si Biang perusuh alias Bia itu tak ada, Almira sungguh malas kalau berdebat dengan wanita yang suka sekali cari perhatian pada suaminya.


Menutup telepon dan menyerahkan ponsel, Alfin mencium sekilas pucuk kepala Almira, "Mas siap-siap dulu baru kita pulang."


"Oke deh," sahut Almira tersenyum geli.


***


Mobil hitam itu terparkir cantik di halaman rumah Dominic - Silvia yang masih asri. Sejak Madel mundur, Alfin menjadi lebih mandiri termasuk dalam hal bepergian. Namun, hal itu tak berlaku untuk Almira yang kemana-mana harus bersama Bambang. Sedangkan Budi lebih sering berada jaga di rumah.


Turun dari mobil, Alfin membukakan pintu untuk istrinya dan menyambut tangan lembut itu untuk turun.


"Aku bisa sendiri padahal," seru Almira, masih dengan mode merona di pipi.


"Aku tahu, tapi lagi pengen banget manjain istri. Kan selama ini dia udah berjuang keras buatku dan anak-anak," ujar Alfin tersenyum tipis. Mereka bergandengan tangan masuk rumah. Pemandangan pertama, melihat papa Dominic sedang bermain lego dengan kedua cucunya.


"Kami sudah mandi sebelum pulang dari kantor tadi, Ma. Auuu,--" Alfin meringis kala sandal Almira menendang tipis kakinya. Ucapan Alfin membuat ibu dua anak itu sungguh malu dan kehilangan citra di hadapan sang mertua.


"Ya sudah cuci tangan aja kalau gitu. Suami kamu itu, Mir. Pasti kamu capek ngladenin tingkah dia yang kaya anak kecil."


"Ma,--" protes Alfindra.


"Bener banget, Ma," sambung Almira, kemudian memilih mendekati Arsa dan Ayara yang mengabaikan kehadirannya karena asik main.


"Asik banget sampai gak lihat mama," lirih Almira menggoda putra putrinya.


"Mama an cibuk," ujar Ayara.

__ADS_1


"Mama kelja, cari uang beli pesawat," sahut Arsa tak mau kalah.


"Bukan beli pesawat, naik pesawat kak."


"Beli, Ma. Kalau naik nanti jatuh mana? Kalau beli dibawa puyang," celoteh Ayara membuat mereka yang disana tergelak karena gemas.


***


Bianca menatap rumah atasannya itu dengan decakan kagum. Mendapat alamat rumah Alfindra dari berkas penting di kantor, apakah ia termasuk lancang mengambil alamat itu bahkan saat ini dengan sengaja datang untuk menjadi pengamat dadakan?


"Hidup aku pasti bakalan berubah total kalau menikah dengan Pak Alfindra," gumamnya tersenyum semangat. Memindai Istri bos-nya dari atas ke bawah tadi juga saat pertemuan pertama mereka di mall, Bianca semakin menggebu untuk menggoda Alfindra.


"Pasti bisa, semangat Bia! Dia hanya bos-bos besar yang akan mudah tergoda dengan wanita seksi yang ada di sekelilingnya." Bia menyemangati diri sendiri.


Hari ini, mungkin ia hanya datang untuk melihat kediaman Alfindra dengan harapan di hari lain bisa datang sebagai calon nyonya baru pemilik rumah.


"Dasar stress," gumam Bambang yang memperhatikan kelakuan Bianca yang berdiri di luar pagar menjulang tinggi kediaman bossnya.


Ia pun segera melaporkan kehadiran wanita itu pada Almira. Jelas Bambang ada dipihak Almira mesti tak tahu pasti apa yang akan direncanakan oleh Bianca kedepannya.


Bambang juga tak bisa mendengar apa yang dikatakan Bianca, ia hanya bisa meng-zoom layar itu untuk gambar yang lebih jelas lalu mengirimkannya pada Almira.


"Nona, Bianca berdiri lebih dari lima belas menit di depan rumah. Ekspresinya tersenyum aneh seolah merencanakan sesuatu. Mungkin, jika yang menjadi targetnya adalah Pak Alfin. Bianca akan melakukan segala cara sepertinya, tolong hati-hati."


Pesan Bambang itu membuat Almira murung dan tak bisa tidur malam harinya. Bahkan disaat si kembar sudah terlelap ia malah kepikiran pesan dari Bambang.


Sialnya, Almira tak punya alasan untuk membuat Alfin menyingkirkan Bianca begitu saja.

__ADS_1


__ADS_2