
Bingung, itulah Madel kala merasa terintimidasi sepasang suami istri di hadapannya. Ia menatap Wina tak enak, karena ulah boss dan istrinya yang kelewat super.
"Tuan, kami hanya jalan-jalan. Maksudnya saya mengantar Wina jalan-jalan karena,--"
"Udahlah, gak usah banyak alasan!" tegas Almira mengibaskan tangan, ia yang duduk diantara Wina dan suaminya memilih memotong penjelasan Madel yang menurutnya belibet.
"Jalani aja dulu, Del." Kali ini Alfindra bersuara.
"Kita nggak pacaran, aku cuma nagih ganti rugi," seru Wina tak terima. Meski dia jomblo abadi, gak seharusnya juga dijodoh-jodohkan dengan Madel.
"Ouh, tapi masa udah pegangan tangan gak dinikahin?" tanya Almira.
Madel dan Wina hanya bisa mengelus dada sekali lagi. Beruntung pelayan mengantarkan pesanan mereka. Setelah tadi drama di bagian keamanan, kini mereka makan siang di salah satu sudut foodcourt berempat.
"Saya panikan Nona, apalagi kalau sampai anda beneran hilang. Pasti nanti, saya juga yang repot!" aku Madel membuat Almira mendekus sebal.
"Yang dikatakan Madel ada benarnya, lagian kamu juga pake acara ilang."
"Aku gak ilang, aku tuh ngikutin Madel lagi jalan sama wanita, gandengan. Wajar dong aku kepo, orang mereka gandengan kok masuk gerai. Pake alasan aku ilang jadi panikan..."
Uhukkk...
Wina yang sedang minum pun seketika tersedak mendengar ucapan Almira. Ibu hamil itu memang benar-benar di luar prediksi BMKG, bisa-bisanya jeli melihatnya gandengan sama Madel, padahal memang iya.
Madel dan Wina masih sama-sama tak mau mengaku, hingga makan bersama itu berjalan lebih cepat karena garing. Alfindra tak ingin menyiksa asistennya terlalu lama, toh kalau memang benar mereka menjalin hubungan hal itu akan menjadi kabar baik nantinya.
"Aku bayar dulu, kamu tunggu disini sebentar!" seru Alfindra mengusap lembut bahu istrinya.
__ADS_1
"Biar saya saja, Pak," sela Wina mendahului berdiri.
"Oh, serius. Saya tidak biasa membiarkan wanita membayar bill," ujar Alfindra melirik Madel yang ikut berdiri.
"Sudah, saya saja tuan!" tegas Madel lebih dulu. Alfindra mengangguk. Tinggalah mereka bertiga dalam keheningan menunggui Madel di tempat.
"Sejak kapan kamu akrab dengan kanebo kering itu, Nona?" tanya Almira senyam senyum menjadikan tangannya sebagai penompang dagu, bumil satu itu masih saja kepo dengan urusan Madel.
"Aku ke toilet dulu, Yang!" Alfindra pamit, ia mencium sekilas pipi Almira membuat Wina seketika memalingkan wajahnya melihat pasutri uwu itu.
"Kami hanya teman," aku Wina. Hubungannya dengan Madel memang belum jelas, masih tahap seleksi.
Almira mengangguk-ngangguk, "sudah aku duga, tak semudah itu membuat kanebo kering menjadi basah, meskipun hanya perlu menyiramnya dengan air hehehe. Sudahlah..."
"Kenapa kanebo kering?" tanya Wina, meski mungkin mereka sudah biasa bercanda seperti itu.
"Sssttt jangan bilang-bilang," lirih Almira melihat ke arah Madel. Tak berselang lama, dua lelaki itu sudah kembali. Alfindra dan istrinya langsung pulang sementara Madel harus mengantar Wina dulu, berpisah di parkiran membuat Alfindra tersenyum tipis, toh walaupun Wina bilang mobilnya rusak dan Madel harus bertanggung jawab mengantarkannya, mobil itu masih bisa dipake kemana-mana dan sudah kembali mulus.
***
"Giftnya udah sampai, yang! Cepet banget? Caca udah hubungi aku lagi nih, emang kamu kirim apaan?" tanya Almira di perjalanan pulang.
"Ada deh," balas Alfin. "yang penting kan udah dikasih, dia pasti makhlum kok."
"Main rahasiaan, awas aja nanti malam tidur di luar!" ketus Almira kesal sendiri. Sambil menikmati macetnya jalan untuk pulang, ia menyemil banyak makanan, padahal tadi sudah makan di foodcourt.
"Eh jangan dong, oke-oke. Aku kirim karangan bunga sama bathrobe couple biar lancar!" jawab Kenaan menahan gelak tawa.
__ADS_1
"Kok aku ga dibeliin," dumel Almira. "Yang lama udah gak bisa nutup perut," keluhnya mengusapi perut setelah perutnya kenyang.
Alfin membelokkan mobilnya ke arah taman, tempat dimana dia mengungkapkan isi hatinya pada sang istri dulu. Nostalgia sebentar sebelum nanti sibuk mengurus si buah hati.
"Inget tempat ini kan?" tanya Alfin setelah turun dari mobil. Menggandeng pelan sang istri, dan mengajaknya menyusuri jalan setapak.
"Enggak, taman biasa kan? Emang kita pernah kesini ya?" tanya Almira mengernyit.
"Hm, kok gak inget."
Almira melipat bibirnya, "ya, emang gak inget. Masalah kemarin aja aku nggak inget lho, apalagi masalah dulu pas kamu nyatain cinta di taman ini yang gak ada romatis-romatisnya," seru Almira tersenyum puas. Berhasil dia mengerjai sang suami.
"Dasar!!!!"
"Dasar apa?"
"Dasarnya aku mencintaimu, yang!" ungkap Alfindra. Mereka duduk di bangku kosong, menatap anak-anak kecil berlarian dari jauh.
"Sementara liatin anak orang lain dulu, suatu hari nanti anak-anak kita yang!" digenggam erat tangan istrinya sambil tersenyum.
"Aku jadi takut," cicit Almira terus menunduk mengusap-usap perutnya dengan gerakan lembut. "Gimana kalau kamu gak bisa nemenin aku kayak kasus kak Hana," gumamnya menerawang. Membayangkan berjuang seorang diri tanpa dampingan suami membuat Almira mendadak mellow.
"Ssttt jangan bayangin yang enggak-enggak, kamu itu wanita hebat. Mereka pasti sedih kalau kamu mellow gini, setidaknya jadiin pertemuan kalian nanti sebagai kekuatan buat kita, buat kamu." Alfin meraih tubuh istrinya untuk bersandar di bahu.
"Aku mungkin gak janji bisa ada di samping kamu. Tapi... Kamu harus tahu aku akan berusaha semampuku dampingi kamu. Mir, dibanding aku mati, aku lebih takut lihat kamu menderita..."
"Mas, nggak ah jangan ngomong gitu. Aku lebih suka kita sama-sama, susah atau senang ya harus bareng!"
__ADS_1
"Iya iya, tapi janji harus tetap berfikiran positif. Calon ibu yang hebat kamu, jangan bikin anak-anak kepikiran, ya? kan ada aku! Ngeluh boleh, tapi jangan menyerah."
Almira mengangguk, sementara Alfindra semakin mengeratkan genggaman tangannya. Berharap, sang istri selalu berfikir apapun yang terjadi ia tak sendirian. Mereka akan selalu bersama bahkan jika itu menghadapi badai.