PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab - 82


__ADS_3

"Apa tujuanmu sebenarnya? Kamu mau uang? Kamu sudah melakukan kesalahan besar, Bia!" sentak Madel. Ia cukup kecewa dengan apa yang dilakukan temannya itu. Teman? Ya, mereka berteman cukup baik tapi Bia malah memanfaatkan simpatinya.


"Tujuanku untuk mencari pasangan."


Madel menarik tangan Bianca dan membawanya ke parkiran.


"Kenapa harus mengusik Pak Alfin?" tanya Madel, suasana parkiran yang sepi saat jam kerja membuat Madel leluasa menanyai Bianca.


"Kamu tahu konsekuensinya? Beliau bisa memasukkanmu ke daftar hitam perusahaan yang bekerja sama dengannya! Paham kan? Kamu bukan hanya akan kehilangan citra kamu, tapi mungkin kamu juga akan mendapatkan sangsi sosial seperti tadi, dan itu belum apa-apa," peringat Madel.


"Aku tak peduli," jawab Bia bersedekap.


"Apa pelakor kaya kamu memang susah tobat? Gak bisa jadikan yang dulu sebagai pelajaran dalam hidup kamu? Gak bisa berubah jadi lebih baik lagi? aku nyesel nolongin kamu kalau akhirnya kaya gini."


Bia tersenyum, "ya, pelakor sepertiku mana bisa punya jera. Pikir saja Madel, apa tujuan seseorang menjadi pelakor? Apa untuk minta maaf ke istri sah? hehe, tidak! Jika usahanya gagal, dia akan mencari korban lain bukan," ujar Bia sedikit mendorong tubuh Madel agar lebih mundur.


"Tapi tenang saja, aku gak minat kok sama kamu. Karena yang kaya itu kan istrimu," ujar Bia lagi kemudian berlalu pergi membuat Madel geleng-geleng kepala.


Memang benar, kebanyakan dari wanita yang menyukai suami orang cenderung mencari korban lain jika sudah tak ada celah. Meski begitu, bukankah seharusnya Bianca sedikit saja merasa tersentil?


Melupakan hal itu, Madel tak ingin kembali menemui Alfindra. Ia sungguh tak enak karena ada Almira disana. Bagaimanapun, yang membawa Bianca ke Kingdom adalah dirinya.


Madel akan meminta maaf langsung dengan datang ke rumah Alfindra.


***

__ADS_1


Almira bernapas lega, menjalani hari-harinya dengan tenang tanpa gangguan Bianca lagi. Memang lebih bagus jika assisten suaminya itu laki-laki, dan Alfindra bertemu dengan Leon Halvard. Laki-laki muda berbakat yang tak sengaja menolong saat mobilnya mogok. Dan kebetulan Leon butuh sekali pekerjaan apapun itu. Alfin melihat kegigihan Leon, ia rela membimbing pemuda itu bahkan jika dari nol.


Almira sibuk menemani Ayara berenang, sementara Alfindra memilih mengecek kandang kelinci di belakang. Kemarin, Arsa minta dibelikan kelinci, dan Alfindra pun menurutinya dengan syarat mereka belajar memberi makan pada kelinci-kelincinya dan belajar bertanggung jawab.


Bosan jalan-jalan keluar, hari minggu mereka nikmati dengan melakukan kegiatan di rumah.


Dan sepagi ini, mereka sudah heboh dengan keinginan masing-masing dan jadilah Almira dan Alfin bagi tugas.


"Napa cih, Embak gak kerja hari minggu?" tanya Ayara.


"Kan papa libur, biar kalian puas main sama mama dan papa. Lagian, Mbak kan juga punya anak. Kasian kalau Mbak gak libur," jelas Almira mengatakan alasan paling mudah untuk dimengerti Ayara.


"Yara... Yara..." Damian melambaikan tangan begitu Joko membukakan gerbang mobil untuk Hana dan Willdan. Jendela mobil yang terbuka membuat bocah itu leluasa melihat keberadaan Ayara meski mustahil adik sepupunya itu melihat.


"Mian oh Mian..." Nada Ayara terdengar lucu dan menggemaskan. Jika sudah seperti itu Damian hanya bisa membalas dengan mengerjap seolah takjub.


"Tuh lihat, langsung nempel kaya perangko. Dari kemarin ngreog minta main kesini," ujar Hana. Lalu memeluk erat Almira, dan cipika-cipiki.


"Sehat kan, Mir?"


"Sehat kak, ayo duduk kak."


Sementara Wildan memilih mengikuti langkah Ayara dan Damian yang katanya menyusul Alfin ke belakang.


"Kabar papa gimana? Gak ikut?"

__ADS_1


"Papa sehat. Enggak sih, katanya next time gitu tadi sih bilang mau ketemu Papanya Alfin. Janji mau ngopi bareng," jelas Hana.


"Oh sama papa, bagus deh. Jadi ada hiburan kalau ditinggal. Nginep nggak?"


"Nggak deh, nanti malah makin-makin gak mau diajak pulang," tolak Hana.


"Ada rencana liburan gitu sih aku sama Mas Wil, mau ikut gak? Biar Damian ada temen," tawar Hana.


"Kemana?"


"Puncak, gimana?" tanya Hana. Berharap Almira mau, ia sudah merencanakan ini dan membujuk Anton agar ikut juga.


"Aku tanya Mas Alfin dulu, deh. Moga aja mau," ujar Almira.


"Ok, kabarin kalau mau. Soalnya papa juga ikut."


Dan obrolan mereka terhenti saat tiga bocah berlarian menghambur ke ruang tamu disusul Wildan dan Alfin.


"Ma, inci Yara bagus, Ma!" adu Damian.


"Minta beli ja," usul Arsa.


"Kalian sudah cuci tangan belum hayoo?" tanya Almira.


"Udah dong!" sahut bapak-bapak mewakili si kembar dan Damian.

__ADS_1


Masih mode merajuk, Damian berusaha membujuk Hana agar juga dibelikan kelinci.


"Iya nanti sama Papa."


__ADS_2