
"Ini kayak gimana nih, aku gak tau cara buat bubur. Biasanya kan Almira, mana gak pasti juga dia bisa pulang apa enggak," dumel Hana di dapur. Jika tidak sakit, mungkin ia memilih membelikan papanya makanan online. Tinggal duduk, makanan akan datang sendiri. Toh suaminya tak keberatan kalau ia tak bisa masak apapun.
"Gimana, sudah belum?"
"Eng,---" Hana tersentak, lalu menggeleng.
"Biar aku saja," seru Wildan mengambil alih peralatan dapur. Dengan cekatan ia mencuci beras untuk bubur di wastafel. Hana bahkan sampai melongo di tempat melihat Wildan tanpa bertanya atau minimal cari resep di mbah gugle, ia langsung bisa menyalakan kompor dan mulai mengaduk-ngaduknya dengan cekatan.
"Sejak kapan pinter masak, yang?" Hana menunduk malu. Seandainya ia tak mengambil keputusan menerima Wildan, mungkin Hana akan menyesalinya, menyesal telah menyia-nyiakan laki-laki sebaik Wildan.
"Sejak, sudah lama. Dari pertama kali mama sering bepergian, aku sering masak bareng bibi."
"Bibi?"
"Ya, tapi sekarang bibi udah pulang kampung dan mama stay di rumah. Mulai dari aku lulus SMA udah gak ada yang bantu-bantu di rumah," jelas Wildan.
"Pantes pas kita nginep disana cuma ada mama papa."
Wildan hanya tersenyum, "tapi kalau minggu auto rame sih, pada ngumpul. Ya kan kita pulangnya pas hari biasa. Dah jadi nih, bubur ala menantu idaman," seloroh Wildan.
"Hahaha bisa aja, aku anter ke papa dulu," seru Hana diangguki Wildan.
Meski hubungan Wildan tak sebaik menantu pada mertua atau sebaliknya, ia tetap menghormati Anton dan berusaha bersikap baik pada Anton. Wildan sadar ia bukan menantu yang baik, citranya di mata Anton sangat buruk sejak dia merusak Hana.
Ting tong...
Mendengar bell berbunyi, gegas Wildan ke depan untuk membuka pintu.
Ceklek, suara Wildan membuka pintu dimana Almira dan suaminya sudah berdiri disana.
"Almira," seru Wildan tersenyum, lalu mengangguk singkat ke arah Alfindra sebagai sapaan.
"Ayo masuk, masuk." Wildan berbalik lebih dulu, mempersilahkan Almira dan suaminya duduk di ruang tamu.
"Hana lagi nganter bubur ke kamar papa," jelasnya sebelum Hana bertanya.
"Oh iya bang." lalu menoleh ke arah Alfindra, "aku lihat papa dulu sebentar ya, Mas?" izinnya.
"Boleh."
Singkat padat dan jelas jawaban Alfindra, setelah adik iparnya berlalu ke kamar sang mertua mendadak suasana di ruang tamu canggung. Wildan enggan membuka suara lebih dulu pun dengan Alfindra. Hingga kembalinya Almira membuyarkan lamunan keduanya.
__ADS_1
"Mas mau minum apa? Abang?" tanya Almira pada suaminya sekalian dengan abang ipar. Apalagi saat melihat meja di sofa tamu masih kosong tak ada tanda-tanda adanya gelas bekas.
"Kamu duduk saja Mir, biar abang buat." Wildan beranjak ke dapur lebih dulu. "Seadanya aja ya?" sambungnya lagi menoleh pada Almira.
"Eh, enggak. Aku aja yang bikin bang."
"Abang aja."
"Almira gak papa bikin sendiri, sekalian bikinin abang!" kekeh Almira.
Alhasil Abang dan adik ipar itu sibuk berdebat di dekat dapur, sementara Alfindra menatap sebal sambil bersedekap.
"Caper, sok-sokan mau bikinin minum. Bilang saja mau deket-deket Almira," gumam Alfindra. Mungkin jika didefinisikan saat ini kepalanya terdapat asap mengepul tak terlihat. Cemburu memang semenyebalkan itu.
Tak tahan melihat istrinya malah mengobrol dengan Wildan membuat Alfindra berdiri dan meghampiri mereka dengan wajah muramnya.
"Mana? Sudah jadi minumnya? Aku haus," keluh Alfindra ketus.
Almira mendelik, ia menyodorkan secangkir kopi pada suaminya. Kopi yang sudah terlanjur dibuatkan oleh bang Wildan.
"Siapa yang bikin?" Alfindra menatap Wildan dan Almira bergantian.
"Kamu minum saja, perutku agak mual." Alfindra menyodorkan kembali bukan ke tangan Almira melainkan ke tangan Wildan.
"Ada apa ini, rame banget," seru Hana datang membawa mangkuk kotor bekas bubur kemudian meletakkannya di wastafel.
"Gak apa-apa," jawab Wildan menyambutnya.
Hoek...
Hoek...
Alfindra menerobos menuju wastafel dapur dan memutahkan isi perutnya.
"Mas!" gerakan lembut Almira memijat tengkuk menenangkannya.
"Hm, gak papa cuma mual biasa."
"Ayo duduk," ajak Almira. Wildan sampai mengernyit memperhatikan suami Almira yang terkesan, aneh!
"Suami kamu sakit Mir? Ajak istirahat aja ke kamar," seru Wildan.
__ADS_1
Almira menggeleng, "enggak bang! Lalu melirik Hana, "ada minyak kayu putih enggak kak, aku lupa bawa."
"Ada bentar," sahut Hana.
"Biar aku yang ambilin." Wildan beranjak ke lantai atas menuju kamar mengambil minyak kayu putih.
"Kenapa sih Mir? Sakit?" Hana mendekat, akan tetapi Alfindra mengisyaratkan agar Hana tetap berada di posisinya.
"Jangan deket-deket kak," peringat Almira. Bukan cemburu, tapi mungkin jika sudah begitu Alfindra merasa perutnya kembali mual.
"Ini Mir. Na, istirahat dulu gih," pinta Wildan.
"Tapi, ada Almira masa aku tinggal, enggak ah!"
***
Setelah mualnya mereda, Almira pergi ke kamar Anton. Ia melihat Anton tertidur membelakanginya dengan selimut menutup separuh tubuh.
"Cepat sembuh, Pa," gumamnya pelan nyaris tak terdengar.
"Papa pasti sembuh." Suara Wildan membuat Almira terkejut.
"Bang, papa gak sakit serius kan?" tanya Almira.
"Kalau harus ke rumah sakit, gak apa-apa. Nanti biar biayanya pake uang Almira."
"Gampang, sebenarnya ada yang lebih abang perlu bicarakan sama kamu," lirih Wildan.
"Ya, bang?" tanya Almira membeo.
"Suami kamu emang seaneh itu ya?" tanya Wildan.
"Hah?"
"Kaya enggak suka sama kita, aku sama Hana. Jujur ya aku agak gimana pas dia mual karena kopi buatanku tadi."
"Maafin suamiku ya bang, dia terkena syndrom cauvade jadi gitu," jelas Almira.
Alfindra menguping pembicaraan mereka di luar, niat hati mau ikut melihat Anton malah menyaksikan istrinya mengobrol dengan sang ipar, panas sudah hatinya kembali dibuat.
"Sudah selesai belum?" ketus Alfindra.
__ADS_1