
"Besok cek dokter ya? Sekalian tanya boleh nggak sering-sering gitu, takutnya si baby kenapa-napa. Lagian kan kita belum tahu berapa usianya," ujar Alfindra setelah malam panjang mereka. Sama-sama terbaring menatap langit kamar, akan tetapi tangannya mengusap lembut surai Almira.
"Iya, Mas."
"Kamu seneng gak Mir? Aku takut kamu gak seneng karena hamil, dari tadi iya iya terus. Jangan-jangan kamu terpaksa lagi." kali ini Alfindra mengubah posisi jadi menyamping, menghadap istrinya.
"Seneng kok Mas, seneng banget."
"Gak yakin aku, dari tadi iya iya aja. Usul kek pengen apa, kok aku pengen makan asinan mangga ya," gumam Alfindra.
"Besok aja aku beliin, Mas. Tidur yuk, udah malem." Almira mengubah posisi menghadap Alfindra, mereka saling tatap lama sebelum akhirnya kecupan singkat kembali Almira dapatkan.
"Mas soang ih, dari tadi cium terus!"
"Kalau kamu mau balas cium balik gak apa-apa," seru Alfindra seraya merapikan anak rambut yang menutupi kening Almira.
"Dih modus, aku baru tahu ya kalau suami bisa nyidam. Kirain cuma istri aja yang nyidam. Makanya pas aku merasa nggak ada yang aneh dari tubuhku aku B aja gitu, Mas."
"Aku juga mana tahu, Mir. Kirain malah kena asam lambung aku, soalnya beberapa hari terakhir kan makan enggak enak banget, apalagi pas jauh sama kamu!" aku Alfindra.
"Makanya mas jangan dingin-dingin nanti kualat loh menzolimi ibu hamil," kelakar Almira.
"Nakal ya kamu." Alfindra menarik tubuh Almira agar merapat, sesak tapi cinta.
***
Pagi menyapa sepasang suami istri yang lagi uwu-uwunya. Bangun tidur dengan tangan masih saling memeluk untuk kali pertamanya membuat wajah Almira memanas seketika.
Ia sedang mencoba flashback dimana saat Alfindra mengakui tak cinta, kemudian bersikap dingin lalu sakit dan sekarang?
Kehidupannya mulai tertata dengan baik, Almira mulai memiliki semangat dan tujuan hidup untuk menua bersama sang suami.
"Semoga selamanya kita seperti ini, Mas. Aku nggak mau kehilangan kamu, semoga kita bisa menua bersama dengan anak-anak kita," gumam Almira menatap wajah pulas suaminya yang tampan meski mode terlelap.
"Selamat pagi suami gantengku," gumam Almira dengan senyum.
Cup...
Kecupan singkat ia daratkan, Almira sepagi ini sudah mencuri cium pipi suaminya sebelum bangkit membersihkan diri.
Almira menyiapkan sarapan di meja, setelahnya ia bermaksud ke supermarket membeli beberapa bahan dapur.
"Pagi Nona," sapa Madel saat mereka tanpa sengaja berpapasan di lift.
"Ya, Del. Apa aku bisa menumpang sampai supermarket terdekat?"
"Oke Nona, gimana kondisi Tuan?" tanyanya. Mereka keluar beriringan menuju parkir.
__ADS_1
"Jauh lebih baik, tapi sepertinya harus merepotkanmu untuk mengurus kerjaannya beberapa waktu," seru Almira.
"Aman Nona."
Sepanjang jalan, hanya ada keheningan karena Almira duduk di belakang. Ia tak ingin membuat Alfin marah atau cemburu karena hal-hal sepele, jadi lebih baik hal seperti itu ia hindari dari sekarang.
"Aku turun depan sana, Madel!" seru Almira.
"Ya, Nona."
Madel pergi setelah memastikan Almira masuk ke dalam supermarket. Melihat jam di pergelangan tangan, Almira berharap Alfindra masih istirahat atau paling nggak tak kelabakan mencarinya yang pergi tanpa pamit.
Menyusuri rak-rak sayuran segar, Almira memasukan beberapa sayuran yang sekiranya Alfindra dan dirinya suka. Lalu membeli daging ayam, daging sapi dan sosis, juga buah-buahan. Sayangnya, wajah Almira harus tertekuk kala tak melihat barang sebijipun buah mangga.
"Yah gak ada mangga, padahal mas Alfin pengen asinan mangga," gumamnya kecewa.
"Cari apa?"
Glekkk...
Almira meremang mendengar suara familiar di belakangnya yang membuat meremang. Lebih seram dibanding menyaksikan film horor langsung di bioskop.
"T-tante?"
"Saya tanya kamu nyari apa sampai kebingungan? Uangnya kurang?" tanya Silvia datar.
"Terus? Mangganya belum dapat?"
Almira menggeleng pelan, "nanti aku coba cari ke tempat lain," jawab Almira.
"Dimana alamatmu? Biar nanti Zion antar mangganya, kebetulan mangga belakang rumah berbuah banyak," seru Silvia masih mode datar.
"Boleh, di lantai yang sama dengan Madel, berselahan."
Silvia menggguk, "duluan."
Almira menatap tak percaya mama mertua yang tak mengakuinya itu. Hari ini Silvia sedikit melunak meski dalam mode datar. Diam-diam bibirnya tersenyum tipis disapa oleh Silvia meski tak sehe-don sapaan pada menantu lainnya.
"Langkah awal restu turun," gumamnya senang.
Setelah beberapa keperluan terbeli, Almira memesan taksi onlinee untuk pulang. Begitu sampai di apartemen, ia melihat suaminya terduduk lemas di tepian ranjang.
"Mas mual lagi?"
Alfindra mengangguk, "lemes banget rasanya," lirih Alfindra tapi tangan kekar itu masih kuat menarik Almira agar duduk dalam pangkuan.
"Lemes tapi kuat narik, aku bau mas habis belanja. Belum dapat mangga, tadi cari ke beberapa toko buah tapi gak ada," seru Almira.
__ADS_1
"Yahhhhh nanti ileran lho anakmu," seru Alfindra menjawir hidung bangir Almira.
"Pagi baby," sapanya mengusap perut.
"Udah puas belum nyiksa papa, kayaknya kamu balesin dendam mama pas papa jahat dulu ya," selidik Alfindra mengusap perut datar Almira seolah di dalam sana calon baby-nya mengerti apa yang sedang papanya bicarakan.
"Hahaha mas ini ada-ada aja, ya enggak lah. Jangan samain anak kita sama kamu," seru Almira tak terima.
"Kali aja, habis kalau tiap hari gini bisa kacau balau kerjaanku, Mir."
Almira merangkulkan tangannya lalu mencium sekilas pipi. Padahal kemarin ia yang mengatai Alfindra soang, tapi sekarang dia sendiri yang nyosor-nyosor gemes.
"Aku bebersih lagi, habis ini aku suapin." pamit Almira beranjak ke kamar mandi.
Almira mengenakan dress floral, lalu menuju meja makan. Mengambil beberapa potong roti kemudian membuat susu untuk suaminya. Lalu dibawanya senampan makanan dan susu itu ke balkon.
"Mas ayo sarapan," ajaknya.
Padahal hari udah hampir siang, matahari udah hampir tinggi. Alfindra menghampiri istrinya lalu menyeruput sedikit susu.
Aneh, gak mual.
"Aku suapin, biar gak balik makanannya." Dengan sigap menyuapkan potongan roti tawar dan selai itu ke dalam mulut Alfindra.
Ting tong...
"Ck! Ganggu momen aja," dumel Alfindra, ia pikir Madel datang karena biasanya hanya Madel yang akan ke apartemen.
Ting...
Suara pintu terbuka, Almira tak terkejut saat abang somplak suaminya berdiri di ambang pintu dengan membawa satu kresek penuh mangga.
"Mama bilang, ehm..." Zion berdehem sebentar.
"Masuk bang!" potong Almira dibalas anggukan.
"Siapa sayang?" tanya Alfindra membuat Zion berdecak mendengarnya.
"Sudah sembuh boy, sudah teriak-teriak kaya di pasar?" tanya Zion. Ia duduk mengangkat kakinya tak sopan di sofa lalu memperhatikan Almira yang meraih mangga dan membawanya ke dapur mini.
Alfindra sontak beralih ke sofa tamu, "ngapain?" tanyanya sinis.
"Nganter mangga buat neng cantik."
Plakkkk...
Alfindra menggeplak bahu abangnya, "hanya aku yang boleh bilang dia cantik," bisiknya ketus.
__ADS_1