
Siji, seng tak temoni genah jelas ning ngadepanku
Ayumu gawe aku sarwo salah tingkah ning ngarepanmu
Wit-witan do ngingeti
Lintang-lintange nyekseni
Gemiricik e banyu mili Koyok to jelasne roso senengku....
(Kecantikanmu membuatku salah tingkah di depanmu
Pepohonan mengingatkan
Bintang-bintang menyaksikan
Gemerciknya air mengalir
Seperti menjelaskan rasa sukaku)
Deni. C - jajalen aku
***
Lampu-lampu taman temaram membuat suasana semakin syahdu, ditambah bintang dan bulan disana turut menjadi saksi momen manis Alfindra dan Almira. Meski sudah berpengalaman menjalin asmara sebelumnya, hal itu tak membuat Alfindra dengan mudah mengungkapkan perasaannya untuk Almira.
"Cukup semesta jadi saksi gimana aku jatuh cinta sejatuh-jatuhnya sama kamu, karena mencintai tak sesimple ungkapan I love you atau aku cinta kamu. Tapi juga bagaimana cara kita membuat cinta itu terasa nyata. Almira, mungkin terkesan cepat tapi kamu pernah mendengar pernyataan cinta datang karena terbiasa bukan? Aku sadar, aku tanpa kamu adalah kosong!"
"Mas,--"
"Ssst... Denger dulu deh, aku lagi pengen mode manis-manis kaya makhluk yang sedang aku tatap ini." Alfindra meletakkan telunjuknya di bibir Almira lalu tersenyum usil. Ia juga sedang menghitung banyaknya dosa pada sang istri di awal-awal mereka menikah.
Rasanya, Alfin ingin membayar kesalahannya dengan semua materi yang dipunya sebelum karma datang perlahan, hanya berharap semoga saja tak sampai mendapat karma.
"Nanti aku diabetes," godanya mengerjapkan mata gemas.
"Hm, mulai. Ayo pulang, mau mampir ke mansion gak? Lama banget gak tengokin kamar kita," bisiknya pelan.
"Boleh, jadi kangen Subambang sama Budi," kelakar Almira.
Sontak Alfindra langsung mencubit hidung Almira, "gak boleh kangen cowok lain, apalagi itu Bambang atau Budi. Aku bisa memecat mereka kapanpun aku mau," kekeh Alfindra mulai posesif.
__ADS_1
"Ya ampun mas, mereka kan pengawal aku. Kalau gak ada mereka waktu itu mungkin aku nginep di rumah sakit," keluh Almira.
"Jadi waktu itu beneran di rumah sakit?" tanya Alfindra. Ia sampai mengubah posisi lalu menangkup pipi Almira.
"Beneran, aku gak pernah bohong! aku emang mau ke rumah papa, tapi belum sampai sana keburu mau pingsan ditolongin bang Rayyan."
"Rayyan lagi, Rayyan lagi," batin Alfindra muram. Namun, Alfin sedang tak ingin mencemburui orang lain di momen manisnya malam ini bersama Almira.
"Terus?" tanyanya ingin lanjut.
"Terus Bambang telpon katanya mas nyari aku di rumah papa, ngamuk-ngamuk! aku sempet bohong dan bilang di rumah papa karena sebel sama mas, kesel aku tuh kaya kalian itu sengaja apa gimana? gak habis fikir aku bisa-bisanya mas nyuruh aku pulang disaat,--- ah sudahlah gak usah dibahas."
Kini giliran Almira yang mode ngomel.
"Udah udah pulang aja kita, makin malem kayaknya makin keluar semua unek-uneknya. Pulang, gak jadi mampir. Batal ketemu Bambang," ajak Alfindra dibalas gelak tawa Almira.
"Mas jangan cemburu dong sama Bambang!" Almira melingkarkan tangannya di lengan kekar Alfindra.
"Enggak, kan aku lebih ganteng, lebih kaya, bibitnya lebih unggul," seru Alfin jumawa.
"Yuk pulang, mau ku gendong?"
Almira mengangguk saja, siapa tahu digendong beneran sampai mobil kan jadi gimana gitu. Ia yang tadinya senyum jail dibuat haru karena Alfindra benar berniat menggendongnya sampai mobil. Sampai-sampai mereka saat ini menjadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang dan menikmati waktunya di taman kota.
Namun, di saat lamunannya memperhatikan pahatan Tuhan yang sempurna, Alfindra berhenti dan menoleh ke arahnya hingga jarak wajah mereka hanya beberapa senti.
Deg... Deg... Deg... Degupan jantung Alfindra semakin kencang, menatap Almira di jarak sedekat ini memang jarang ia lakukan selain saat adegan ranjang mereka di rumah. Namun, berbeda dengan saat ini, detik ini dan waktu ini.
Cup!
Kecupan singkat Alfin daratkan di bibir semerah cerry milik Almira, sebelum ke gep orang-orang sekitar ia sudah lebih dulu menyudahi dan segera ke mobil agar tak khilaf berkepanjangan.
"Aduhhh lupa nanya dokter lagi," seru Alfindra merasa bo doh.
"Kenapa mas?" tanya Almira. Mereka sudah masuk ke dalam mobil dan bersiap pulang.
"Boleh gak gitu sering-sering begituan," lirih Alfindra.
"Gak tau deh, coba tanya mbah gugleee."
"Kok mbah gugle? Emang mbah gugle dokter," seru Alfindra. "kalau lihat kamu gini bawaannya pengen puk-puk terus nidurin," seloroh Alfin langsung mendapat pelototan dari Almira.
__ADS_1
"Mulai me*sum," dumelnya.
"Hahahahaha emang salah ya kalau me*sum sama istri sendiri kan halal, udah berlabel MUI," seru Alfindra.
"Ya iya halal kok, gak ada yang larang."
***
Semakin hari Almira dan Alfindra semakin kaya lem, lengket-lengket gak mau pisah.
Bahkan Alfindra sampai mengajak Almira ke kantor, meminta Almira menemani aktivitasnya paling tidak sampai makan siang.
Hingga keduanya sama-sama mengernyit kala Silvia mengundang mereka makan malam di rumah, ada apa gerangan?
Lain dengan Zion yang gesrek dan ogag-ogahan. Salma menghindar pun ia tak berusaha mengejar seperti dulu-dulu, tak berniat membujuk apalagi ngajak ka win dadakan seperti pasangan yang habis terlibat one night stand lalu hamil lalu nikah. Zion masih santai dengan kegabutannya gadoin adik ipar si neng cantik.
"Malam, Om!"
"Malam, Pa!" Sapa Almira dan Alfin barengan kompak tentunya dengan senyum sepasang yang terlihat bahagia.
"Eh si neng cantik," goda Zion di belakang Dominic.
"Malam kalian, ayo masuk-masuk!" ajak Dominic.
Mereka mengekor masuk dan menuju sofa tamu, Silvia menghampiri lalu duduk di sebelah Dominic, masih dengan wajah datarnya menyambut Almira.
"Gimana kesehatan kamu, Fin? Masih mual-mual?" tanya Silvia. Mendengar sang putra mengalami sindrom cauvade membuatnya menggeleng miris dan pasrah.
"Aku dan Almira sangat baik," serunya memeluk pinggang Almira posesif, isyarat agar Almira lebih dekat.
"Ohhhh kalau Almira sehat kan?"
"Sehat tante!" lirih Almira menjawab.
"Kok masih tante? Mama dong, kan istriku ini mamamu juga," seru Dominic mencairkan suasana.
"Eng,---" Almira hanya meringis kikuk tak menjawab.
"Iya, kamu boleh panggil aku mama!" Silvia memalingkan wajahnya, gengsi. Sekarang Almira tahu, menurun dari siapa sikap gengsian Alfindra ini.
"Nah kan nah kan," goda Zion.
__ADS_1
"Gini nih, Fin. Sebelum kita bahas mending makan dulu, udah malam. Gak baik juga makan terlalu malam. Habis ini aja kita bahas soal kamu sama Almira," jelas Dominic mengutarakan maksud Silvia meminta Almira dan Alfin datang.