
"Please, Mir. Jangan ngambek lah," bujuk Alfindra. Ingin memeluk sang istri yang sudah mengubah posisinya menjadi berdiri membelakanginya. Lebih memilih menatap gedung-gedung di luar yang sama tingginya dengan Kingdom Grup, sebagian dinding yang menggunakan kaca membuat kantor milik Alfindra terlihat megah. Almira tak berniat menjawab atau membalas bujukan Alfindra, dadanya masih diliputi sesak yang teramat saat melihat sendiri suaminya memegang lengan sang mantan.
Almira tersenyum lalu berbalik menatap Alfindra, "aku bawa rujak buat Mas, jangan lupa dimakan."
"Aku mau pulang," lirihnya mengalihkan pandangan. Tak ingin lemah hanya karena menatap wajah Alfindra yang memelas.
"Mir," panggilnya tak dihiraukan oleh Almira.
Greppp....
"Jangan dingin-dingin, aku gak bisa kamu cuekin," keluhnya memeluk sesak Almira.
"Mas lepas nggak, sesek!"
"Gak akan, maafin aku. Aku janji gak akan interaksi apapun sama Salma. Kalau perlu kita pindah tempat tinggal," seru Alfindra bersungguh-sungguh.
"Mas berlebihan, aku tidak marah."
"Bohong, kamu pasti marah kan. Kamu cemburu kan, iya kan?" tanya Alfindra.
"Cemburu hanya untuk orang-orang yang masih kekanakan. Dibanding mencemburuimu lebih baik aku tidur di apartemen, atau shoping!"
Glekk...
Definisi hati dan bibir tak singkron, meski bibir berkata A, tapi lain di lubuk hati.
"Aku mau pulang, awas!" garangnya membuat seketika Alfindra menghalangi pintu. Jangan sampai sang istri pulang dalam keadaan hati yang kurang baik, ia harus bisa membujuk Almira waktu ini juga.
"Kalau gak marah kenapa harus cepet-cepet pergi, gak mau temenin aku makan, aku ini lagi nyidam loh!"
"Bodo, yang hamil aku. Mas jangan ngadi-ngadi ya, emang kalau aku pengen bakpia langsung dari Jogja bakal mas kabulin? Jangan jadiin nyidam untuk alasan memakhlumi kesalahan," ujar Almira.
"Sayang, ya ampun. Bilang dari tadi kalau pengen makan sesuatu, biar aku suruh Madel beli."
"Aku mau mas sendiri yang usaha! jangan harap aku bakal maafin kalau belum nemu yang aku mau," kekeh Almira ia ingin segera pergi dari kantor Alfindra tapi suaminya itu malah berdiri menghalangi pintu tak berniat pindah.
"Oke, aku cari sekarang juga!"
Almira tersenyum penuh arti, "harus asli dari Jogja ya, Mas! Aku nggak mau yang lain."
Deg....
"Mir, Jogja itu jauh lho," keluh Alfindra. Menurutnya mau bakpia Jogja, Jakarta, atau manapun rasanya sama. Jaman sekarang cari makanan khas kota lain juga bisa di Jakarta yang serba ada.
"Emang jauh, karena yang deket itu kamu sama si mantan, awas mas aku mau nyusulin Caca ke caffe bang Rayyan!"
"Mir!"
Mau tak mau, Alfindra pasrah membiarkan Almira pergi untuk menenangkan diri. Mungkin ada kalanya wanita butuh waktu untuk quality time sendiri, tak harus melulu tentang berdua.
***
__ADS_1
Setelah Almira pergi, giliran Alfindra yang dibuat kelipungan.
"Beneran nyidam gak sih?" gumam Alfindra.
Ia sampai mondar mandir di ruangan miliknya lebih dari lima kali memutari meja, menatap tembok dan terakhir berjalan keluar menemui Madel.
"Del," panggilnya.
"Ya, Tuan?" Melihat hawa-hawa di sekitar Alfindra kelihatannya sang tuan sedang pusing tujuh keliling tujuh tanjakan dan turunan.
"Emang kalau mau beli bakpia patok harus ke Jogja ya?"
"Tidak juga Tuan, karena saat ini banyak makanan khas daerah terjual di Jakarta!"
"Dimana?" tanya Alfindra lagi tak sabar.
"Biar saya saja yang cari, Tuan!" pinta Madel dibalas gelengan kepala Alfindra.
Mendadak ia mendapat ide untuk mengajak si empu langsung saja ke Jogja, dari pada repot-repot sekalian healing. Mungkin Almira merasakan jengah apalagi di apartemen setiap hari hanya menunggui dan mengurusnya.
Gegas menyambar kunci, tak sabar menunggu waktu pulang ia pun berinisiatif menyusul Almira ke caffe Rayyan.
"Del, aku pergi!" pamitnya tanpa menunggu jawaban Madel, dengan tergesa masuk ke dalam lift yang akan membawa Alfindra ke lantai dasar.
"Ck caffe yang mana pula, caffenya kan banyak," sebal Alfindra. Kalau dipikir-pikir, apakah ini karma karena sudah menjahili Rayyan.
Mulai dari caffe dekat kantor, tempatnya bertemu Salma dulu dan Nihil. Lalu menyusuri caffe lain hingga matanya berbinar kala menemukan sosok yang dicari ada di sudut caffe kedua yang Alfindra datangi. Namun, belum juga mendekat sudah kalah lebih dulu Rayyan yang melayani istrinya dengan senyum sumringah meski ada Caca setelahnya.
Tak tahan Alfindra langsung berjalan cepat menembus orang-orang dan langsung duduk di kursi kosong dekat Almira.
"Jangan senyum-senyum sama istri orang apalagi di depan suaminya."
Glekkk,
Sindiran telak Alfindra berhasil merubah raut wajah Rayyan seketika.
"Aku cuma menyapa Almira, salah?" elak Rayyan.
"Mas,--" tegur Almira tak enak. Alfindra meraih segelas minuman yang ada di depan Almira lalu meminumnya sebelum lanjut bicara.
"Yang mas omong bener kan? atau kamu seneng dia senyum sama kamu," tunjuk Alfindra tepat di wajah Rayyan.
"Apaan sih kalian, malah berantem disini!" keluh Caca tak dihiraukan Alfindra pun Almira.
"Childish, mas aja pegang-pegang tangan mantan aku biasa!"
"Bukan berarti kamu harus membalas dengan hal yang sama Almira! yang aku lakukan itu jauh dari apa yang kamu bayangkan, apa perlu aku ajak kamu ketemu Salma biar kamu paham obrolan apa yang ada diantara kami tadi?"
"Boleh!" Almira menaik turunkan alisnya, biar suaminya itu sadar kalau sebenarnya Salma masih memiliki niatan menggoda. Kalau hanya sekedar minta tolong soal Bang Zion, bukan lebih bagus mendatangi rumah mertuanya sendiri toh Almira pikir keluarga Dominic bukan type manusia yang maksa banget.
"Oke ayo ketemu Salma!" ajak Alfin.
__ADS_1
"Sudah-sudah kalian pulang saja, selesaiin urusan kalian di rumah, kalau perlu di kamar. Gak malu dilihat pelangganku," ketus Rayyan, pandangannya tajam ke arah Alfindra si tuan pembuat onar bagi Rayyan.
"Tuh bener, selesain dengan yang dingin-dingin," sambung Caca.
"Kepala dingin!" kompak Almira dan Alfin membalasnya.
"Huh!" desis Rayyan.
"Sudah mengganggu acaraku, sekarang malah bikin ribut disini. Jangan mentang-mentang kamu CEO ya bisa seenaknya gaduh di tempat orang!"
"Ayo pulang, kita beli bakpia patok," bujuk Alfindra.
"Aku udah gak pengen, dahlah."
"Kalau gitu kita jalan aja yuk," Alfindra mengedip-ngedip genit.
"Moh!!!!!"
"Bwahahahahah sokorrr!" tawa Rayyan.
"Ayo ikut aku Mir sama Caca, kita mau,---" Rayyan tak melanjutkan ucapannya, melirik mengejek ke arah Alfin.
"Yokkk!"
"Hahaha, pesona Pak Alfin kalah sama kita, Mas. Pesonanya dah luntur!"
"Iya tuh! Habis jadi laki bawaannya gak ramah di kantong, hahahah!"
Puas mengejek Alfindra, akhirnya Rayyan dan Caca membiarkan Almira pulang juga dengan laki-laki itu setelah membujuk dan merajuk lama. Caca kemudian menghampiri Rayyan di ruang kerjanya.
Klek...
"Makasih ya, Mas udah mau bantuin Almira!" senyum Caca menghampiri tempat duduk Rayyan.
"Tapi kamu gak cemburu kan?" tanya Rayyan.
Caca menggeleng, "ya walau awalnya kamu suka sama Almira kan cinta bisa belok, jalan tak selalu lurus."
"Tapi kamu kok tahu kalau suami Almira bakalan dateng?"
"Tadi pas aku minum gak sengaja liat mobilnya parkir, mas lupa kalau sebelumnya pak Alfin bawa aku ketemu Almira?"
"Oh iya ya, bagus lah! Semoga berantemnya cuma sekedar berantem."
"Pak Alfin itu udah bucin poll sama Almira tapi masih banyak gensi, belum sepenuhnya keluar gengsinya. Manggil sayang aja cuma pas bujuk-bujuk! Curiga aku semua laki-laki itu sama."
"Kamu mau dipanggil sayang?" tawar Rayyan membuat Caca tergelak keras.
"Enggak, aku masih tau diri kan masih karyawan! Dahhh ah, aku keluar dulu gak enak sama yang lain," pamit Caca tersenyum.
"Dih sok manis, mau nyaingin gula. Nanti aku diabetes lho yang," goda Rayyan membuat pipi Caca langsung merah.
__ADS_1
"Apa sih," dumelnya kemudian meninggalkan Rayyan karena tersipu malu.