PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab 62


__ADS_3

Restorant yang tak jauh dari Kingdom grup menjadi pilihan Alfindra untuk meeting siang ini. Bersama Madel, ia menunggu investornya, Pak Raka.


Tap... Tap... Tap... Langkah kaki anggun memasuki area resto. Wina menghela napas kasar karena harus mewakili papanya bertemu Alfindra hari ini.


"Sebelah sini, Nona," seru Rian sang assisten membawanya ke meja dimana Alfindra dan Madel saat ini berada.


"Selamat siang Pak Alfindra, Madel," sapa Rian lalu memperkenalkan Wina ke Alfindra dan Madel sebagai perwakilan Pak Raka.


"Shitttt," umpat pelan Madel.


Alfindra menoleh curiga, tapi detik berikutnya menyambut Wina dengan ramah dan mempersilahkan mereka duduk.


"Kita pesan minum dulu," ujar Alfindra menginterupsi.


Berbeda dengan Alfindra dan Rian yang tampak biasa saja, aura kebencian justru terpancar di wajah Wina untuk Madel. Ia belum selesai memberi perhitungan pada laki-laki itu.


"Bagaimana menurut anda Nona, apakah ada hal yang perlu ditanyakan soal kerja sama hari ini. Saya akan pastikan perusahaan Pak Raka mendapatkan keuntungan yang banyak," ujar Alfindra.


"Hah, apa?" Wina yang sibuk menatap benci Madel pun gelagapan.


"Pak Alfindra meminta pendapat anda Nona," bisik Rian.


"Baguslah kalau begitu," jawab singkat Wina.

__ADS_1


Alfindra dan Rian saling pandang, mereka merasa putri sulung Pak Raka sedikit kurang ramah. Lantas menyudahi pertemuan mereka dengan makan siang.


"Del, aku ke toilet dulu," ujar Alfindra diangguki Madel.


"Ck!" Wina berdecak, ia kesal. Masih sangat kesal hingga dengan segaja menginjak kaki Madel dengan highell nya.


"Auhhh, kamu!" desis Madel meringis saat kakinya diinjak meski tertutup oleh sepatu hitam miliknya. Kaki heel yang runcing tentu dapat Madel rasakan aura kebencian Wina pasca kejadian pagi tadi.


"Upsss, sorry... Sengaja!" ledeknya membuat Madel hanya bisa mengepal di udara.


"Nona, anda jangan sembarangan menyinggung orang," bisik Rian masam. Wina tak perduli, toh semua berawal dari laki-laki di hadapannya saat ini yang merusak body belakang mobilnya.


"Aku sedang tidak menyinggungnya, Rian. Aku hanya membalas apa yang harusnya aku balas," desis Wina.


"Nona Wina, ada baiknya masalah perasaan jangan dibawa-bawa dalam hal bisnis. Kita bisa menyelesaikannya nanti malam berdua," seru Madel membuat Wina seketika bungkam.


Bukan, bukan masalah perasaan, kenapa malah bawa-bawa perasaan. Ingin rasanya Wina mengumpati Madel sekarang juga.


"Dasar sinting!" makinya tak tahan.


"Siapa yang sinting?" tanya Alfindra baru duduk setelah dari toilet.


"Tidak ada tuan, mungkin anda salah dengar. Karena Nona Wina mengangkat telepon tadi." bukan Rian yang menjawab, melainkan Madel. Hal itu tentu membuat Rian curiga, ada hubungan apa gerangan? Antara Wina dan Assisten Pak Alfindra.

__ADS_1


Meeting berlanjut selama satu jam, setelahnya Alfindra membiarkan Wina maupun Rian menikmati makanan yang ada di caffe itu.


"Semoga kita bisa bertemu lagi, Nona." Alfindra menjabat tangan Wina sebelum pulang. Madel masih enggan, hingga tiba Alfindra menyenggol bahunya, ia baru mengulurkan tangan. Namun, Wina malah melengos dan langsung pergi setelah berbasa-basi dengan Alfindra. Menggeret Rian meninggalkan caffe segera.


"Sikap Nona Wina seperti kurang menyukaimu, Madel? Apa kalian saling kenal?"


"Tidak, Tuan!" jawab Madel apa adanya. Karena memang ia merasa belum berkenalan dengan putri Pak Raka itu.


"Sungguh? tapi dia terlihat seperti membencimu?" pancing Alfindra.


Lagi Madel hanya bisa bungkam, hingga mobil mereka melesat kembali ke kantor pun ia enggan bercerita. Namun, saat sampai di lantai tempat ruangannya dan Alfindra berada, Madel mengikuti sang boss masuk ke dalam ruangan.


"Maaf Tuan, sebenarnya..."


"Ya, Madel?" tanya Alindra.


Madel pun menjelaskan kalau pagi tadi mereka tanpa segaja bertemu. Madel bahkan membuat body belakang mobil Nona Wina ringsek. Lantas meringis kala mendapat tatapaan syok dari Alfindra.


"Untung Nona Wina tak membawa masalah ini dalam kerja sama kita. Kamu pakailah uangku, dan bayar semua ganti rugi kerusakan sebelum telat," titah Alfindra.


"Tapi, Tuan..."


"Tak ada tapi-tapian, kecuali kalau tapi itu kamu bisa menakhlukan Nona Wina," seru Alfindra.

__ADS_1


"Ck! Tuan," gumam Madel mendekus pelan.


__ADS_2