PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
57. INI BUKAN JANJI


__ADS_3

Jaman sekarang, janji itu hanyalah kalimat penenang...


Almira~


***


PYURRR... PYURRR...


Deburan ombak semakin malam semakin mendekat, meski sudah berjam-jam menunggu juga Almira yakin suaminya akan datang. Entah kenapa sedari tadi berdiam di penginapan pun tak serta merta membuatnya tenang. Sejak bertemu Madel, ia malah jadi kepikiran terus menerus dengan Alfindra. Apa benar suaminya tak enak makan, kerja bahkan harinya berantakan akhir-akhir ini.


"Shittttt," umpat Almira kesal sendiri, ia mengelus-elus perutnya yang mulai tampak membuncit kecil.


"Hai kamu, kangen nggak sama papa kamu? Kok mama kangen ya?" gumamnya pelan.


"Hm..." Meski belum terasa pergerakannya, Almira yakin calon bayinya saat ini sangat mengerti hatinya. Almira merasa mereka memiliki perasaan yang sama.


"Ishhh," desisnya pelan, sebal dengan diri sendiri saat menyadari hati dan bibir yang tak singkron. Hatinya malah dengan tak tahu malu merindui Alfindra sementara bibirnya kekeh merapal mantra agar bertahan untuk memberikan sang suami pelajaran.


GREPPP...


Pelukan tanpa diduga dari belakang membuat Almira tersentak, apalagi di malam seperti ini di tepi pantai membuat bulu kudunya meremang seketika.


"S-sayang," lirih Alfindra dengan suara parau.


Almira sontak menoleh, jantungnya berdegup kencang tatkala mendengar suara yang akhir-akhir ini ia rindukan meski dibaliknya Almira gengsi mengakui.


"Mas,--" terhenti, matanya menelisik penampilan Alfindra yang acak-acakan. Tak seperti gambaran dalam bayangan Almira kalau suaminya akan datang dengan penampilan keren, tapi ini...?


"Maafin aku, Mir. Mungkin maaf aja gak akan cukup buat bikin kamu percaya kalau kali ini aku mengaku salah. Tapi, aku benar-benar cinta sama kamu dan aku janji akan melengkapi cintaku dengan kepercayaan, kesetiaan juga kejujuran."


"Kamu kok jelek, Mas!" ucap Almira malah sibuk menelisik penampilan suaminya.


"Almira sayang," serunya memeluk sang istri kembali. Kali ini lebih erat, tak ingin segera melepaskannya.


"Aku akan selalu mempercayai kamu," gumamnya lirih. Almira hanya bisa meraih lengan suaminya kemudian melepas pelukan. Dengan lembut mengusap wajah, juga rahang tegas suaminya yang mulai berewokan. Apa seberantakan itu sang suami ia tinggal?

__ADS_1


"Nggak ada aku, mas ngapain aja?" tanya Almira.


"Kamu nggak ada aja pikiran aku tetap dipenuhi kamu," jawab Alfindra.


"Maafin aku ya?" masih menunggu kata maaf dari Almira, hingga Alfindra terus mengulangi kata maaf berharap istrinya bilang, "Ya, atau yess."


"Iya."


"Yeeee," sorak Alfindra langsung mengangkat tubuh Almira, memutarnya hingga si empu memekik terkejut.


"I LOVE YOU, Almira sayang," pekiknya memancing orang-orang sekitar pantai ingin tahu.


"Mas, aku takut jatuh!" pekik Almira, masalahnya ia sedang hamil tapi Alfindra justru dengan santai menggendongnya tinggi hingga wajah cantik Almira tepat diatasnya jika menunduk.


"Selagi ada aku kamu nggak akan jatuh sayang, kecuali jatuh cinta denganku setiap hari." Meski terkesan kaku, tapi gombalan Alfindra cukup membuat Almira tersenyum malu.


"Gombal, Mas."


"Ayo menepi, angin malam nggak baik buat anak gadis kita," selorohnya membuat Almira mendelik setelah diturunkan.


"Aku maunya cewek sayang, biar nggak ada laki-laki lain yang kamu cintai," goda Alfindra membuat Almira menekuk wajah.


TUKKK...


"Laki-laki juga anakmu, Mas!"


"Hehehehe..."


***


Keduanya masuk setelah berjalan cukup jauh dari pantai. Almira memang sengaja memilih penginapan sederhana. Namun, meski sederhana tak mengurangi keestetic-kannya. Almira suka sesuatu yang membuatnya tenang seperti tempat ini.


"Pantes gak ketemu, kamu nya aja sembunyi disini," gumam Alfindra mengekori istrinya.


"Karena aku tahu kamu nggak bakal nyari kesini, Mas! Benar kan tebakanku," aku Almira jumawa.

__ADS_1


"Madel nggak mau bantu cari," keluhnya.


"Itu artinya kamu harus usaha sendiri. Masa nyari istri mesti nyuruh-nyuruh orang, kalau gitu caranya kapan Madel punya waktu cari pasangan. Lagian meskipun dia tahu, aku pikir sekarang dia mulai berada di pihakku," seru Almira.


"Namanya juga usaha, usaha kan bisa lewat jalur mana saja," elak Alfindra.


"Hm."


Almira masuk ke dalam kamar tak terlalu luas di lantai dua. Ia langsung membuka tirai hingga tampak hamparan laut dari jendela.


"Ini gak ada balkonnya?" tanya Alfindra membuat Almira memutar bola matanya.


"Nggak ada, jangan bandingin sama villa tempat kita nginep dulu, jauh!"


"Istriku kalau ngambek emang bukan maen. Cemburunya bikin geger dunia perkantoran," gumam Alfindra, merangkulkan tangan di pinggang Almira lalu menyenderkan kepalanya tepat di bahu yang masih terlapis jaket.


"Alasan."


"Bener, gara-gara kamu dingin sama aku. Orang-orang kantor kena imbasnya."


"Ubah sifat bossy kamu itu yang, aku nggak suka!" ujar Almira.


"Oke oke sayang, janji."


"Sekarang kamu udah tau kan mantan kamu kaya gimana? Kaya gitu masih sok sok-an bilang aku mengenalnya dengan baik, hih! Secara tidak langsung kamu sedang nunjukin kalau aku yang sengaja nyiram dia," kesal Almira kembali membahas masalahnya.


"Iya janji," jawab Alfindra pasrah. Cewek kalau marah memang serem, bahkan kesalahan dulu-dulu pun bisa keluar semua jadi bahan ceramah.


"Janji terus, jaman sekarang janji itu cuma pemanis bibir alias kalimat penenang!"


"Aku buktiin ini bukan janji, udah ya. Sekarang bayik kita lagi kangen sama papanya, jangan ngambek terus!"


"Hm."


Namun, meski masih kesal Almira juga tak kuasa menolak sentuhan tangan Alfindra. Karena sejujurnya ia sendiri juga kangen dengan momen-momen in tim bersama suami.

__ADS_1


__ADS_2