PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab 67


__ADS_3

Setelah semalaman tidur melihat punggung, Alfindra mode membujuk. Apalagi ini adalah hari minggu, quality time-nya bersama Almira meski setiap hari begitu. Bersama sang istri bukanlah hal yang membosankan, Alfindra malah suka. Ingin rasanya setiap hari, tapi sadar kalau dia itu seorang suami, harus kerja, harus ngurus kantor, harus memberikan waktu pada Madel mencari jodoh. Alfindra tak ingin egois dan bahagia sendiri, asistennya itu sudah om-om dan wajib cari jodoh.


Maka, ada kalanya Alfindra memberikan Madel waktu luang.


"Pagi?" senyum sumringah Alfindra menyambut sang istri yang masih kumal, tapi keluar kamar. Ditatapnya jam dinding, membuat Almira membelalak sempurna.


"Aku kesiangan Mas, maaf." Dengan raut wajah bersalah menghampiri sang suami di dapur. Suaminya itu terlihat tampan memakai celemek sambil memegangi spatulla.


"Mas masak?" tanya Almira memicing, pasalnya ia tak pernah melihat suaminya bergelut di dapur.


"Hm, iya dong. Kamu harus cobain masakanku, ya walau rasanya rada-rada he he he..." Alfindra cengengesan. Dan melihat ekspresi suaminya seperti itu membuat Almira memicingkan mata curiga.


"Aku mandi dulu deh, Mas. Tadi buru-buru keluar kamar karena kesiangan, takut gak bisa bikinin kamu sarapan," ujar Almira.


Alfin tersenyum, "bahkan dalam keadaan kesel kamu masih mikirin perut aku, Mir!" lirihnya terharu.


"Eh kan emang sudah kewajiban aku..." Almira salah tingkah, lekas ia kembali ke kamar karena pipi di wajahnya sudah merona merah. Almira sampai lupa kalau semalam, pulang dari rumah mertuanya mode ngreog.


Alfin melepas celemeknya lalu mencuci tangan, sambil menunggu Almira keluar, ia pun menyiapkan dua piringnya untuk sarapan. Setelah hampir dua puluh menit, Almira keluar dengan rambut yang setengah basah. Ya, ibu hamil itu baru selesai mandi dan langsung keluar setelah memakai daster kebanggaannya.


"Maaf lama, Mas. Aku sekalian keramas habisnya sumpek, begah bawaannya!" Almira mengambil posisi duduk lalu hendak menyiapkan nasi. Menu yang terhidang pun terlihat lezat, apa suaminya itu punya bakat masak terpendam? Pikir Almira.


"Nggak lama, aku setia nunggu kok. Biar aku aja yang layanin kamu, sayang. Kamu cukup duduk manis, mau makan sama lauk apa?"


"Itu apa, Mas?"

__ADS_1


"Ayam mentega, cobain deh." Alfindra mengambilkan beberapa potong ayam itu ke dalam piring Almira. Ayam yang Alfin potong kecil-kecil lalu digoreng dengan tepung kemudian dimasak lagi dengan bumbu mentega, bawang bombay dan kawanannya itu memang terlihat menggoda.


"Em,---" Almira merasakan masakan suaminya, mengangguk-ngangguk sambil tersenyum misterius.


"Gak enak ya?"


"Gimana ya? Mas mau jawaban jujur atau bohongan?" bukan menjawab, Almira malah menggoda suaminya.


"Yang jujur aja deh, dari pada kamu bilang enak tapi aslinya hancur."


"Enak!" jawab singkat Almira.


Alfindra mengerjap, lalu mencicipi hasil karyanya, dan--- "not bad!"


"Hehehehehe..." Almira cengengesan, "overal enak kok, suami aku pinter masak ya," puji Almira sambil tersenyum manis.


Namun, ada rasa bangga menyeruak kala melihat Almira begitu lahap makan masakannya, ternyata semenyenangkan itu melihat Almira bahagia.


"Almira sayang, udah kamu duduk manis aja. Hari ini aku yang beberes. Oh ya, karena Madel kemarin kasih info kalau si Rayyan Rayyan itu lagi piknik sama istrinya. Jadi kita kirim gift sama karangan bunga aja gimana?" usul Alfindra.


Wajah Almira yang tadinya senyum-senyum bangga mendadak kecut masam, "honeymoon kali, Mas!" desisnya sebal. "Kamu ada masalah apa sih sama Bang Rayyan, sampai dia nikah sama Caca pun kamu masih segitunya," dumel Almira.


Alfin hanya terkekeh pelan," kamu lupa kalau dia pernah ngancem aku dan bikin aku tertekan, dia pernah bikin aku cemburu buta?"


"Tapi kan kenyataannya gak seburuk itu. Caca itu sahabat aku lho," kesal Almira. Masih tak terima dengan sikap Alfindra yang masih suka cari gara-gara dengan Rayyan.

__ADS_1


"Damai itu indah, siapa tahu dengan melihat persahabatan aku sama Caca kamu jadi punya pikiran mau temenan sama Bang Rayyan!"


"Sayang, itu nggak lucu. Temenku cuma Madel," kilah Alfindra.


"Dan Madel cuma nganggep kamu boss, bukan temen," ledek Almira.


"Suka-suka kamu aja, yang!" pasrah Alfindra. Selesai mencuci piring dan membereskan semuanya, ia menghampiri sang istri yang masih saja masam.


"belanja yuk, cari baju buat anak-anak kita?" ajak Alfindra merayu.


***


Jadilah suami istri itu ke mall terdekat, langsung menuju gerai perlengkapan bayi. Almira sangat antusias memilih-milih baju bayi juga perlengkapan persiapan melahirkan. Banyak barang yang perlu ia beli hari ini, dan Alfindra menuruti semua keinginannya.


"Mas, aku jadi kepikiran pengen desain kamar buat anak-anak kita, gimana?"


"Iya nanti aku siapin, yang! Aman lah itu," seru Alfindra.


"Mau beli ranjangnya sekalian gak? kira-kira bakalan keluar tepat waktu apa maju nih?" Alfindra menggandeng kembali lengan sang istri, "kayaknya gak sabar ya dek pengen ketemu papa.." Alfindra sedikit membungkuk, tepat di depan perut sang istri membisikkan kalimat-kalimat lembut.


"Mas mereka nendang," lirih Almira senang akan tetapi seketika menegang karena tendangan mereka terlalu keras.


"Duduk dulu disini, aku bayar dulu ya. Barangnya biar bisa langsung dikirim ke rumah," pinta Alfindra. Almira mengangguk, ia mengusap-usap lembut perutnya, menahan rasa tendangan yang berhasil membuat hatinya bercampur-campur. Senang, bahagia, juga takut.


Saat sedang menunggu di kursi depan gerai, mata Almira menangkap sosok Madel bersama seorang wanita.

__ADS_1


"Madel kan itu? Madel bukan sih?" gumam Almira antara penasaran dan tak percaya.


__ADS_2