PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab 68


__ADS_3

Tanpa menunggu sang suami lebih dulu selesai melakukan pembayaran, Almira bergegas. Ia lebih penasaran melihat Madel keliling mall dengan seorang wanita, yang menurut Almira sendiri terlihat berkelas.


"Astaga beneran Madel, si kanebo kering itu punya kekasih," gumam Almira tak bisa menyembunyikan keterkejutannya.


"Cantik sih," puji Almira meski menurutnya interaksi Madel dan wanita itu masih terkesan biasa. "mungkin lagi pede kate, hehehehe!" Asyik mengikuti Madel dan seorang wanita membuat Almira lupa sejenak akan Alfindra yang kelimpungan.


Masih di mode persembunyian, kini Almira melihat Madel memasuki gerai pakaian branded, "wah wah," lagi Almira terkesima meski terkesan mirip gumaman.


Almira tersenyum, ia malah sibuk memperhatikan Madel dan mengikuti asisten suaminya itu. Sementara Alfindra yang sudah selesai melakukan pembayaran tersenyum sumringah menenteng beberapa paperbag keluar gerai. Namun, senyum itu luntur kala tak menemukan siluet istrinya. Alfin panik, ia masuk kembali ke dalam gerai barangkali Almira masih disana dan melihat-lihat.


Deg...


Mengusap keningnya yang berkeringat, jangan-jangan istrinya hilang. Alfin mengecek gerai-gerai lain yang berjejer tapi nihil, melihat sekeliling tapi tak menemukan apapun. Hal itu tentu membuat Alfindra semakin pias.


"Atau ke toilet?" gumam Alfindra, ia mencoba tenang dengan menghubungi Almira, sayangnya tak ada jawaban.


"Shitttttt," umpatnya langsung setengah berlari ke arah toilet.


Sampai disana malah beberapa ibu-ibu menghadangnya, "maaf pak, ini toilet perempuan."


"Istri saya mungkin di dalam," seru Alfin gusar. "Istri saya hilang, dia hamil besar. Saya takut dia di dalam toilet dan kesakitan."


Setidaknya itu yang ada dipikiran Alfindra saat ini, akan tetapi...


"Bukankah lebih bagus menginfokan ke petugas keamanan, Pak. Siapa tahu istri anda hanya nyasar di gerai barang mewah," sela ibu-ibu dengan gaya elit.

__ADS_1


"Hm." Karena kesal dengan mereka, Alfindra berbalik dan meninggalkan area toilet, akan tetapi ia tetap memakai saran ibu itu menuju bagian keamanan.


Setelah berbincang lama, akhirnya Alfindra bernapas lega. Semoga dengan pengumuman dari pihak keamanan, ia bisa menemukan Almira.


'Panggilan kepada Nona Almira, Nona Almira,--" pihak keamanan itu terhenti dan menoleh ke arah Alfindra sambil berbisik pelan.


"Nama panjangnya, Pak?" tanya pihak keamanan itu. Alfin menggaruk tengkuk mendadak blank.


"Almira nama panjangnya siapa ya?" batin Alfin mendadak panik, bodohnya ia benar-benar lupa. Mau panggil Almira Arraya, nanti malah diamuk karena itu nama belakang Hana. Sial, Alfindra malah ingat namanya Hana, bukan istrinya. Sungguh kebodohan hakiki yang baru Alfin sadari hari ini.


"Bilang aja Almira istri Alfindra," tegas Alfin kemudian menggaruk hidungnya, merasa lucu.


"Panggilan kepada Nona Almira, Nona Almira istrinya Pak Alfindra diharap ke bagian keamanan. Sekali lagi panggilan Nona Almira kesayangan Pak Alfindra diharap ke bagian keamanan."


Plakkkk...


"Hm," jawab Alfindra singkat.


Di tempat persembunyiannya, Almira berdecak dengan wajah memalu berjalan pelan ke bagian keamanan. Dengan wajah menunduk, ia terus berjalan ke tempat dimana suaminya berada.


"Mbak yang dicari itu ya?" seru seseorang yang melihat gelagat Almira mau ke bagian keamanan.


"Hehehehe iya Mbak," jawabnya meringis menatap SPG yang menanyainya.


"Wahhh, suami anda so sweet sekali hehehehe, baru pergi sebentar sudah geger di keamanan mana panggilnya kesayangan lagi," celotehnya kembali hanya dibalas ringisan malu oleh Almira.

__ADS_1


"Mari Mbak!" ujar Almira lalu bergegas mempercepat langkah.


"Hati-hati mbak, lagi hamil jangan cepet-cepet jalannya," seru si SPG menatap kepergian ibu hamil itu.


Bukan hanya Almira yang menuju ke bagian keamanan, kini Madel pun turut bergegas kesana karena khawatir istri Alfindra itu beneran hilang. Dengan menggeret tangan Wina tak sabar, akhirnya mereka sampai di bagian keamanan setelah Almira datang.


"Astaga, Mas. Aku malu, kenapa gak nama panjang aja sih," keluh Almira menghampiri suaminya. Sementara Alfindra langsung tergelak memeluk sang istri. "Aku khawatir tahu, takut kamu dan anak-anak kita kenapa-napa!" Alfin melerai pelukan, ia bahkan sampai membolak balikkan tubuh Almira demi memeriksa kalau istrinya itu baik-baik saja.


"Tuan!" panggil Madel. Seketika pasangan suami istri itu menoleh.


"Kamu disini, Del?" tanya Alfindra lantas melirik wanita di belakang assistennya yang tampak salah tingkah.


"Ehhh, itu---" Madel menoleh ke arah Wina dibalas anggukan dari anak pak Raka itu.


"Itu dia yang biang keladinya," seru Almira menunjuk Madel. Yang ditunjuk malah melongo, "saya kenapa Nona?"


"Ya kamu, aku kan hilang karena ngikutin kamu!" aku Almira meringis.


"Hm, jadi kamu buntutin Madel pacaran jadi lupa sama suami?" sindir Alfindra gemas, istrinya itu memang super. Terbayang betapa hebohnya Almira melihat sendiri Madel yang mirip kanebo tiba-tiba gandeng wanita keliling mall, pantas lah kalau istrinya langsung lupa diri lupa suami.


"Ehhh, kita gak pacaran?" protes Wina. "Pak Alfin kan tau kalau hubungan kita sebatas bisnis," sambungnya lagi berusaha mengelak.


"Hubungan bisnis gak harus sampai gandengan tangan kan?" selidik Alfindra.


Skak...

__ADS_1


Keduanya bungkam, detik berikutnya baru sadar dan genggaman tangan mereka melepas.


__ADS_2