
Bukan hanya Hana yang mengunjungi rumah Almira dan Alfin di hari minggu, tapi juga Madel dan istrinya. Ini pertama kalinya Wina datang ke rumah mantan atasan suaminya. Setelah tahu, Almira tak bisa ikut datang ke pernikahan karena harus menjaga Ayara dan Arsa yang sudah lebih dulu tertidur.
"Masuk, Del. Kebetulan lagi pada santai. Nona Wina," sapa Alfindra.
"Wina saja Pak Alfin," seru Wina seolah keberatan dengan panggilan formal itu.
"Kalau begitu panggil Alfin saja, biar lebih akrab," usul Alfindra.
"Hai, Mbak." Wina menghampiri Almira, membuat istri Alfindra itu tersenyum lebar. Mereka pernah bertemu kala di mall waktu itu.
"Hai, Wina. Ayo duduk, anggap aja rumah sendiri," ujar Almira.
Wina mengangguk, "kembar mana?" tanya Wina.
Mereka datang disaat si kembar waktunya tidur siang.
"Tidur, tadi sama kakakku. Gimana bulan madu?" goda Almira. Jelas ia tahu kalau Wina dan Madel baru pulang dari bulan madu.
Sungguh Almira tak menyangka jikalau Madel menikahi wanita kelas atas seperti Wina.
Wina hanya tersenyum, sementara Madel meringis. Yang satu malu-malu, dan yang satunya datar bin kaku.
Melangkah ke dapur, Almira membuatkan minum untuk tamunya. Membawa serta camilan lagi yang baru karena yang ada di ruang tamu sebagian sudah tandas.
"Seadanya aja, ya? Kalau hari minggu emang bibi sama yang lain lebih sering libur," ujar Almira.
Wina mengangguk, mengobrol ringan bersama Almira nyatanya membuat mereka semakin akrab.
"Mbak gak kerepotan kalau ditinggal libur gini? Kan dua anak?" tanya Wina penasaran. Ia dan Madel memang tak berencana menunda punya anak, tapi Wina ingin sekali tahu gimana rasanya jadi ibu rumah tangga beneran seperti Almira.
"Nggak repot kalau kita ikhlas, yang penting jangan mudah emosi. Setiap anak memang beda-beda, dan aku syukur banget sih baik Ayara atau Arsa mereka nurut. Paling-paling harus selalu ngakak lihat perdebatan mereka."
__ADS_1
"Wahhh, aku pikir karena kembar jadi mungkin bakal sering berantem gitu," ujar Wina. Takjub, melihat wanita se-sabar Almira.
Almira melirik suami dan Madel bergantian, lalu mendekati Wina. Ia juga menceritakan soal Bianca yang mengganggu rumah tangganya kemarin. Sangat meresahkan! Dan Almira pikir, Wina juga harus tahu untuk jaga-jaga kalau nanti Madel lah incaran selanjutnya.
"Untung banget ya, Mbak!" bisik Wina seketika. Dan Almira harus beruntung meski suaminya kurang peka pada radar bahaya pelakor tapi kalau sudah tau tujuan wanita yang mendekatinya langsung dihempas jauh-jauh.
"Iya, selain setia dia juga sayang banget sama anak-anak." Almira mengulas senyum.
"Hmm, ikut seneng aku Mbak."
"Madel juga setia lho, hanya saja kaku kaya kanebo."
"Hahahaha..." Wina tergelak, membuat dua suami itu seketika mendekati istri masing-masing.
"Ngobrol apa sampai ngakak gitu?" tanya Alfin menjawil hidung istrinya.
"Ghibahin kalian! Mwehehehe..."
Kegaduhan di luar cukup lama, Hana yang tertidur pun terbangun sebentar dan malah mendapati suaminya ikut tidur bersama anak-anak Almira.
"Njirrrr berasa punya anak tiga," gumamnya lalu tersenyum melihat si kembar ikut tidur bersamanya dan Damian di kasur. Sengaja Alfin menjadikan salah satu kamar dengan konsep tanpa ranjang biar si kembar aman kalau tidurnya ditinggal.
Masuk ke kamar mandi, Hana membasuh wajahnya hingga saat berbalik sudah ada Wildan disana.
"Nambah dua anak lagi kayaknya gak buruk-buruk banget, Na."
"Kalau Mas yang lahirin aku sih oke," ujar Hana santai. Wildan tergelak, istrinya memang bisa banget ngeles-an.
Wina dan Madel pamit pulang, dan menjelang sore Wildan dan Hana pun harus pamit meski Damian sempat ngreog karena minta menginap tapi tak dituruti.
Alfin menatap istrinya lalu menepuk pelan sofa agar Almira mendekat, "seneng banget, ada apa?"
__ADS_1
"Kita ikut liburan yuk, Mas? Sama Kak Hana dan Bang Wil ke puncak?"
"Kapan? Aku sibuk deh kayaknya gak bisa ninggalin kantor," ujar Alfindra. Dan seolah tahu apa yang membuat wajah istrinya tertekuk, Alfin pun menarik pinggang sang istri agar lebih rapat.
"Sayang, kamu kan tahu kalau sekarang cuma ada Leon yang bantu. Dan kamu juga tahu kalau aku masih tahap bimbing dia buat jadi orang kepercayaanku, jadi..."
"Jadi Mas gak bisa, gitu kan?" tanya Almira.
"Maaf," gumam Alfin merasa bersalah. Ini pertama kalinya ia tak bisa menuruti keinginan sederhana sang istri.
"Gak papa kok."
"Gak ikhlas gitu, pasti nih batinnya kecewa, marah, sedih?"
"Enggak kok," sahut Almira singkat.
"Aku hapal dibalik 'nggak apa-apanya kamu' itu pasti ada apa-apa. Kita ini udah lama nikah lho, anak udah dua dan sebentar lagi lima. Aku harap kamu makin ngertiin aku, kan kamu bisa ikut tanpa aku. Ada papa kan? Jadi aku rasa kamu tetap bisa ikut sama anak-anak."
Almira terdiam, merasa bersalah karena egois.
Namun, seketika ia mendekus kesal karena perkataan Alfin yang bilang anaknya sebentar lagi jadi lima. Dikira kucing, gampang nambah.
"Gampang nanti, lagian anak-anak juga udah mulai mandiri. Bentar lagi tiga tahun."
"Iya, Sayang. Nanti pas tiga tahun itu, aku usahakan kita liburan bareng berempat naik pesawat," ujar Alfin sungguh-sungguh.
"Janji gak nih? Aku tagih terus sampai kesampaian?"
"Iya, gak janji hehe..." Alfin meringis saat Almira mencubit dadanya.
"Mancing nih, jadi mumpung anak-anak masih tidur gimana kalau kita main?" tawar Alfindra langsung mendapat pukulan di pinggang.
__ADS_1
"Ampun, punya istri hobi K D R T !!!"