PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab - 74


__ADS_3

Dua tahun kemudian,


"Arsa, Ayara! Jangan lari-lari, Nak." Almira terengah mengejar dua anak kembarnya. Meski berada di area halaman rumah. Ibu dua anak itu khawatir kalau-kalau putra atau putrinya jatuh dan terbentur sesuatu.


"Astaga, benar-benar aktif sekali," gumamnya tersenyum. Kaki-kaki Arsa dan Ayara melambat seiring mendengar omelan mamanya.


"Mm-aaah," ujar Ayara membuat Almira mengerjap pelan.


"Mamahh..." celotehan itu sudah sempurna. Almira sampai harus menahan tangis harunya. Lalu menghambur pada anak kembar yang tengah tersenyum lebar ke arahnya sambil merentangkan tangannya lebar-lebar. Terkhusus hari minggu, hari liburnya Alfindra, mereka akan mengurus kembar sendiri tanpa bantuan pengasuh. Dan sepagi ini, melihat anak-anak berlarian di halaman samping membuat Almira bahagia sekaligus kewalahan.


"Hallo semua, nungguin ya?"


Almira yang sedang memeluk Arsa dan Ayara menoleh ke arah suami yang sudah siap dengan pakaian casualnya.


Melihat wajah tampan Alfindra yang menurut Almira tak berubah membuat wanita itu mendadak murung.


"Galau gitu, kenapa?"


"Mas ganteng banget, sementara aku kucel gini!" memang benar, meski dibantu pengasuh pun Almira tetap harus memastikan putra dan putrinya sendiri, beberapa bagian memang sengaja Almira sendiri yang mengurus agar anak-anaknya tetap dekat, Almira tak ingin jikalau Arsa dan Ayara lebih dekat dengan pengasuh dibanding dengannya.


"Belanja yuk? Sekalian Mas temenin kamu nyalon," bisiknya lembut.


"Emang bisa? Arsa dan Ay,--"


"Bisa, jangan hot daddy gitu loh, apa sih yang gak aku bisa, bikinnya aja bisa masa' giliran ngasuh mau ngeluh," serunya.


Almira mengangguk saja, percaya pada ucapan sang suami. Gegas ia bersiap setelah mendandani anak kembarnya lalu menyusul Alfindra yang menunggu di pintu utama bersama Bambang.


"Pantes bilang bisa, ada Bambang," sungutnya pelan.


Alfin hanya terkekeh pelan, "tapi aku yang ngasuh, Bambang buat jaga-jaga."


"Siap sedia, Tuan!" sela Bambang.

__ADS_1


Sebenarnya, bukan tanpa alasan Alfin mengajak istrinya jalan-jalan. Ia hanya ingin melepaskan beban pikiran yang bersarang dua tahun ini tentang asistennya, Madel.


Satu tahun yang lalu,


"Ini Wina, Tuan masih ingat kan? Kami menjalin hubungan sekarang!"


Apa kamu mau meninggalkan perusahaanku, Madel?"


"Saya tidak berani Tuan, selama ini anda yang selalu ada untuk saya dan sampai saya berada di titik ini," aku Madel.


Alfin tersenyum, akan tetapi ia tak seegois itu.


"Beri aku waktu, paling tidak sampai Almira tak kerepotan, Madel."


"Saya akan tetap berada di sisi Tuan, paling tidak sampai saya dan Wina menikah," aku Madel membuat Alfin bernafas lega.


Nyatanya, pernikahan Madel dan Wina hanya tinggal menghitung hari...


***


"Banyak," sahut Alfindra lalu tersenyum tipis mengacak rambut istrinya.


"Coba cerita, kamu lupa kalau istri kamu ini pendengar dan penasehat yang baik," ucap Almira.


"Nanti saja, kita jalan dulu. Kasian anak-anak," ujar Alfin kemudian menggendong Arsa dan Ayara dengan dua lengannya.


Bambang membukakan pintu mobil belakang, setelahnya mereka melaju ke mall terdekat.


"Mm-ah naik obing," celoteh Ayara.


"Mobing adik," sungut Arsa memprotes.


"Aduhhh, kita naik mobil sayang, M-o-b-i-l," ujar Almira mengeja agar dua anaknya paham.

__ADS_1


Alfin dan Almira dibuat tertawa oleh tingkah lucu si kembar, Arsa yang selalu menganggap Ayara adiknya karena doktrin Alfindra.


Meski keluar bareng dan hanya berjeda beberapa menit, Ayara adalah anak bontot mereka dengan alasan Arsa mengalah dan memberi jalan dulu bagi Ayara. Teori dari Alfindra memang berhasil tertanam di benak Arsa.


Sampai mereka di mall, rombongan keluarga cemara itu turun dengan diikuti Bambang di belakangnya setelah berhasil memarkirkan mobil mereka.


"Pah pah, tal naik obing lagi gak?" tanya Ayara.


"Mobing adik," sungut Arsa, si paling protes sama Ayara padahal mereka sama-sama salah.


"Mobil, astaga!"


"Nanti ya, nganter mama nyalon dulu," ujar Alfindra. Dua anak kembar itu berada di gendongan Alfindra karena laki-laki itu tak membiarkan Almira menggendong salah satunya. Setelah menaiki lift dan sampai di dekat gerai salon. Alfin menurunkan anak-anaknya. "Jalan sendiri, ya? Deket kok, kasian mama."


Kedua bocah itu mengangguk antusias, dengan Alfin menggandeng tangan anak-anaknya.


Almira tersenyum penuh arti, diam-diam membidik sang suami lalu menjadikannya story.


'Terima kasih papanya anak-anak.'


Caption singkat yang berhasil membuat siapapun yang melihatnya akan meleleh.


"Masuk gih, Yang. Aku dah bilang ke tante Rita kalau hari ini kamu datang, jadi gak perlu antri," bisik Alfin.


"Emang bisa gitu?" tanya Almira. Selama ini, ia selalu menolak kala Alfindra mengantarnya perawatan ke salon. Almira memang pernah beberapa kali ke salon, tapi bukan salon se luxy ini.


"Almira, ayo masuk!" Rita menyambut menantu sahabatnya itu dengan senyum sumringah.


"Fin, bawa aja ke ruang belakang, ada yang buat mainan anak-anak juga!" ujar Rita.


"Oke, Tan. Titip istriku, ya?"


Rita mengangguk senyum, "oke, aman!" balasnya.

__ADS_1


Lain dengan Alfin yang tenang bersama Bambang dan anak-anak, Almira justru gelisah. Pikirannya selalu bercabang, apa suaminya tak kerepotan bersama si kembar? Apa ia terlalu lama? Apa Arsa dan Ayara rewel? Atau justru mereka bersenang-senang dengan baik tanpanya?


__ADS_2