PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
42. Di luar ekspetasi


__ADS_3

Brakkk...


Baru juga mau makan malam, Alfindra sudah merusak suasana. Rasa mual yang ditahan sedari tadi membuatnya melakukan rencana lebih awal.


Salma terlonjak begitupun Silvia, Dominic sampai sigap menyodorkan air putih takut kalau-kalau istrinya jantungan.


"Kenapa Fin? Baru juga mau makan!" keluh Silvia.


Alfindra melempar foto-foto telan*jang Zion dan Salma ke atas meja membuat Salma dan Silvia terbelalak.


"Apa ini?" tanya Silvia meraihnya. Salma ingin merebut tapi kalah cepat, ia hanya bisa terduduk lemas, diam dan melirik ke arah Zion yang tampak acuh tapi sesekali meliriknya.


"Mama mau aku menikah dengan Salma yang jelas-jelas milik bang Zion?" tanya Alfindra.


Silvia menggeleng tak percaya, "kenapa kamu gak bilang Zi?" lirihnya malu sekaligus marah.


"Mama gak tanya," jawaban simple Zion yang mampu membuat Salma mendelik.


"Ini salah paham, kami tidak ada hubungan apapun," aku Salma.


"Gak ada hubungan tidur satu ranjang, berlibur ke Bali di belakang Alfin apa namanya?" Dominic angkat bicara, tangannya masih sibuk mengusap-usap punggung sang istri agar, ehm jatah malamnya aman.


Salma menunduk, bodohnya dia tak berfikir sampai titik ini. Menyerahkan diri pada Zion sama halnya menyerah secara tak langsung.


"Kan, jadi lebih baik mama sama papa restui aku sama Almira. Lalu nikahkan Bang Zion dan Salma agar tidak terus berbuat dosa," sindir Alfindra.


"He he tau apa kau soal dosaku," desis Zion tak terima.


Salma diam, ingin rasanya menenggelamkan diri di dasar lautan paling dalam.


"Aku dapat Almira masih segel, jangan harap aku mau lepasin dia demi kamu, Sal. Udahlah, terima bang Zion. Apa kurangnya? Palingan kurang se-ons."


"Lambemu!" maki Zion melotot.


"Sudah-sudah, karena sudah begini jalani aja yang ada. Salma dengan Zion dan kamu bawa Almira kesini," putus Dominic.


"Pa..." Silvia melotot ke arah Dominic, dengan sigap pria tua itu mengelus punggung istrinya dengan lembut.


"Demi kebaikan bersama mama, sampai kapan mama tak setuju dengan keputusan Alfin..."


Alfindra segera berlari ke arah wastafel dapur.


Hoek... Hoek... Hoek...

__ADS_1


Rasa mual yang dominan membuatnya ingin memuntahkan semua isi perut, padahal perutnya baru terisi dengan nyaman siang tadi.


"Tuan?" Pelayan rumah Dominic hendak mendekat akan tetapi Alfindra sudah lebih dulu menginterupsi agar mereka menjauh.


"Fin!"


"Al..."


"Tuan..." Madel lebih dulu mendekat, untuk meraih tubuh Alfindra yang melemas hampir merosot.


"Eh... Lah pingsan." heboh Zion kemudian membantu Madel.


Silvia dan Salma bingung tapi mereka hanya bisa ikut mengiring tubuh Alfindra yang dibawa ke dalam mobil.


"Langsung rumah sakit aja, Alfindra jarang sakit. Sekalinya sakit pasti lama," seru Dominic.


"Pa, Alfin kenapa?" tanya Silvia.


"Gak tahu, Ma. Kita kan gak tahu gimana kehidupan dia akhir-akhir ini. Mungkin asam lambungnya naik," ujar Dominic.


Salma bimbang, ia dilema apalagi mereka sekeluarga kompak tak mengajaknya bicara.


Dari pada menanggung malu, lebih baik besok ia langsung datang ke rumah sakit melihat Alfindra.


"Ini sudah kecepatan penuh, Tuan!" jawab Madel sambil menggelengkan kepala mendengar ocehan kakak Tuannya yang menurut Madel minus akhlak.


Silvia dan Dominic di belakang, ia sengaja membawa mobil sendiri karena sudah dipastikan mobil Alfindra akan dibawa oleh Madel.


"Aku kok takut ya, Pa. Jangan-jangan Alfindra punya penyakit gak ngomong lagi sama kita." Silvia menunduk gugup, cemas. Sebagai ibu, meski terkesan egois ia tetap tak ingin kehilangan Alfindra.


"Kita jangan mikir aneh-aneh dulu, Ma. Lihat aja hasilnya nanti, palingan cuma kecapekan."


"Moga aja deh," seru Silvia.


***


Seperti biasa, Almira menunggu Alfindra pulang. Suaminya itu janji akan pulang malam ini, hatinya dag-dig-dug melihat jam di ponsel juga dinding. Mencoba menelpon, Almira takut momennya tidak tepat.


Lantas yang ia lakukan hanya mondar mandir di ruang depan sambil terus berdoa semoga rencana suaminya lancar.


"Mas, aku harap rencana kamu berhasil," gumam Almira pelan. Setelah berfikir panjang, Almira akhirnya memutuskan mengirim pesan pada Madel, lebih aman.


"Gimana, Del? Berhasil kah?" pesan Almira.

__ADS_1


"Nona, bersiaplah. Habis ini saya jemput," balas Madel.


Almira terduduk membaca pesan dari Madel, ia bahkan sampai tak berniat membalasnya.


"Ada apa ini? Kenapa Madel mau jemput, apa Mas Alfindra gak pulang?" pikir Almira.


Dari pada pusing, ia pun bersiap memakai dress peach, memoles tipis bibirnya kemudian meraih tas dan dompet, tak lupa ponsel ia masukkan ke dalam tas slempang kecil itu. Almira lantas menunggu Madel dengan duduk di sofa.


Ting tong...


Madel menjemput Almira sampai depan pintu apartemen. Almira membukanya dan langsung ikut Madel pergi tanpa bertanya.


Mata Almira memicing saat mobil yang sedari tadi melaju mengarah ke rumah sakit tempatnya kemarin mengantar sang kakak periksa.


'Kesini? Mas Alfindra kenapa menyuruhku kesini?' tanya Almira dalam hati.


Namun, melihat Madel yang serius mengemudikan mobil membuat Almira enggan bertanya.


"Tuan masuk rumah sakit, Nona." Tanpa diminta Madel menjelaskan setelah mobil berhenti di parkiran rumah sakit.


"Apa? Mas Alfindra? Kenapa?" cerca Almira tak sabaran. Bagaimana mungkin? Siang tadi suaminya masih sehat kok, bahkan masih sempat bercinta dengannya sampai puas, pikir Almira dalam hati lalu kemudian mulai menerka, apa suaminya kecelakaan?


"Tidak apa, Tuan hanya kecapekan."


Almira berjalan cepat mengikuti Madel. Tatapan matanya terhenti di lorong bangsal dimana dua orang pria duduk di luar sambil berbincang. Madel berhenti disana dan Almira ingat pria paruh baya yang satu adalah Papa suaminya sementara yang satunya adalah pria kurang ajar yang mengganggunya di apartemen.


"Silahkan Nona."


Almira salim takzim pada Dominic. Saat matanya bersitatap dengan Zion, Almira melengos begitu saja. Madel membawa Almira masuk hingga matanya menangkap Silvia yang tengah menunggui Alfindra di samping brangkar.


"Kamu!" geram Silvia tertahan.


Mengabaikan si mama mertua, Almira memilih ke sisi kanan brangkar suaminya dan menggenggam erat tangan Alfindra tanpa perlu meminta izin dulu pada Silvia.


"Mas," gumam Almira sedih. Menatap suaminya yang masih terpejam.


Madel masuk, ia menjelaskan kondisi sebenarnya Alfindra pada Almira hingga wanita itu mengangguk paham.


Silvia lebih banyak diam, ia tak ingin berdebat dengan Almira apalagi di depan sang putra yang terbaring sakit.


"Almira..." lirih Alfindra.


"Mas, kamu kenapa?" tanya cemas Alfindra. Silvia mengurungkan diri untik mendekat, apalagi saat melihat dengan sendiri tatapan cinta putranya pada gadis itu. Mungkin kali ini, ia memang salah telah menghalangi keinginan Alfindra.

__ADS_1


Dokter masuk, akhirnya Silvia mengalah untuk keluar. Tak ada keluhan apapun saat Dokter memeriksanya, membuat Alfindra semakin curiga kalau istrinya benaran hamil.


__ADS_2