
Bar pusat kota menjadi tempat bertemunya Zion dan Salma untuk membuat kesepakatan. Zion akhirnya mengalah, setelah Silvia terus menerus membujuknya untuk membahas pernikahan dengan Salma. Akhirnya ia bertemu gadis itu di tempat ini setelah menyusur semua tempat persembunyiannya.
"Dimana orangnya?" tanya Zion assistennya.
"Nona Salma ada di dance floor, Pak!"
Zion melotot sempurna, mendapati wanita yang pernah menjadi pujaan hati melenggak lenggok bak cacing kepanasan. Sungguh, definisi bukan wanita baik-baik yang patut dibanggakan.
Memebelah kerumunan lantas menarik Salma dengan kasar dari sana.
"Ck!" desis Salma kesakitan kala Zion memaksanya duduk di depan meja bartender.
"Lo enak-enakan mabok disini, heh? Dimana attitude lo sebagai dokter yang baik? Kaya gini lo mau nyaingin Almira, mimpi sana."
"Terus gue mesti gimana Bang? Gue udah kehilangan semuanya, semuanya! Apa lo masih juga belum puas?"
"Itu salah lo sendiri," balas Zion.
"Lo janji mau bantuin gue dapetin Alfin kan, yaudah iya gue nurut."
"Lo bodoh apa gimana sih," decak Zion. Tak sabar, ia meminta assistennya membantu untuk menyeret Salma ikut dengannya.
Dari pada susah-susah nyari lagi, kabur lagi lebih baik gunakan sedikit paksaan. Toh segala sesuatunya sudah diurus dua pihak keluarga.
"Kalau gue gak tanggung jawab, udah gue buang elo ke laut biar dimakan paus," gerutu Zion setelah berhasil membawa Salma di dalam mobilnya.
Salma bungkam, tak berselang lama gadis itu sudah tertidur.
"Ck! Merepotkan," desis Zion pelan. Ia sempat memperhatikan wajah Salma dari jarak dekat, sebenarnya Salma itu dulu gadis yang baik dan ceria tapi entah kenapa sekarang malah jadi jahat. Padahal jelas, Adiknya sudah tak lagi menginginkan dirinya, kenapa harus memaksakan diri?
__ADS_1
"Tuan Z-zion, kita sudah sampai," seru sang assisten. Mereka sampai di depan rumah minimalis tapi cukup mewah. Dari materi, tentu Salma bukan tipe wanita yang kekurangan uang. Lantas, kenapa harus memaksakan diri harus dengan Alfindra?
Klekkk, sang assisten membuka pintu mobil mempersilahkan Zion keluar menggendong Salma.
"Kamu yang ketuk, sepi gini?" keluh Zion memperhatikan rumah Salma yang sepi seolah tak ada kehidupan lain selain gadis itu.
Tok... Tok... Tok...
"Percuma diketuk," gumam Salma di tengah tak berdayanya. Mata masih terpejam, sepertinya gadis itu memang mabuk berat.
Klekkk...
"Si,--" suara wanita paruh baya terkejut mendapati tamu malam-malam.
"Salma, astaga," keluhnya mengusap wajah. Lalu mempersilahkan Zion membawa Salma masuk.
"Oh iya, makasih ya Nak Zi, maaf Salma selalu merepotkan!"
Zion mengangguk, saat akan pamit undur diri, mama Salma menahannya.
"Maaf nak Zi? Bisa bicara sebentar?"
membuat Zion melirik sekilas pada assistennya, mengisyaratkan agar menunggu saja di dalam mobil.
Zion duduk berhadapan dengan mama Salma, keduanya masih dalam kondisi diam sembari memperhatikan Salma yang terbaring lelap di sofa.
"Ada baiknya, nak Zion dan Jeng Silvia pikirkan sekali lagi rencana menikahi Salma..." mama Salma menjeda kalimatnya lalu menoleh sekilas pada wajah Salma.
"Dia masih belum bisa melupakan Alfindra, ya tante tahu kalian saudara. Cuma, tante gak ingin makin panjang urusan sakit hatinya. Biarkan Salma menyembuhkan diri dulu sampai ikhlas."
__ADS_1
"Tante tahu sendiri bukan kalau Alfindra sudah punya istri," lirih Zion.
Hening...
"Iya, maka dari itu biarkan Salma menerima kamu karena dia benar-benar siap membuka hati buat kamu Nak Zi. Percayalah, wanita yang masih memikirkan masalalu akan sulit menerima keadaan. Tante akan mengirimnya ke luar negeri sementara waktu," putus mama Salma.
Keputusan final di luar dugaan Zion. Ia hanya bisa mengangguk untuk terpaksa setuju, setelahnya pulang dan memberitahu semuanya pada Silvia. Toh Salma sedang tidak hamil karena ulahnya waktu lalu, wajar kalau masih kekeh menolak pertanggung jawabannya.
***
Hari yang ditentukan mama Salma pun tiba, ia sendiri mengantar Salma ke bandara dengan tegas tanpa penolakan sang putri. Namun, dari kejauhan sosok Zion memperhatikan interaksi terakhir mama dan anak tersebut. Setelahnya baru mendekat pada Salma.
Gadis itu masih enggan banyak bicara setelah merasa hanya dikelabui oleh abang dari mantan kekasihnya.
"Hati-hati, Sal."
Diangguki singkat oleh Salma sebelum pergi. Dan akhirnya mereka berpisah, Salma akan menata kembali hidup barunya sementara Zion entah. Mungkin bisa jadi ia akan menunggu Salma membaik atau menanti takdir yang lain.
Cinta kadang menyimpan sekelumit rahasia akan endingnya, pun dengan Alfindra dan Almira sekarang. Dulu, Alfindra adalah orang yang terobsesi pada wanita lain, menjalin hubungan dengan Salma sebagai tameng lalu pada akhirnya bertemu Almira. Saat ini, sedang bahagia-bahagianya karena wanita yang dicintai semakin hari semakin gemoy oleh ulah sang buah hati di dalam.
Tepat di acara tujuh bulanan kandungan Hana, di hari itu juga Alfindra dan Almira mengetahui kalau calon anak mereka adalah kembar. Namun, untuk jenis kelamin masih sedikit menjadi kejutan karena keduanya belum bisa memastikan apakah si kembar laki-laki atau perempuan atau mungkin dua-duanya.
"Udah capek belum, istirahat dulu!" ajak Alfindra dibalas gelengan kepala oleh Almira.
"Aku lho kuat, heheh lagian masih jam segini. Kasian kak Hana gak ada temennya."
"Istirahat aja Mir, ada bang Wildan ini," seru Hana.
Akhirnya Almira mengangguk, ia naik ke lantai atas. Kamar bersebelahan dengan Hana dengan diikuti Alfindra. Ini pertama kalinya sang suami mau menginap tanpa dipinta dan hal itu semakin membuat Almira tenang. Masalah suaminya dan sang papa tak sekaku dulu, mereka semua adalah keluarga.
__ADS_1