PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
56. Sesuka hati


__ADS_3

Alfindra bergerak tak nyaman di apartemen. Berpindah-pindah dari sofa, kemudian kamar, pindah balkon lalu kembali termenung di sofa. Sesekali melihat jam di pergelangan tangan yang terus berjalan cepat hingga kekhawatirannya semakin bertambah kala tak satu pun panggilan darinya diangkat oleh Almira. Beberapa pesan hanya centang satu, membuat laki-laki itu menggeram pelan.


"Ck!" decaknya pelan. Ia benar-benar menjadi bodoh di depan dua orang wanita, yang satu masalalu yang satu masa sekarang. Alfindra sampai tak berfikir pakai logika kalau dia bisa cek CCTV dan tahu kejadian sebenarnya.


"Dimana kamu, Mir?" gumamnya frustasi setelah menyusur jalan tak menemukan istrinya, Alfindra memilih pulang ke apartemen dengan harapan Almira pulang lebih dulu.


Tak apa marah, asalkan tak kabur-kaburan, pikirnya dipenuhi sesal.


Tak menemukan tanda-tanda istrinya pulang, Alfindra ingin segera mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi di rumah orang tuanya.


Ting...


Bunyi pintu terbuka menampilkan wajah datar Almira pertama kali masuk ke dalam apartemen karena langsung bertatap muka dengan suaminya.


Ya, Almira akhirnya memilih pulang menaiki taksi, ia tak mungkin kabur tanpa perencanaan apalagi tanpa membawa uang banyak, ia bukan wanita yang akan kabur dalam keadaan hamil lalu muncul beberapa tahun kemudian. Namun, di luar dugaan malah melihat sang suami berdiam di apartemen. Rasa dongkol dan kesal pun semakin menjadi.


"Mir, kamu marah? Maaf," gumam Alfindra menyambutnya dengan kecemasan. Ia sampai membolak-balik tubuh Almira memastikan istrinya baik-baik saja.


"Udah tahu marah masih nanya," sinis Almira. Melepas tangan Alfindra dan melewatinya begitu saja masuk kamar.


BRAKKKK...


Almira membanting pintu dengan kasar lalu menguncinya dari dalam.


Drrt...


Pesan dari Zion membuatnya luruh ke sofa kemudian menyandarkan punggungnya dengan kasar.


"Jadi, Almira gak salah," gumamnya setelah melihat sendiri fakta bahwa Salma-lah yang menjebak istrinya. Membuat Almira terkesan buruk di matanya juga sang mama.


"Mir," panggilnya setelah meyakinkan diri.

__ADS_1


Almira mengunci diri di dalam kamar, ia enggan keluar begitu saja meski Alfindra terus mengetuk meminta maaf. Almira masih kesal, ia masih sangat kecewa dengan sikap suami yang seolah lebih mempercayai ucapan sang mantan.


Tak ada sahutan membuat Alfindra hanya menunduk pasrah, ia tahu istri tercintanya pasti sangat kecewa.


"Aku ingin sendiri, Mas." pesan Almira akhirnya. Membuat laki-laki itu urung kembali mengetuk pintu. Tangannya mengambang dengan pandangan mata nanar menatap kamar yang tertutup.


Marahnya wanita memang betah, meski sudah tak lagi mengurung diri, sejak hari itu Almira lebih banyak diam. Diam-diam pergi, diam-diam memeriksakan kandungan seorang diri juga diam-diam liburan seperti saat ini. Mungkin Almira sangat berdosa meninggalkan suaminya, tapi itu lebih baik ketimbang stress berhadapan dengan Alfindra. Menghindar adalah jurus terbaik sementara untuk meredam emosi dan hatinya.


"Nona Almira ada masalah apa sampai sembunyi disini? Sendirian," seru seseorang membuat Almira yang tengah menikmati indahnya pantai dan semilir angin sontak menoleh dan terkejut.


"M-Madel..." Almira terkejut mendapati assisten suaminya ada di depan mata.


"Selamat pagi, Nona!" seperti biasa, Madel membungkuk sekilas demi menghormati istri Tuannya.


"Kamu nggak akan ngasih tau mas Alfin kan?"


Madel tersenyum saja, "Tuan selalu tahu kemana Nona pergi."


"Tuan sedang di kantor saat ini," jawab Madel seolah tahu apa yang sedang Almira pikirkan.


"Gak nanya, lagian salah sendiri jadi manusia menyebalkan!" gerutu Almira.


"Hahaaha begitulah, Tuan memang semenyebalkan itu," balas Madel. Ia sampai lupa kalau saat ini earphone miliknya terhubung langsung dengan Alfindra.


"Heh bede bah, berani sekali mengataiku!" maki Alfindra di kantornya.


"Ah tidak, tidak!" ralat Madel, ia duduk di jarak lebih satu meter dari Almira demi keamanan bersama.


"Tuan sangat merindukan anda, Nona. Hari-hari tuan, makannya, minumnya, kerjanya, semua berantakan," aku Madel membuat Almira berekspresi terkejut.


"Em, benarkah? Tapi itu kesalahan dia bukan," ketus Almira.

__ADS_1


"Ya Tuan memang selalu salah, Nona! Untuk itu mari kalian berdamai," seru Madel.


"Ckckck sia lan kau Madel." Alfindra mendengarkan percakapan assistennya dengan sang istri membuat ia ingin segera menyusul. Sayang, pekerjaannya saat ini memang tak bisa ditinggal.


"Hehehe, dia saja tak berniat mengajakku damai. Mungkin setelah aku melahirkan kita akan berpisah."


"Tuan dengerin," bisik Madel saat Almira tak memperhatikan gerak-geriknya.


"Dari awal hubungan kita memang salah," gumam Almira lagi membuat Alfin yang mendengarnya terhenyak dan semakin dilanda rasa salah.


"Tidak Nona, Tuan sangat mencintai anda! Tuan Alfindra bukan laki-laki yang berpengalaman dalam cinta, ada baiknya kali ini Nona memberinya kesempatan. Ah, andai tuan berada disini saat ini. Mungkin dia sendiri yang akan bersujud di hadapan anda Nona Almira. Sekali lagi, Tuan bukan orang yang memiliki cukup pengalaman dalam bertindak apalagi itu soal cinta."


"Oh yaaaa, kalau begitu aku tidak akan memberikan kesempatan itu kalau bukan dia sendiri yang datang!" kekeh Almira.


"Kalau begitu, Nona menginap di villa mana?" tanya Madel.


"Cari tau saja sendiri." Almira bergegas meninggalkan Madel. Toh tanpa memberitahu sudah seharusnya mudah bagi seorang Alfindra menemukannya.


Tapi...


Mendadak Almira tersenyum sendiri, ia memang harus memberi suaminya sedikit pelajaran.


"Tuan mendengarnya bukan? Nona Almira sudah pergi, saya tidak bisa mengejarnya," ujar Madel di sambungan earphone.


Hening, tak ada sahutan. Di seberang sana, tanpa menunggu Madel, Alfindra sudah lebih dulu bergegas. Alfin akan menyusul istrinya sekarang juga.


***


Maaf ya, beberapa hari tidak update, karena anak sakit dan ponselnya rusakšŸ™ƒ


Jangan lupa tinggalkan like dan komennyašŸ¤

__ADS_1


.


__ADS_2