
Wildan tersenyum lega, setidaknya ia turut bahagia mendengar persalinan adik iparnya lancar tanpa harus operasi jam lima pagi tadi. Mengulur waktu sebentar, ia ingin menghubungi Hana dan memberikan kabar tapi takut istrinya itu masih terlelap. Namun, diluar dugaan bahwa Hana malah memanggilnya lewat sambungan video call.
"Gimana keadaan Almira, yang?" tanya Hana tak sabar. Wajahnya kusut khas kurang tidur.
"Lancar sih, masih ada mamanya Alfindra jadi aku belum ke dalam. Cuma, tadi Alfindra bilang lancar. Sekarang Almira-nya lagi istirahat." penjelasan Wildan tak cukup membuat ibu satu anak itu lega, "tapi gak kenapa-napa kan Almira-nya? Masalahnya ini kembar lho yang. Almira lahiran normal?"
"Iya normal. Kamu kok kusut gitu, baru bangun? Adek mana?"
"Adek masih bobok, semalem rewel kan. Bangun apa? Aku dari tadi gak tidur nunggu kabar kalian lho," dumel Hana membuat Wildan hanya bisa meringis pelan. "Maaf, harusnya sih kamu istirahat aja."
"Mana bisa? Adik aku lagi berjuang hidup dan mati," salaknya cepat. Memang, wanita selalu benar. Padahal Wildan mengurungkan niatnya menghubungi tadi demi tak ingin mengganggu istirahat istrinya. Tak disangka, Hana malah tak tidur sama sekali membuatnya semakin dilanda rasa bersalah.
"Yaudah, habis ini aku pulang. Adek biar sama aku kalau bangun yang, biar kamu istirahat."
"Enggak deh, kamu pastiin aja keadaan Almira biar aku tenang. Papa nyusul kesitu habis ini," ujar Hana. "Jangan lupa sarapan yang," sambungnya lagi sebelum mematikan panggilannya.
Wildan tersenyum tipis, istrinya itu meski hobi ngomel-ngomel selalu berhasil membuatnya gemas. Setelah memastikan keadaan Almira di dalam, ia bergegas pulang.
***
Sementara sejak tadi, Alfindra memegang lembut tangan istrinya. Almira sudah dipindahkan ke ruang rawat, sementara bayi kembar mereka masih berada di ruang bayi dengan Silvia yang menjaganya.
"Gimana keadaan Almira?" tanya Wildan masuk ke dalam. Tersenyum tipis, ini bukan kali pertama baginya menemukan kebucinan Alfindra pada Almira.
"Sudah baik, lagi istirahat. Makasih bang," ujar Alfindra tulus. Dan Wildan membalasnya dengan senyum anggukan. Apa dia tak salah dengar tadi? Alfindra terlihat seperti adik yang penurut saat memanggilnya dengan sebutan 'abang'.
__ADS_1
"Sama-sama, gimana rasanya nungguin istri lahiran. Pasti seneng?" Wildan yang tadinya akan pamit langsung pulang kini malah menarik kursi di sebelah kiri Almira.
"Seneng, sedih, lega, campur-campur. Tapi diantara itu semua, ada rasa yang sulit aku ungkapkan bang."
"Hehehe mungkin maksudmu rasa cinta yang dalam? Atau rasa bangga yang membuncah?" tebak Wildan. Dan lagi, Alfindra mengangguk saja.
"Kayaknya paham banget?" cibir Alfindra lalu terkekeh pelan.
"Lumayan sih, aku orangnya gak gengsi-an. Kalau suka sesuatu langsung sat set. Ya, walau yang disukai sempet menye-menye."
"Hahahahahaha..." Alfindra dibuat tergelak oleh pernyataan kakak iparnya.
"Dulu, bagiku gengsi itu semacem benteng. Luruh gensiku, hancur harga diriku," aku Alfindra lalu menatap Almira yang masih pulas karena terkuras tenaganya.
"Terus?" tanya Wildan.
"Dia gadis kecil yang baik, Fin. Jaga dia, jangan sakiti dia." Wildan menepuk pundak Alfindra pelan.
"Pasti bang, tapi dia bukan lagi gadis sekarang. Dia ibu-ibu," seru Alfindra.
"Baru juga sehari jadi ibu, ya sudah aku pamit. Dari semalem Hana gak tidur kepikiran Almira jadi aku mau pulang ngurus Damian."
"Oke, btw thanks banget bang!"
Wildan balas mengangguk, lalu pergi.
__ADS_1
***
Almira membuka matanya kala mendengar tangis bayi yang kencang, Silvia menggendong bayi laki-lakinya dan berusaha menenangkan. Sementara bayi perempuan anteng di gendongan Alfindra.
"Biar sama aku, Ma. Dia pasti kelaparan," seru Almira membuat keduanya menoleh.
"Sudah bangun yang? Gimana? Masih sakit?" cerca Alfindra dibalas gelengan.
"Sakitnya ilang ganti seneng," lirihnya lalu meraih bayi perempuannya dari Silvia. "Gantian aja Mir, sebelah-sebelah. Nanti coba mama konsul ke dokter, boleh gak dikasih susu formula. Soalnya dua lho ini," saran Silvia.
"Iya, Ma. Tapi ini udah keluar kok walau gak banyak."
"Kalian udah siapin nama?" tanya Silvia membuat keduanya saling tatap.
"Belum sih," gumam Alfindra membuat Silvia menghela napas, "kok bisa belum?"
"Sudah kok, Ma. Aku sempet nyari beberapa nama kembar keren sih, cuma belum minta pendapat Mas Alfin aja. Soalnya kalau mau bahas dia sok sibuk terus," terang Almira jujur.
Alfin hanya meringis kaku, "emang kamu punya nama apa, yang?"
"Arsa dan Ayara," tambah Almira dengan wajah berbinar penuh harap.
"Bagus tapi, kok A semua?"
"Biar jadi keluarga four A," jawab simple Almira.
__ADS_1
"Terserah kalian aja, nanti kalau udah pulang mama siapin syukurannya," seru Silvia. "Yang penting gak ribet-ribet lah namanya, jadi kalau manggil cucu. Mama yang tua ini lidahnya gak kesrimpet," sambungnya membuat Almira dan Alfin kompak tergelak.