
"Kamu pantau rumah, sekali lagi dia datang samper aja. Kamu tahu apa yang harus kamu lakukan kan, Bam? Aku memang mempercayai suamiku, tapi tidak menutup kemungkinan si Bia Bia itu akan menggunakan cara licik untuk menggoda suamiku. Dari awal, dia memang terlihat memiliki ketertarikan dengan Mas Alfin," balas Almira. Setelah sekian menit berlalu, dan mendapati wajah tenang suaminya tanpa beban tidur pulas memeluk erat pinggangnya. Padahal setengah mati Almira kepikiran dengan keberadaan Bianca yang mengancam.
"Maafin aku, Mas. Bukan maksud aku buat posesif-in kamu, tapi kamu yang paling tahu rasanya cemburu itu seperti apa," gumam Almira menatap wajah tegas suaminya yang terlihat lelah. Jemari lentik itu perlahan menyusuri wajah Alfindra, berhenti lama di kepala dan mengusapnya dengan gerakan slow motion membuat si empu semakin lelap dan mengetatkan pelukannya.
Pagi harinya, selesai mandi bersama Arsa dan Ayara. Mereka bertiga kompak membangunkan Alfin dengan suara gaduh khasnya.
"Papa ih bobo teyus," protes Ayara bersedekap dada.
"Iya tuh, acian mama. Awas ja," sambung Arsa. Mereka kompak menggoyang-goyangkan tubuh Alfindra hingga si empu menggeliat terbangun.
Almira keluar lebih dulu bersama dua anaknya setelah menyiapkan keperluan Alfindra. Meja makan rumah Dominic tampak ramai termasuk oleh keberadaan Zion disana.
"Pagi, Ma, Pa, Bang!" sapa Almira.
"Pagi, wah semangat banget ponakan. Mau kemana?" sambut Zion.
"Mama sama papa mau ajak mereka ke kebun binatang, biar seneng!" aku Silvia lalu menatap menantunya lembut, "makan dulu, Mir!"
"Mau suapin mereka dulu, Ma."
Membiarkan Arsa dan Ayara duduk diantara dirinya. Lantas, Almira menyuapi mereka dengan telaten. Sesekali Ayara tampak tak sabar, karena harus bergantian dengan Arsa. Alfin keluar dan langsung duduk di samping Ayara.
"Tumben pagi sarapannya nasi, Ma?"
"Biar kenyang, kamu mau roti? Biar bibi yang buatin, kasian Almira tuh."
__ADS_1
Alfin menggeleng, "kalau nggak nasi nggak kenyang!" akunya, ketularan Almira.
"Gimana kerjaan kamu, Fin?" tanya Dominic.
"Bagus sih, Pa. Cuma ya, agak gimana setelah gak ada Madel," aku Alfin tak semangat.
"Mir, hari ini kamu temenin aja suamimu. Biar dia semangat," usul Silvia dengan binar bahagia, "anak-anak biar sama mama," sambungnya lagi membuat Almira meringis senyum.
"Iya, Ma."
***
Dan disinilah Almira, menunggu suaminya sibuk menyelesaikan pekerjaan.
"Kopi aja," sahut Alfin cepat lalu menutup telepon.
"Kalau cuma kopi, aku bisa buatin, Mas! Apa susahnya sih bilang, seneng dilayani wanita lain." Almira mulai menunjukkan taringnya.
"Astaga, ini cuma perkara kopi loh sayang. Lagian ini di kantor, tugas kamu menemaniku saja sudah cukup."
"Oke kalau begitu, aku keluar sebentar!"
***
Alfin menghela napas melihat kepergian istrinya, mungkin Almira jenuh hanya menunggu sedari tadi sementara ia benar-benar sibuk akan pekerjaan.
__ADS_1
Bukan keluar kantor, langkah Almira terayun menuju pantri. Ada Bia disana sendirian, membuat Almira menggeleng sambil sedekap dada, lalu berfikir untuk mengaktifkan perekam suara dari dalam slingbag miliknya.
Bia masih belum sadar akan kedatangan Almira, gadis itu malah sibuk mencari sesuatu di sakunya. Mengeluarkan obat yang direkomendasikan teman clubnya lalu memasukkan sedikit ke dalam kopi.
"Obat apa yang kamu masukkan ke kopi suamiku?" tanya Almira dengan nada tajam.
Bia tersentak, tubuhnya menegang mendengar suara familiar itu. Kaku, ia bahkan tak sanggup untuk menoleh dan menghadapi istri dari pria yang sedang diincarnya.
"Kenapa diam? BIANCA, kamu menyukai suamiku? Mau menghalal-kan segala cara untuk merebutnya? IYA, HAH?" bentak Almira.
Bia menghembuskan napas sesak, lalu membalikkan badan, "IYAA," jawabnya singkat.
PLAKKK...
"What's on your mind huh?" Napas Almira tercekat, "dia itu seorang ayah dengan dua anak, apa kamu mau merebut dia bukan hanya dariku tapi juga dari anak-anaknya?" menatap Bianca yang hanya terpaku diam, Almira kembali maju dan menggunjang bahunya, "JAWAB BRENG-SEK!!"
"Aku bisa menjadi ibu sambungnya," jawab Bia. Meski nyalinya benar-benar sudah ciut karena ternyata istri Alfindra se bar-bar itu.
"Ibu sambung? Ha ha ha... Ngimpi sana, kita lihat bagaimana kalau Alfindra tahu tujuanmu bekerja disini untuk menggodanya. Atau sebenarnya, kamu memanfaatkan kebaikan Madel untuk tujuan ini?" Almira bersedekap. Dibanding marah, sebenarnya Almira lebih ingin menyadarkan Bianca. Dia muda, pintar dalam pekerjaan tapi sedikit tolol dalam logika.
Almira membuka tasnya lalu meraih ponsel, pembincaraan mereka terekam jelas meski dengan suara. Entah, saat berfikir menyusul Bianca ke pantri firasat Almira memang tak meleset.
Bia memucat, ia ingin menyambar ponsel itu tapi tak cukup kuat tenaga. Bia masih berusaha keras merebut ponsel Almira.
"Ada apa ini?"
__ADS_1