
Alfindra membawa istrinya untuk mencicipi hidangan yang tersedia. Mengabaikan tatapan masam Silvia dari kejauhan, ia memanggil Madel untuk mendekat menemani Almira barang sebentar.
"Ingat jangan kemana-mana sendiri," pinta Alfindra diangguki Almira.
Alfindra mendekati Silvia, "bisa kita bicara, Ma?" tanyanya pelan agar orang lain tak ikut mendengar jikalau hubungan ibu dan anak itu sedang tidak baik-baik saja.
Dominic membiarkan putranya bicara dengan sang istri sementara dia memilih mengobrol sambil minum dengan teman sebisnis.
"Jangan menatapku seperti itu, Alfin. Aku ini mamamu, ibu yang melahirkanmu." Silvia bersedekap, tak terima dengan sikap dingin putranya.
"Justru karena itu, aku ingin bicara. Ma, aku sudah dewasa sekarang! Meski hubungan kami terkesan dadakan, bahkan sembunyi dari kalian. Tapi aku benar-benar sudah menikahinya, Ma. Restui kami, singkirkan rasa benci mama untuk Almira. Buka hati, terima dia dengan baik," mohon Alfindra.
Silvia tersenyum sinis, "kamu pikir mudah?"
"Mudah, mama cukup beri restu. Sisanya biar aku dan Almira sendiri yang menjalani kehidupan pernikahan kami."
"Apa kamu benar-benar sudah tidak waras, Alfin. Baru beberapa bulan yang lalu kamu terakhir kali membawa Salma pulang ke rumah. Sekarang? Apa menurutmu mama bisa dengan mudah mempercayaimu? Kamu mungkin cuma memperalat dia untuk menjauhi Salma."
"Mama salah," elak Alfindra.
"Mama tahu mana yang terbaik untuk kamu! Tinggalkan wanita itu, Fin."
"Almira adalah istriku, Ma. Aku mau bicara baik-baik itu juga atas permintaannya!"
Alfindra pergi, akan tetapi sebelum menjauh ia sempat berbisik pada Silvia.
"Aku akan pulang kalau hati mama sudah terbuka untuk menerima Almira!"
Setelah Alfindra pergi, Silvia dongkol dan menghubungi seseorang untuk membereskan wanita simpanan Alfindra juga membayar orang untuk menghilangkan jejak cctv-nya.
Almira merasa kenyang, padahal ia baru mencicipi dikit beberapa menu perjamuan.
Alfindra sempat terhenti oleh Dominic, mereka mengobrol di salah satu sudut ballroom yang sepi.
"Alfin, maafkan mamamu."
"Hm, papa tau sendiri kan kalau mama itu egois sedari dulu. Aku sudah tidak ada hubungan apapun dengan Salma, jadi---" Alfindra menghela napas menatap papanya.
"Papa bisa menikahkan Salma dengan Bang Zion. Kalau mama masih bersikeras agar wanita itu menjadi menantunya," sambung Alfindra lagi.
__ADS_1
"Bagaimana denganmu, apa kamu mencintai gadis itu? Kamu benar-benar sudah menikahinya?" tanya Dominic.
Alfindra diam, "aku sudah menikah dengan Almira." Namun, Alfindra masih tak menjawab apakah ia mencintai Almira atau tidak.
Sementara mereka mengobrol, Almira merasa ingin ke toilet.
Madel ingin mengantarnya akan tetapi Almira kekeh menolak. Ia hanya bertanya dimana letak keberadaan toilet. Tanpa sadar, ada yang mengikutinya, pria berjass hitam memakai kaca mata dan masker satu orang.
Rayyan yang sedari tadi memperhatikan Almira dari kejauhan sontak mengikuti kemana Almira pergi, mumpung Almira tidak dalam jangkauan Alfindra.
Keluar dari toilet, seseorang membekapnya dengan sapu tangan. Rayyan yang melihat itu terkejut, ia lantas menghampiri orang itu dan melawannya.
"Ck! Sia lan, beraninya sama wanita," decih Rayyan.
Almira pingsan, setelah berhasil menendang perut si pelaku gegas Rayyan membawa Almira pergi dari sana.
"Mir, bangun Mir!" panggil Rayyan seraya menggendongnya. Ia meminta seorang pegawai hotel untuk membantunya.
Disinilah Almira sekarang, di salah satu kamar hotel dengan nuansa putih tenang. Rayyan sudah memanggil Dokter terdekat meski membutuhkan waktu yang lama untuknya mencari dokter area Bandung yang bisa datang memeriksa ke hotel.
Sementara di sisi lain, Alfindra mendapat laporan dari Madel kalau Almira pergi ke toilet tak kunjung kembali. Laki-laki itu panik, bahkan ia bergegas mengecek satu persatu toilet terdekat.
"Madel, minta keamanan untuk periksa cctv," titahnya tanpa bantahan. Sementara dia berusaha mencari keberadaan Silvia yang tiba-tiba mengajak Dominic pergi dari acara.
"Shitttt..." umpat Alfindra. Mendadak pusing di kepalanya semakin menjadi-jadi.
Madel kembali menemui Alfindra, ia melihat Tuannya limbung dan hampir terjatuh.
"Apa Tuan mabuk?" tanya Madel meski ia sendiri tak melihat Alfindra menyentuh wine barang segelas pun.
"Dimana Almira? Apa sudah ketemu?" cerca Alfindra tak menjawab pertanyaan Madel.
"Cctv dalam perbaikan, Tuan! Tapi saya janji akan menemukan Nona Almira segera."
Tangan Alfindra mengepal erat, ia tahu mungkin dalang dibalik ini memang benar mamanya.
Peter cukup terkejut, merasa ada yang aneh saat mendapat laporan cctv hotelnya dalam perbaikan. Seingatnya, ia sudah memastikan semua dalam keadaan normal. Lantas yang ia lakukan adalah meminta kejelasan pada pegawainya lalu menemui Alfindra.
"Bagaimana dengan cctv luar ballroom?" tanya Alfindra.
__ADS_1
Peter ingat sesuatu lantas mengajak Alfin dan Madel ke ruang rahasianya.
"Seharusnya aku punya rekaman lain, sebab aku memasang cctv rahasia di luar. Jika benar ini ulah seseorang, mungkin orang itu cukup membencimu? Atau membenci istrimu?" pikir Peter.
"Aku tahu ini semua ulah mamaku," keluh Alfindra.
"Kamu yang sabar, kamu sendiri juga tahu orang tuaku dulu tak menerima istriku. Seiring waktu mereka pasti sadar kalau tolak ukur kebahagiaan itu bukan dari materi, apalagi saat itu istriku sempat hamil, lebih banyak sabar menghadapi orang tua!" nasehat Peter. Orang tuanya dengan orang tua Alfindra memang bersahabat baik, selain itu mereka juga rekan bisnis di luar kota.
Deg. Alfindra melupakan sesuatu, sebulan setelah berhubungan, agaknya ia tak melihat Almira datang bulan.
"Almira kamu dimana?" batin Alfindra.
Ia menatap layar komputer yang terhubung cctv.
Matanya memicing kala melihat seseorang membopong wanita dengan panik berjalan menjauhi Ballroom.
"Apa bisa kamu Zoom Peter?" tanya Alfindra.
Peter sudah berusaha, sayangnya wajah pria itu tak jelas.
"Kamu yang tenang, dia pasti ketemu. Atau perlu kita lapor polisi?"
Alfindra yakin ini ulah mamanya, ia menggeleng lesu sebagai jawaban.
"Aku akan coba menyelesaikannya sendiri, semoga Almira baik-baik saja."
***
"Bo doh!" maki Silvia di sambungan telepon setelah mendapat kabar orang suruhannya kalau ada laki-laki yang menyelamatkan Almira. Belum selesai keterkejutannya, Alfindra datang bersama Madel menemui Dominic.
"Ck! ja lang merepotkan," decih Silvia.
Ia mendekati Dominic dan pura-pura tak tahu apa yang terjadi.
"Kenapa menuduhku? Apa mamamu ini sekejam itu, Fin? Mama memang tak menerimanya sebagai istrimu, tapi bukan berarti mama harus membuatnya pergi," aku Silvia bersandiwara.
"Terus menurut mama? orang lain?"
Madel diam, ia merasa bersalah karena telah membiarkan Almira ke toilet sendiri.
__ADS_1
"Kamu tahu, Fin. Di dunia bisnis ada kalanya seorang wanita dijebak ketika sendiri? Apa kamu tak pernah berfikir seseorang mungkin menginginkan wanitamu?" sindir Silvia.
"Sudahlah, Ma. Jangan buat Alfin semakin pusing. Papa akan bantu sebisa papa," ujar Dominic diangguki Alfindra. Pulang ke hotel dengan perasaan tak tenang. Hanya bisa berharap Almira pulang lebih dulu meski itu mustahil.