
Salma masih berusaha membujuk Alfin, lima menit bukan waktu yang lama. Ia harus bisa bicara lebih lama dengan Alfin karena saat ini fikirannya sudah buntu.
"Aku gak mau nikah sama bang Zion, please bantuin aku buat ngomong ke bang Zion dan tante Silvia," lirih Salma.
"Aku tahu kamu udah punya kehidupan baru, aku akan jauh-jauh dari kamu asal kali ini aja please tolongin aku." Almira memainkan jari-jarinya, masih posisi berdiri.
Alfin mendekus sebal, lalu menggeret Salma keluar. Sementara Almira yang hanya bisa sebentar menikmati waktunya bersama Caca mampir ke kantor seraya menenteng dua cup rujak buah untuk dimakan bersama Alfindra.
Namun, melihat sang suami menggeret tangan mantannya keluar kantor membuat Almira memilih bersembunyi menahan rasa sesaknya.
"Kok bisa sih?" gumam Almira.
"Bisa-bisanya disaat aku hamil, kamu malah pergi sama mantan kamu, Mas! Sebenarnya, kamu orang seperti apa," monolognya pelan.
Alfindra terus menggeret Salma keluar, melewati tatapan orang-orang dan menghempasnya ketika sampai di luar kantor.
"Sudah aku bilang, aku tidak ada urusan apapun sama kamu. Masalah kamu sama Zion uruslah sendiri. Salma, kamu orang yang paling tahu aku dulu seperti apa, aku tidak perduli apapun lagi soal kamu. Aku sudah menikah sekarang dan tidak ingin istriku salah paham," tegas Alfindra. Tanpa sadar memegang kedua lengan Salma demi menegaskan ucapannya. Namun, di mata Almira semua itu terlihat berbeda, sungguh dimatanya Alfindra terlihat sangat perduli dengan mantan kekasih.
Almira memilih masuk kantor, emosinya meluap-luap minta diledakkan, tak sabar menanti sang suami kembali dan melihat dirinya ada di kantor. Madel yang melihat istri tuannya pun membelalakkan mata karena teringat sesuatu.
"Nona! Bukannya tadi Nona bersama,--"
"Dimana mas Alfindra?" tanya Almira berusaha tenang. Meski dadanya naik turun menahan emosi mengingat interaksi suaminya dengan sang mantan.
__ADS_1
"Ehm, Tuan tadi ada kok," jawab Madel. Menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berfikir, jangan-jangan Nona Almira melihat Tuannya bicara dengan Salma.
"Ada?" Almira menaikkan alisnya mode galak.
"Ada-ada, masuk dulu Nona biar saya panggilkan," seru Madel panik.
"Ouh!" Almira masuk ke ruangan kerja Alfin setelah Madel membukakan pintu.
"Tunggu sebentar Nona!" ujarnya tanpa menunggu jawaban bergegas dari sana. Madel dengan panik turun mencari Alfindra yang kemungkinan masih berada di lantai bawah, atau sebenarnya Tuannya pergi bersama mantan gamonnya? Pikiran Madel ikut pusing, terlebih saat beberapa pasang mata memperhatikan dirinya yang kepanikan.
"Akhirnya," gumam Madel melihat siluet punggung Alfindra di dekat kantor. Namun, kembali menggeleng lesu saat masih ada Salma disana.
"Tuan, Nona Almira menunggu anda di atas. Sepertinya marah, tadi Nona melihat anda disini," bohong Madel agar Alfindra segera bergegas.
Deg.
"Ya Tuan!" jawab Madel. Melirik sinis ke arah Salma seolah bahasa isyarat, 'dibanding istrinya, kamu bukan siapa-siapa lagi'.
Alfindra pergi tanpa kata, setengah berlari masuk kembali ke dalam kantor.
Madel menatap horor Salma yang tampak cuek dan tersenyum sinis sebelum pergi.
"Nona Salma lebih baik jangan berulah, dibanding istri tuan Alfindra, kamu bukan siapa-siapa lagi!" ucap Madel akhirnya, berhasil membuat Salma memerah emosi.
__ADS_1
"Hehehe tau apa kamu soal kami, dibanding istrinya? Kamu gak tahu kalau laki-laki itu paling lemah pada wanita dan bisa kamu lihat kan sekarang, meski terpaksa Mas Alfindra tetap menurut dan bicara padaku panjang lebar, ahhh ya bahkan dia mengusap lenganku," seru Salma.
"Ck! Tuan Alfindra cuma memegang tangan anda, bukan menghamili anda. Tetap Nona Almira pemenangnya karena dialah istri sah dan sudah mengandung calon penerus Tuan Alfindra, anda hanya remahan rengginang berlabel k*ng guan jadi jangan sombong," ketus Madel lalu meninggalkan Salma yang semakin kesal karena mendengar ucapannya.
"Sia lan kamu Madel, kalau aku bisa merebut Alfindra, kamu orang pertama yang akan aku singkirkan dari sisinya," seru Salma menggertakkan gigi.
Alfindra dengan napas terengah berusaha mencapai lift, masuk dengan asal lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang setelah menekan angka dimana ruangan CEO miliknya berada.
"Shiiiiit," umpatnya kesal hampir meninju pintu lift, tak berselang lama pintu lift terbuka, Alfindra langsung berlari panik ke ruangannya. Tak perduli keringat sudah membanjiri dahi dan pelipisnya.
Klekk...
Suasana ruangan kerjanya mendadak horor apalagi ibu hamil muda alias sang istri menyambutnya sengit.
"S-sayang, kapan datang?" tanya Alfindra gegas menghampiri Almira yang duduk di kursi kebesaran miliknya. Vibes istri ceo memang bukan main, bahkan Almira semakin hari semakin cantik dan seksi di mata Alfindra.
"Sejak drama ftv tayang di depan kantormu," jawab Almira datar, lebih tepatnya menahan marah, sedih dan kesal sekaligus hingga tak sanggup berbuat apapun selain bersikap dingin pada suaminya. Mau marah? Metal janinnya sedang dipertaruhkan sekarang.
"Sayang, ini gak seperti yang kamu pikirkan!" gumam Alfindra, lalu meraih tangan Almira dan mengecupnya lembut sebagai ungkapan salah.
"Giliran aku marah, mas panggil sayang sayang. Kalau aku nggak dateng mungkin kamu masih sibuk sama dia," dumel Almira.
"Aku tegasin ke kamu, Almira. Aku sama Salma gak mungkin ada apa-apa. Apalagi sampai berniat enggak-enggak di belakang kamu. Aku cuma sayang sama kamu, cuma kamu!" tegas Alfindra.
__ADS_1
"Tadi, Salma cuma minta tolong buat sampein sesuatu ke bang Zion, dia janji setelah ini gak akan ganggu kita lagi, bahkan gak akan muncul di hadapan kita." Alfindra berusaha menjelaskan semua demi meredam amarah istrinya.
Namun, cemburunya Almira tetaplah cemburu. Itu adalah sifat alami yang keluar saat dia sedang hamil, dan melihat Alfindra dekat dengan mantannya.