PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab 60


__ADS_3

Diantara canda tawa dua buah keluarga, Zion duduk diam di sudut kursi dengan pikiran berkelana. Ia tak berminat sama sekali menanggapi gurauan-gurauan mereka. Menurut Zion, itu hanyalah basa-basi pemanis pertemuan.


"Gimana?" senggol Alfindra.


Zion mendelik sekaligus mencibir, "apanya?"


"Asmaranya lah, Kau itu gak boleh galau lama-lama. Kalau jodoh gak akan kemana."


"Dih sok bijak nih adek gue, masih bertahan nunggu jandanya Almira!" aku Zion menyeringai.


Plakkk...


Alfindra reflek menggeplak kakaknya dengan mata menyipit sinis, "jangan Almira lah, cari yang lain. Toh cewek di dunia ini dua kali lebih banyak dari jumlah cowok," desis Alfindra menahan kesal. Selalu saja Bang Zion menggodanya soal Almira.


"Hahaahaha, sesayang itu kamu sama Almira? Dulu waktu sama Salma nggak gitu perasaan?" pancing Zion.


"Itu dulu, sekarang Almira adalah calon ibu dari anak-anakku."


"Lagaknya kaya mau punya banyak anak aja," cibir Zion.


"Woiyaaa, sekali jadi langsung dua kok. Lagian abang kenapa gak ngejar Salma dari pada galau-galauan?"


"Nanti dia juga balik!" santai Zion.


Almira merasakan kram pada perutnya karena pergerakan si kembar. Merasakan nikmat sekaligus sakit itu membuatnya meringis pelan.


"Kenapa Mir?" tanya Silvia khawatir, setelah sedari tadi malah bercengkrama dengan Hana kini Silvia menyadari bahwa dia telah mengabaikan menantunya.

__ADS_1


"Kram, Ma. Biasa juga gini kok, tapi gak tau kenapa si kembar hari ini aktif banget sampai-sampai mamanya kesakitan," aku Almira tanpa sadar.


"Kembar? Hah, maksudnya?"


"Ehh!" sontak semuanya menoleh ke arah Almira mendengar pengakuan tanpa sengaja itu.


"Calon anak kami kembar hehe," aku Almira menatap mereka bergantian.


"Waw, amazing!" pekik Dominic.


"Beneran kembar?" tanya ulang Silvia dengan sumringah.


Almira mengangguk senyum, pun juga Alfindra yang mendengar kehebohan itu turut mengiyakan.


Anton yang sebenarnya sudah tahu kehidupan Dominic dahulu pun tersenyum, "kembar turunan keluarga kamu, Dom!"


"Pelan-pelan, jangan banyak gerak dulu. Kamu mau ambil apa? Biar mama saja?" tawar Silvia dibalas gelengan senyum oleh Almira.


"Aku cukup seneng, mama disini nemenin aku." sorot mata Almira penuh harap, makhlum saja sejak kehilangan mamanya ia sangat merindukan figure seorang ibu.


"Mama akan selalu nemenin kamu, kamu menantu terbaik mama," seru Silvia memeluk Almira.


"Ehm, harus konsisten lho ya bilang gitu, takutnya mama ntar pilih kasih sesama mantu," sindir Zion diiringi gelak tawa.


Silvia menoleh horor ke arah Zion, "mama bukan orang seperti itu, Zi. Maafin sikap buruk mama dulu ya, Al. Sebenarnya, mama cuma kecewa waktu itu karena Alfindra nggak ngenalin kamu dulu ke mama, tau-tau udah nikah."


"Iya gak apa-apa, Ma. Lagian kami awalnya juga..."

__ADS_1


"Sutttt!" Alfindra mengisyaratkan agar Almira tak jujur. Membongkar cerita masalalu baginya hanya akan menambah masalah nanti.


Diantara euforia itu, Hana meneteskan air mata haru. Ia harus banyak bersyukur, nyatanya Tuhan sangat baik hingga menjauhkan ia dari karma. Beberapa hari yang lalu, Hana sempat ketemu dengan Nilam. Teman SMA Almira itu agaknya sedikit kecewa melihat ia dan Almira akur. Namun, Hana berharap Nilam tak melakukan suatu hal yang pada akhirnya hanya akan merugikan diri sendiri.


Setelah keluarganya pulang, tinggalah Hana dan Wildan yang sedang istirahat di ruang santai. Sementara Anton sudah lebih dulu pamit ke kamarnya sendiri.


Sibuk dengan ponsel nya, sementara Wildan memperhatikan sang istri lamat-lamat. Ditengah gerak-gerik itu, Hana seperti sedang menahan sakit, tapi diam saja. Saat Wildan mendekat, ia mendapati sang istri sedang konsultasi dengan dokter via online.


Perlahan tangan Wildan terulur untuk mengusap lembut perut buncit itu, lembut dan sangat lembut hingga memancing pergerakan di dalam sana. Seajaib itu memang!


"Masih sakit?" tanya Wildan setengah berbisik,


Hana menggeleng sembari tersenyum, sejurus kemudian meletakkan ponsel dan menggenggam lembut tangan suaminya.


"Aku minta maaf," lirih Hana pelan. Sejujurnya selama ini, ia terlalu takut untuk memberitahu Wildan perihal apa yang telah dilakukannya di masalalu.


"Untuk?" tanya Wildan keheranan. Hana menarik napas perlahan, "aku pernah hampir merusak rumah tangga Almira. Aku pernah berniat merebut Alfindra karena aku merasa Almira sangat beruntung. Wil, aku minta maaf kalau saat itu aku sempat membohongi kamu, saat kamu menjemputku di mansion Alfindra. Sebenarnya, waktu itu orang Alfindra mengurungku. Aku sadar yang aku lakukan sangat salah. Aku minta maaf," ujar Hana panjang lebar.


Wildan terdiam beberapa saat, ia memang menunggu kejujuran Hana meski benaknya selama ini menyimpan tanya.


"Auhhh!" ringis Hana, lagi-lagi perutnya kram karena pergerakan janin yang luar biasa.


"Kenapa? Mana yang sakit?" panik Wildan. Hana hanya meringis, lalu membawa tangan Wildan untuk mengusap lembut perutnya.


"Sepertinya bayi kecilku sangat suka disentuh papanya," gumam Hana. Sebab kenyataannya tangan Wildan yang tergerak di atas perut membuat rasa sakit itu perlahan sirna.


"Na, aku tidak permasalahkan seperti apa dirimu dulu. Yang terpenting sekarang, kamu mau berubah dan mengakui kesalahanmu. Jangan lupa minta maaf sama Alfindra dan Almira," seru Wildan lembut. Tak ada raut kesal atau marah, meski dalam hati cukup tak habis pikir. Mungkin, saat itu memang Hana masih labil.

__ADS_1


"Iya, aku janji." balas Hana berkaca-kaca. Haru, bersyukur sekaligus bahagia menyeruak, ia sangat beruntung bertemu dengan laki-laki sebaik Wildan yang mau mengerti dirinya.


__ADS_2