
Almira hanya bisa meringis tak enak lalu keluar. Anton membuka matanya perlahan, terbangun karena berisik debat yang mengganggunya.
"Almira..." Mata binar menatap putri bungsunya datang.
"Papa, gimana keadaan papa?" tanya Almira meninggalkan Alfindra dan Wildan lalu menghampiri Anton dan duduk di hadapan papanya itu.
"Sudah jauh lebih baik, papa senang akhirnya,--- kamu pulang dengan Alfindra," seru Anton tersenyum lalu mengubah posisi jadi duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Papa hanya masuk angin tapi kakak dan abangmu malah memperlakukan papa seperti orang sakitan, hahaha mereka terlalu khawatir sampai harus mengabari dan merepotkanmu," sambung Anton lagi.
"Papa kan memang benar sakit, aku sama Hana juga karena khawatir mengabari Almira. Siapa tahu papa sakit kangen," seloroh Wildan.
"Hahaha mungkin," gumam Anton membenarkan ucapan Wildan.
Alfindra masih bertahan di ambang pintu, tak berniat masuk atau ikut basa basi bersama mertuanya. Ia sudah cukup gerah melihat Wildan akrab sama Almira, perasaan sebal dari dalam hatinya ini bagaimana bisa terus muncul?
Namun, tindakan yang Alfindra lakukan memang benar jauh dengan apa yang sedang dipikirkan. Nyatanya, Alfindra tiba-tiba masuk dan melihat Anton tengah berkeckrama dengan sang istri membuatnya berjalan cepat mendekat.
"Pa, boleh ajak Almira pulang sekarang?" sebuah pertanyaan, tapi dengan tatapan memaksa. Hanya Anton yang bisa melihat tatapan itu, seolah isyarat bahwa ia tak boleh tak mengizinkan Almira pulang dengan Alfindra.
"Haha boleh-boleh, kapan hari datang lagi. Ini juga rumah kalian," seru Anton.
"Mau sekarang, Mas?" tanya Almira diangguki suami.
"Sekalian periksa kehamilan kan mumpung masih sore," serunya dibalas anggukan.
"Almira hamil?" tanya Anton sumringah.
Alfin dan Almira kompak mengangguk, "cepat sembuh, Pa. Kami pulang dulu." Setelah Almira di sisinya dengan segera Alfin merangkul bahu sang istri untuk mengajaknya pergi.
Mereka berpamitan, setelahnya menuju rumah sakit terdekat untuk memeriksakan Almira.
"Aku nggak mau ke rumah sakit yang ada mantan kamu, Mas!"
"Kenapa? Bagaimanapun dia calon ipar kamu," bisik Alfin membuat Almira menggeleng.
"Gak segampang itu," gumam Almira.
***
Sore itu juga Alfindra menemani Almira periksa di rumah sakit, meski mudah saja baginya mendapat pelayanan khusus tapi Almira kekeh menolak karena terbiasa budaya antri.
"Nona Almira..." panggil suster yang mendampingi dokter obgyn dalam menjalani pemeriksaan.
__ADS_1
Almira berdiri dari duduknya, lalu menoleh pada sang suami.
"Ayo mas?" ajaknya.
Mereka masuk ke dalam ruang pemeriksaan, Alfindra duduk menunggu sementara Almira berbaring di atas brankar.
"Kapan terakhir datang bulan?" tanya dokter.
"Awal bulan lalu, Dok! Sekitar tanggal,---"
Alfindra yang mendengar itu jadi berfikir, sejak kejadian di villa hingga sekarang sang istri belum lagi datang bulan?
Matanya masih memperhatikan dokter dengan seksama saat mengoles gell di perut istrinya, menggerak-gerakkan alat yang terhubung layar monitor.
Mata Alfin memanas demi menyaksikan bentuk janin di rahim Almira.
"Usianya masih sekitar lima minggu, ukurannya baru 7mm, masih sebesar kacang polong. Namun, di usia minggu berikutnya janin mulai memiliki detak jantung sendiri dan mulai membentuk dasar kerangka sumbu badan, otak dan jantung," jelas Dokter Reny.
"Terus dok, apa bisa jika pemeriksaan berikutnya mengikuti jadwal anda saja?" tanya Alfindra.
"Bisa, oh ya apa ada keluhan lain? Seperti nyidam mual atau,--"
"Suami saya yang nyidam, Dok!" seru Almira dengan tersenyum.
"Ehm!" Alfindra hanya berdehem sebagai pengusir rasa grogi, sementara Almira masih kepikiran.
Cinta? Benarkah cinta?
Sepulang dari periksa mereka saling diam begitu pun saat di mobil, Alfindra lebih fokus pada stir kemudi.
"Miraaaa," panggilnya pelan merasa bosan hanya berdiam-diam tak jelas.
"Iya, Mas? Mau makan apa?" tanya Almira.
"Aku,-- kok nanya aku? Kamu pengen apa bilang," seru Alfindra.
"Em, kan mas yang nyidam," kekeh Almira.
"Makan kamu kalau gitu!" jawab Alfindra membuat Almira langsung mendelik.
"Makan yang bikin kenyang lah mas, jangan yang bikin lapar."
Alfin hanya menanggapi dengan mengusap lembut rambut Almira. Lalu beralih mencubit pelan pipi istrinya yang bikin gemes-gemes gimana. Padahal dulu, Alfin sangat tidak menyukai wajah bulat Almira, rambut panjangnya, sekarang kok malah bawaannya pengen nempel-nempel terus, bila perlu Almira akan ia kantongi kemanapun pergi.
__ADS_1
Mobilnya terhenti di salah satu pedagang kaki lima, entah kenapa Alfindra kepengen makan nasi goreng abang-abang yang sedang mangkal di pinggiran jalan. Sambil lesehan, sambil minum es dan memandangi wajah cantik Almira tak pernah masuk dalam agendanya. Tapi, sejak si istri hamil, sepertinya keinginan Alfindra semakin aneh-aneh.
"Mas pengen nasi goreng yang kaya gimana?" tanya Almira.
Jika biasanya, seorang istri ketika hamil dimanjakan karena nyidam ini malah Almira memanjakan suaminya, ya walaupun manjainnya masih pakai uang suami sih gak masalah.
"Ada ati nggak, kalau ada nasi goreng ati, minum es teh sama dikasih mie."
"Oh nasi goreng mawut?" tanya Almira. Kini giliran Alfindra yang mengerutkan dahi berlipat-lipat.
"Mawut? Apaan?" tanyanya tak paham.
"Udah lah, itu aja, Bang!" seru Almira pada pedagang nasi goreng.
Aroma asap bau bumbu menguar, baru juga mencium baunya perut Alfindra sudah berdemo minta diisi.
"Nasi goreng ati mawut, minumnya es teh ya?" ulang si abang-abang.
"Sepiring aja, Mas. Dua porsi jadi satu bisa gak?" usul Alfindra.
"Hah?" Almira melongo tak percaya, sementara yang ditanya hanya menyeringai misterius.
Benar saja, setelah pesanan datang Alfindra malah minta suap, kaya bocil lagi ngerengek ke mamanya minta makan.
"Mas, emang gak malu?" lirih Almira.
"Kamu malu nyuapin aku?" tanyanya sentimen.
"Enggak kok," cicit Almira pelan. Lapak kaki lima itu malah jadi tempat romantis keduanya untuk makan, meski Alfin minta disuapi layaknya bocah akan tetapi ia juga memegang sendok untuk menyuapi Almira. Beruntung lapak tak terlalu ramai, meski beberapa pembeli lain turut memperhatikan interaksi mereka yang menurut Almira memalukan.
"Makasih mas, datang lagi!" seru Abang kala Alfindra membayar makanan disertai bonus kembalian yang tak diminta.
"Sama-sama." Keduanya pulang, mungkin jika sendok, piring garpu bisa ngomong mereka akan meledek Alfindra habis-habisan.
Belum cukup puas jalan dengan Almira, Alfin mengajak istrinya ke taman kota sekedar jalan-jalan dan duduk bersantai beratapkan bintang dan rembulan.
Perlahan, Almira menyandarkan kepalanya di pundak Alfin saat mereka duduk di kursi taman. Memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang menikmati malam.
"Mas..."
"Mir..."
Kompak keduanya saling memanggil lalu menoleh, mereka bertatapan lama seolah mata adalah isyarat hati. Alfindra masih bingung bagaimana cara mengungkapkan semua gejolak dalam da da. Ia hanya bisa berharap, Almira terus memahaminya seperti ini.
__ADS_1