
Beberapa hari tinggal di rumah sakit, Almira dan twins akhirnya pulang. Perasaan bahagia semakin kentara di wajah ibu dua anak kembar itu. Meski langkahnya masih pelan, ia tetap memaksakan diri menggendong bayi laki-lakinya yang lebih manja dibanding perempuan.
Sementara si bayi cantik di gendongan Silvia yang berada di belakang. Ah, andai bisa menggendong dua sekaligus. Mungkin hal itu yang akan dilakukan oleh Almira.
"Kira-kira diantara Arsa dan Ayara, siapa yang lebih tua, Yang?"
"Nggak tau, kan barengan!" Almira melirik sekilas ke Arsa, bayi gantengnya itu sudah terlelap.
"Yang keluar duluan kan Ayara, jadi dia yang lebih tua," jawab Alfindra tersenyum.
Sontak hal itu membuat Ayara menangis di gendongan Silvia, "Bapak nih kalau ngobrol jangan kenceng-kenceng, Ayara nangis nih," tegur Silvia lalu berusaha menenangkan cucunya.
"Apa sama aku aja, Ma? Arsa biar digendong Mas Alfin?"
"Jangan deh, nanti malah bangun lagi. Coba Fin, kamu tenangin putrimu," pinta Silvia dibalas anggukan oleh Alfindra.
"Sama papa sayang," lirihnya meraih Ayara ke dalam gendongan. Benar saja, Ayara mulai tenang di gendongan Alfindra, hal itu tentu membuat Almira dan Silvia tersenyum.
"Calon anak manjanya papa itu," gumam Almira.
"Biasa, Mir. Cewek kan," ujar Silvia. Sampai di depan mereka disambut oleh Dominic dengan senyum merekah. Bahkan masih memakai setelan kantornya.
"Boleh gendong gak, Fin?" bujuknya ketika melihat Ayara mengerjap-ngerjap imut saat Dominic menatapnya.
"Nanti aja, Pa. Di rumah kalau sudah mandi, papa kan dari kantor," tegur Silvia membuat Dominic seketika cemberut.
"Yaudah deh," jawabnya pasrah dan menurut.
__ADS_1
Setelah sampai diparkiran dan memastikan anak, menantu serta cucunya masuk. Silvia masuk ke kursi depan menemani Dominic yang menyetir.
"Kalian yakin mau balik ke rumah kalian langsung? Gak tinggal dulu di tempat mama?" tanya Silvia. Sejujurnya, ia takut Almira kerepotan mengurus bayi kembar mengingat kondisinya yang baru pulih.
"Langsung pulang, Ma. Mama aja ya yang nginep?" bujuk Alfindra.
"Mama sih mau-mau aja, Fin. Papamu gimana?"
"Papa ikut," putus Dominic.
"Akhirnya,--"
***
Sampai di rumah, kedatangan mereka disambut keluarga Almira. Mereka menunggu di depan rumah dengan Hana menggendong Damian yang tampak tertidur pulas.
"Kok gak masuk, Pa?" tanyanya salim takzim dengan Anton, lalu melirik Bambang yang hanya meringis. "Katanya mau nunggu di depan, Tuan. Nunggu pemilik rumah," lirihnya menciut.
"Ayo masuk, Kak, Pa." Almira masuk ke dalam rumah ditemani Silvia membawa kembar setelah tadi mengambil alih Ayara di depan.
"Box kamar mereka jadiin satu aja dengan kalian, mereka kan masih bayi. Nggak mungkin pisah kamar kan?" tanya Silvia.
"Iya, Ma. Kami yang akan pindah ke kamar ini kok. Lagian kan gak mungkin bawa mereka ke lantai atas hehe," jawab Almira.
Silvia mengangguk, lalu memeluk menantunya setelah memastikan si kembar lelap di dalam box bayi.
"Maafin mama dulu ya, Mir?"
__ADS_1
Almira membalas pelukan mama mertuanya, "Mira sayang sama mama, Mira udah maafin mama dari dulu kok."
"Mama dulu bahkan memuji-muji Salma di depan kamu, mama nyesel. Mama pikir, mama terlalu memaksakan Zion untuk bertanggung jawab tapi nyatanya,--"
"Kenapa, Ma?"
Silvia menggeleng, "Zion bilang kalau Salma punya calon."
Almira cukup terkejut, sempat tak habis fikir sebelum akhirnya Silvia melerai pelukan.
"Keluar gih, lagi pada ngumpul. Mumpung si kembar tenang, biar mama yang jaga."
"Gak apa-apa, Ma?" tanya Almira tak enak. Silvia tersenyum lalu menggeleng.
Almira menyusul suaminya di dapur yang sedang membuat minum dibantu Bambang. Salahnya tak mengiyakan bujukan Alfindra untuk memakai art hingga melihat sendiri suaminya kerepotan menyiapkan jamuan untuk keluarga.
"Kalian gak pakai art, ya?" tanya Hana keheranan.
"Iya, gak pakai. Selama ini masih bisa diatasi berdua kok, tapi gak tau ntar nanti. Kayaknya bakal aku pikirkan, Kak."
"Pakai aja, Mir. Kalau kalian butuh privasi, bisa pakai yang pulang di sore harinya. Terus jangan lupa, nyari yang tua. Jangan yang masih muda," saran Hana diangguki setuju oleh Wildan.
"Nanti aku pikirkan lagi, Kak."
Berkumpulnya keluarga Alfindra dan Almira menambah kesan hangat di ruang tamu itu. Kecuali Zion yang saat ini sedang berada di kantor berusaha menyibukkan diri.
Berusaha melupakan sosok Salma, yang tak lagi bisa ia perjuangkan karena ternyata di luar negeri, gadis itu kembali menjalin hubungan dengan laki-laki lain.
__ADS_1
Diantara bisingnya lalu lintas yang terlewat, Zion akhirnya mengemudikan mobilnya pulang di hari yang sudah larut. Sudah berusaha sesibuk mungkin agar lupa, tapi malah terus teringat hingga membuatnya berulang kali menjambak rambut frustasi.
"Si-alan lo, Salma!" makinya berteriak.