
Almira terbangun, ia merasa tak ingat apapun setelah keluar dari toilet. Dokter bilang, dirinya berada dalam pengaruh bius hingga tak sadar. Lalu saat matanya menangkap sosok Rayyan disana, Almira terkejut dan melotot sempurna.
"Bang Rayyan?" panggil Almira.
"Eh, ehm Almira kamu sudah bangun. Maaf tadi aku sempat memanggil dokter umum, dan kamu dalam pengaruh obat bius. Sesorang mungkin berusaha untuk berbuat jahat padamu," jelas Rayyan.
"Mungkin. Bagaimana kata dokter?"
"Tidak ada, hanya karena sapu tangan yang sudah diberi bius kamu jadi tak sadarkan diri." Rayyan berusaha tenang, lebih baik ia tak memberitahu Almira kalau wanita itu sedang hamil. Dan Rayyan tebak seharusnya saat ini Alfindra sedang mencari keberadaan Almira, kalau memang laki-laki itu perduli.
"Aku harus menghubungi Mas Alfindra," gumam Almira. Namun, ponselnya mati dan ia kebingungan bagaimana cara menghubungi suaminya.
Serba salah, meminjam ponsel Rayyan untuk dijemput Alfindra apa pria itu akan menuduhnya macam-macam. Sedangkan untuk pulang sendiri, itu tak mungkin.
"Bang, boleh pinjam ponselnya?" tanya Almira diangguki Rayyan.
"Boleh, pakai ponselku untuk hubungi suamimu. Bilang kalau kau ada disini," ujarnya.
Almira mengangguk, ia mendial nomor Madel yang mudah dihafal lantas memberi kabar kalau masih berada di hotel tempat perjamuan.
***
"Gimana Madel?" tanya Alfindra sudah tak ada lagi tenaga bahkan melewatkan makan malam demi menemukan Almira. Sampai di hotel, ia tak menemukan Almira juga disana. Alfindra tahu, mustahil kalau Almira pulang duluan.
__ADS_1
"Ada nomor baru menghubungi saya, Tuan. Sebentar!" Madel mengangkat telepon sebentar, setelah beberapa menit kembali memberitahu Alfindra kalau Nona Almira masih berada di hotel Emeral B.
"Kok biss? Kita kesana sekarang," titah Alfindra sekali lagi tak bisa dibantah.
Madel melajukan mobilnya kencang hingga tak butuh waktu lama untuk mereka sampai di hotel milik Peter.
"Dimana Almira?" tanya Alfindra dengan langkah besar.
"Di kamar 113 Tuan," seru Madel membuat Alfindra menggertakkan gigi.
"Kamar? Dia menyewa kamar? Cih!" Alfindra terus berjalan, memasuki lift diikuti Madel. Ia sampai tak memperdulikan tatapan aneh orang-orang. Sampai di depan kamar 113, Alfindra bahkan tak berniat mengetuk pintu. Ia meminta Madel untuk mengeceknya.
Almira terduduk, sementara Rayyan menunggu di sofa.
"Breng sek! Kamu yang bawa Almira pergi, cih! Kamu benar-benar berniat merebut istriku, bujang lapuk!" Alfindra mencengkram kuat krah Rayyan bahkan tak membiarkan laki-laki itu lepas barang sedikitpun. Almira bangkit berusaha melerai keduanya pun dengan Madel yang berusaha meredam emosi tuan-nya.
"Tuan tenang, tahan emosimu!"
"Mas, cukup. Jangan berantem, kalian bukan anak kecil," pekik Almira tak kalah terkejutnya.
Mereka akhirnya menurut dan duduk.
"Masih berani kamu belain dia? Setelah berjam-jam aku mencarimu ke semua sudut bahkan sampai mengecek cctv?" Alfindra menatap Almira tajam.
__ADS_1
"Aku gak,--"
"Kamu mau jelasin apa? Kamu mau bilang kabur dengannya dan menyewa kamar? Almira kamu keterlaluan," sinis Alfindra menggebu.
"Mas, bisa gak dengerin aku?" bentak Almira. Ini pertama kalinya wanita itu emosi sendiri mendengar perkataan Alfindra.
"Oke, lanjutkan!"
Rayyan yang melihat selisih paham diantara keduanya pun hanya bisa mengukir senyum dalam diam. Ia tak berniat menjelaskan apapun, lebih memilih mengusap wajahnya yang bonyok oleh ulah Alfindra yang tak terduga. Kesakitan ini, mungkin suatu hari nanti akan ia balas berkali lipat di lain kesempatan.
"Aku ingin ke toilet, tak mungkin juga Madel ikut. Saat itu aku baru selesai, seseorang menbekapku dari belakang. Tiba-tiba aku sudah ada disini. Bang Rayyan bilang, ia menyelamatkanku dari pria itu."
Penjelasan Almira tak serta merta membuat Alfindra percaya. Tiba-tiba ia teringat jikalau Rayyan akan menunggu Almira sampai menjanda, apa ini salah satu triknya untuk membuat ia dan Almira bercerai?
"Drama apa yang kau mainkan?" sinis Alfindra pada Rayyan.
"Aku tidak sedang berdrama, itu benar! Aku tak melakukan apapun pada Almira, hanya menolongnya dari seseorang yang mungkin berniat tidak baik padanya," seru Rayyan. Sepertinya ia mulai bisa menebak hubungan seperti apa yang dijalani oleh Almira dan Alfindra.
"Dokter bilang, Almira perlu banyak istirahat. Lebih baik sekarang kalian pulang," sambungnya lagi.
Mereka pun pulang, Alfindra dan Almira saling diam apalagi di sepanjang jalan tak sepatah kata keluar dari bibir Alfindra.
Kembali ke hotel, Almira memilih langsung istirahat. Mengabaikan Alfindra yang masih muram menatapnya. Namun, laki-laki itu sangat egois dalam mempertahankan diamnya. Sampai-sampai Almira memilih tidur dan tak berniat menjelaskan apapun.
__ADS_1