PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab - 78


__ADS_3

Alfindra membuka pintu ruangan assistennya setelah datang ke kantor terlambat karena rengekan Ayara dan Arsa pagi ini. Drama terbaik yang hampir setiap pagi ia nikmati bersama Almira adalah rengekan anak kembarnya yang meminta Alfin tak berangkat kerja dengan alasan kepengen main sama-sama.


Makhlum saja, Alfindra libur di hari minggu, itu hanya khusus staff kantornya sementara ia sendiri kadang masih menyelesaikan pekerjaannya di rumah. Membuat Arsa dan Ayara kerap kali mengeluh kala Alfin tak menemani mereka puas bermain.


"Del berkas buat persentasi,---" Alfin membuka pintu dan seketika terdiam kala matanya melihat Bianca dengan wajah pucat mendongkak ke arahnya.


"Pak Alfin lupa kalau Madel sudah resign?" tanya Bianca.


"Berkas sudah aku siapkan, tapi maaf boleh izin gak ikut rapat?" mohon Bianca.


"Kamu sakit?" Alfin mengerutkan keningnya. Jika ini karena pikirannya melihat Bianca mabuk semalam sepertinya telah terjadi sesuatu.


"Hanya pusing, Pak. Bianca berdiri lalu membawa berkas itu mendekat ke arah Alfindra.


"Ya sudah, istirahat saja. Atau kamu mau pulang? kalau sakit, kenapa harus memaksakan diri masuk kerja?" tanya Alfindra datar.


"Aku hanya merasa punya tanggung jawab banyak, Pak Alfin. Gimana kalau hari ini aku nggak masuk dan bahan untuk rapat nanti belum siap?" tanya balik Bianca.


"Aku bisa mengurusnya sendiri," jawab Alfindra kemudian akan pergi dari sana.


"Kalau kamu mau istirahat di rumah, langsung saja pulang. Bilang kalau aku yang memberimu izin langsung," ucapnya sebelum keluar dan menutup pintu.


Bianca menghela napas, kenapa ia harus terjebak perasaan suka pada suami orang dan itu adalah Alfindra, laki-laki yang sudah jelas sangat menyayangi istri dan anak-anaknya.


"Kalau aku jadi ibu sambung mereka pasti menyenangkan," gumam Bia yang mulai berkhayal aneh.


Bianca segera bergegas, ia keluar dari ruangannya dan turun ke bawah. Seperti kata Alfindra, memilih pulang meski yang dibutuhkan saat ini bukan istirahat di rumah.


Almira datang ke kantor karena si kembar ikut dengan Silvia dan Dominic ke rumah.


Namun, sampai lobi ia melihat Bianca dengan wajah murung dan langkah lebar keluar lift.

__ADS_1


"Bia?" panggil Amira.


Bianca menoleh, dan sedikit terkejut melihat keberadaan Almira disana.


"Mau kemana? Apa suamiku ada di atas?" tanya Almira. Namun, yang dilakukan Bianca malah memperhatikan penampilan Almira dari atas sampai bawah. Membandingkannya dengan diri sendiri. Dress V neck dengan lengan tipis warna peach itu sangat kontras dengan kulit Almira yang seputih susu.


"Bia?" ulang Almira merasa wanita itu malah memindainya sambil melamun.


"Ah, maaf, Bu. Aku, --- eh Pak Alfin lagi di ruang rapat."


"Dan kamu mau kemana?" tanya Almira yang melihat gelagat Bianca seperti aneh.


"Mau pulang, Bu."


"Pulang?"


"Pak Alfindra mengizinkan saya pulang karena merasa bersalah meninggalkan saya di pesta semalam," ujar Bianca.


"Maaf, Bu. Saya harus pulang," pamit Bia segera melarikan diri.


Almira emosi, benar-benar emosi. Jika tak ada si kembar, mungkin ia memilih mode kabur dalam menyelesaikan masalah. Biar suaminya kalang kabut dan lagi-lagi sikap suaminya selalu kurang tegas pada wanita membuat Almira kadang jengkel sendiri.


Percaya dengan Bia? Tentu Almira lebih percaya pada suaminya. Hanya saja, membiarkan Bianca ada di Kingdom Grup hanya akan menjadi duri dalam daging.


Tak kasat mata, tapi bisa saja melukai.


Melangkah anggun memasuki lift khusus, ia akan menunggu Alfindra di ruang kerjanya.


Klekk...


Pintu ruangan CEO terbuka setelah Almira menunggu selama lima belas menit, Alfindra terkejut sekaligus senang.

__ADS_1


"Sayang," Panggilnya mendekat, ingin memeluk istrinya seperti teletubies padahal satu setelah jam yang lalu mereka masih bersama.


"Mas, baru selesai meetingnya? kok Bianca gak ikut?" tanya Almira.


"Sakit, aku suruh pulang saja. Kembar mana, tumben si sayang kesini? kangen ya," godanya membuat Almira melipat bibir.


"Nggak," salaknya cepat.


"Hm, ada apa gerangan kenapa mode galak gini?" Alfin duduk lalu menarik istrinya yang akan pindah di sofa ke dalam pangkuan.


"Arsa sama Ayara dibawa mama sama papa, kebetulan papa nggak kerja dan kekeh ngajak Arsa dan Ayara. Pas aku bilang mau ikut malah nyuruh aku ke kantor nemenin kamu," terang Almira.


"Oh ya?" Alfin tersenyum lebar, sudah lama ia tak menikmati waktu berdua saja dengan istri selain di rumah. Itu pun kadang harus setelah Arsa dan Ayara tidur.


"He'em. Dan soal Bianca, Mas datang ke pesta Madel sama dia?" selidik Almira. Meski dalam hati ia percaya suaminya tak semurah itu. Suaminya itu type manusia dingin dan cuek dengan lawan jenis, bukan tipe laki yang mudah terpesona sama wanita yang hanya cantikan di fisik.


"Nggak, cuma kebetulan ketemu di lobi hotel dan masuk bareng aja."


"Bianca bilang, kamu menyuruhnya pulang karena merasa bersalah ninggalin dia di pesta?"


"Dia bilang begitu?" tanya Alfindra terkejut.


"Dan apa itu benar bapak Alfindra?" selidik Almira. Alfin menggeleng pelan, "nggak ada lho, aku aja sama mama dan papa semalem," ujar Alfin. "Aku ninggalin dia ya karena dari awal kan kita cuma ketemu di lobi, nggak datang bareng! Jadi mau gimana pulangnya itu urusan dia lah," sambung Alfindra lagi.


Almira tersenyum tipis, ia bukan senang suaminya tak memiliki empati. Ia senang karena suaminya itu cukup tegas dalam membentengi diri.


"Aku punya kamu sama anak-anak. Kalian yang utama dalam hidup aku selain orang tuaku. Jadi jangan berfikir aneh-aneh." Seolah tahu apa yang ada di pikiran istrinya, Alfin semakin mengeratkan rangkulan di pinggang Almira.


"Jangan cemburu-cemburu lagi, aku gak akan tergoda sama wanita lain."


"Kalau sampai tergoda, aku akan kabur lagi dan kali ini sama anak-anak. Oh ya, bukan hanya itu, sekalian sama sertifikat rumah," ancam Almira serius.

__ADS_1


"Aku nggak keberatan, asal aku ikut."


__ADS_2