
Alfin benar-benar memeriksakan diri ke salah satu dokter kenalannya di rumah sakit. Alfin merasa tubuhnya lemas, nafsu makannya hilang bahkan cenderung sering mual jika mencium bau yang tak disukai.
Gimana Dit?" tanya Alfin.
"Ayo ke ruang pribadiku," ajak Radit setelah memberikan resep vitamin pada Alfindra.
Dua pria dewasa itu beriringan menuju ruangan Radit. Namun, di waktu yang sama ia melihat Almira dan Hana sedang berjalan ke arahnya.
Alfindra menunduk, beruntung ruangan Radit sudah di depan mata. Ia bisa segera masuk tanpa berpapasan dengan istrinya.
"Si nakal itu, beraninya memakai dress favoritku di muka umum," geramnya dalam hati. Jika dimata orang lain Almira terlihat lebih berisi, tidak berlaku hal itu di mata Alfindra. Ia benar-benar harus menundukkan pandangan kalau tak ingin tergoda dengan sang istri dan berlari untuk menerkamnya. Saat ini, Alfindra masuk ke ruangan dokter Radit. Ia bingung, apalagi saat Radit menatapnya dengan senyum.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Alfindra.
Radit sekali lagi tersenyum, "tak ada tanda-tanda penyakit parah. Mungkin kamu sedang stress atau kelelahan. Dilihat dari gejala yang ada lebih mirip dengan syndrom couvade. Namun, untuk kamu yang masih belum menikah itu bukan hal yang mungkin."
"Maksudnya? Syndrom cauvade?"
"Itu adalah kehamilan simpatik. Seorang istri yang mengandung, tapi suami yang merasakan proses nyidamnya. Seperti mual di pagi hari, perasaan tak menyukai sesuatu, bau atau apa, dan juga keinginan lainnya."
"Apa itu artinya bisa disimpulkan istriku hamil saat ini?" tanya Alfindra.
Radit bingung, pasalnya ia tak mendengar kabar pernikahan Alfindra dan Salma.
"Mungkin!" jawab Radit.
Alfindra langsung bangkit, "nanti kalau ada keluhan aku kesini lagi." pamitnya kemudian pergi dari ruangan Radit. Hatinya berharap semoga Almira belum pergi dari rumah sakit.
Almira mengantar Hana periksa kandungan, sebab Wildan ada urusan pekerjaan. Sementara Alfindra sedang dingin padanya, Almira mencoba mencari-cari kesibukan.
"Gimana dengan kamu, Mir? Gak mau sekalian periksa?"
Almira menggeleng, "palingan cuma telat aja kak. Kan dari dulu ha idku memang suka telat."
Hana mengangguk saja, "kita mampir caffe depan deh!"
"Oke."
__ADS_1
Dua kakak beradik itu jauh lebih akrab dibanding sebelumnya, apalagi sejak Hana menikah dan mendapatkan cinta yang cukup dari Wildan, ia sadar kebahagiaan itu terletak bukan dari banyaknya materi. Meski Almira tak datang di pernikahan sederhananya, Hana merasa semua impas. Ia menghilang di acara pernikahan bahkan membawa Almira dalam derita, tapi hidupnya justru bahagia, bukankah Tuan terlalu baik padanya?
"Aku curiga, sebenarnya gimana pernikahan kamu?" keduanya duduk berhadapan. Alfindra memesan meja di belakang Almira, membelakanginya akan tetapi bisa menguping pembicaraan mereka meski harus sembunyi-sembunyi.
"Baik-baik saja, Kak." Jawaban Almira tentu tak membuat Hana percaya begitu saja.
"Suamimu orang yang mengerikan, aku pikir wajar jika aku curiga. Lagi pula, waktu itu dugaanku benar kalau pipimu bekas tamparan." Hana menaik turunkan alisnya, sementara Almira terdiam beberapa saat.
"Lepaskan kalau memang membuat hatimu sakit, Almira. Maaf, mungkin awalnya aku salah telah memaksamu. Tapi, aku punya pilihan waktu itu. Aku mungkin sempat tergiur untuk menggoda suamimu, aku sempat tertarik padanya setelah kalian menikah, tapi saat aku tahu Alfindra orang seperti apa, aku menyerah."
Almira masih diam, sementara Alfindra yang mendengarnya merasa tak terima akan tetapi ia tak bisa berbuat apa-apa selain menguping.
"Hana sia lan berani memprovokasi istriku," geramnya dalam hati.
"Mungkin, aku juga sedang memikirkan itu, tapi..."
"Jangan bilang kamu jatuh cinta dengannya? Pria sia lan itu?" sinis Hana.
"Ya." Jawaban singkat Almira membuat Alfindra tiba-tiba merasa sesak. Jatuh cinta? Almira jatuh cinta padanya? Lalu memory kebersamaan mereka, rekam jejaknya berputar di kepala Alfindra.
"Tapi tenang saja kak, Mas Alfindra tidak mencintaiku, tidak pernah! jadi mungkin aku akan memikirkan dengan baik saran kakak." Almira kembali tersenyum meski terpaksa.
Brakk...
Tanpa sadar Alfindra menggebrak meja, untung tak membuat kedua kakak beradik curiga padanya, ia memukuli dada. Ada apa dengannya?
Tak bisa mengendalikan diri, Alfindra berdiri kemudian membayar bill-nya. Ia kembali menemui Almira.
"Mas Alfin?" Almira mengernyit, pun dengan Hana.
"Gih, selesaikan urusanmu Mir. Aku pulang duluan," pamit Hana.
"Ikut aku," titah Alfindra.
Almira mengikuti Alfindra keluar area caffe setelah pergi ke kasir. Mereka pulang bersama masih dalam suasana canggung.
Dekat dengan Almira membuat Alfin nyaman, ia merasa terkontrol padahal tadi ingin sekali memaki Hana karena telah memprovokasi istrinya.
__ADS_1
"Al," panggil Alfindra yang sudah menepikan mobilnya.
Almira menoleh, mereka bersitatap sebelum akhirnya kembali Almira memalingkan wajahnya dalam diam.
"Please, lihat aku sebentar Almira!" Tegasnya meraih wajah yang akhir-akhir ini membuatnya bertingkah aneh.
Bukkkk!
Almira mendorong tubuh kekar Alfindra hingga laki-laki itu terbentur kursi.
"Mas terlalu jahat sama aku, menuduhku selingkuh, menghindariku, bahkan kembali bersikap dingin padaku. Salahku apa, Mas? Apa karena mas nggak percaya kejadian di perjamuan itu jadi mas ninggalin aku dan nggak pernah pulang?"
Alfindra dibuat bungkam, "ya mungkin. Tapi ada hal yang harus aku urus, kamu harus tau aku bukan laki-laki yang mudah terprovokasi. Aku harus menyelesaikan masalah keluargaku dulu, Almira. Aku harus membuat mamaku berfikir kalau aku mempercayainya," aku Alfindra akhirnya.
"Dan sepertinya aku mulai menyukaimu, jadi jangan berfikir aku tidak mencintaimu Almira. Aku lebih baik kehilangan dunia dari pada kamu meninggalkanku," ujar Alfindra serius.
Almira mematung dengan pipi merona, ia tak pernah menyangka suaminya akan semanis itu, sungguh tak pernah menyangka.
"Tapi mamamu, Mas?" tanya Almira kembali ragu. Ia takut menjalani pernikahan yang salah karena tanpa restu.
"Aku akan membuatnya menerimamu."
Almira mengangguk, tak disangka Alfindra menariknya ke dalam pelukan. Pelukan yang sebenarnya mereka rindukan akhir-akhir ini. Satu detik, satu menit berlalu. Almira terkekeh, lalu melepaskan diri.
"Aku gendutan ya, Mas?" tanya Almira dengan polosnya. Alfindra melirik ke arah perut, memang Almira lebih berisi tapi justru terlihat seksi di matanya.
Tiba-tiba Alfindra teringat ucapan Radit, lalu menelisik tubuh istrinya.
"Almira apa kamu hamil?" tanya langsung Alfindra demi menuntaskan ingin tahunya.
"Hamil? Enggak sih, mas. Kenapa?"
"Yakin nggak hamil?" tanya Alfindra.
Almira mengangguk yakin, karena selama ini ia tak merasakan gejala orang hamil pada umumnya. Tidak mual, tidak muntah, dan tidak sedang menginginkan sesuatu.
"Ayo pulang, aku kangen pengen makan masakan kamu," ajak Alfindra.
__ADS_1
"Oke, mas mau makan apa? Hari ini, chef Almira akan memasaknya dengan sepenuh hati," canda Almira. Alfindra tersenyum, ia mengusap kepala Almira dengan lembut. Nyatanya, jatuh cinta setelah halal semenyenangkan ini.