
"Yakin nggak ikut?" Tanya ulang Hana kala Almira mengabarinya lewat sambungan telepon kalau tidak bisa ikut ke puncak karena tak ada Alfindra. Bukan tidak menghargai kakak dan papanya, Almira hanya tak bisa meninggalkan suaminya dengan segudang pekerjaan yang menumpuk di rumah sementara dirinya dan anak-anak asyik liburan.
"Yakin,--" Baru saja mengatupkan bibir, Almira menutup telinga terkejut dengan teriakan sang suami.
"Sayang, kita bisa ikut liburan." Teriaknya begitu masuk ke dalam rumah setelah seharian bekerja. Ini hampir pukul delapan malam dan suaminya baru pulang dengan alasan lembur. Jadi ini? Hanya demi dirinya bisa ikut liburan keluarga?
"Tuh Alfin bilang bisa, kan?" sahut Hana di seberang.
"Bisa katanya, Kak. Tapi ini baru pulang, belum persiapan sama sekali. Besok berangkat jam berapa?"
"Pagi, Mir. Takutnya kalau siang atau sore Bogor hujan," ujar Hana lalu terdiam sejenak, "jam tujuh pagi-an lah, biar gak pagi-pagi banget juga. Jadi beres ngurus anak langsung cuss."
"Oke kalau gitu, Kak."
"Wajib ya, Mir. Bilang suamimu, jangan lupa bekal duit yang banyak hahaha..."
Almira terkikik, dasar memang kakaknya itu.
Alfindra mendekat lalu merebut ponsel Almira, "aman, aku bawain beserta bank-nya. Yang penting jajan sekalian buat si kembar!" ujar Alfindra.
Hana terbahak, "dasar bapak-bapak gak modal."
"Udah sana packing, besok aku tunggu jam tujuh, Mir. Ingat, jangan molor!" ujar Hana sebelum memutus panggilannya.
"Aman lah!"
Alfindra merengkuh istrinya manja, "capek, Yang!" keluhnya mirip Arsa kalau mode capek main.
__ADS_1
"Bebersih dulu, Mas. Aku mau siapin keperluan kita," ujar Almira.
"Anak-anak mana?"
"Sudah tidur tadi," ujar Almira tersenyum. "Siang tadi nggak tidur, bikin si Mbak kerepotan. Maunya main terus, untung nggak rewel. Cuma suruh nemenin aja," jelas Almira menceritakan alasan kenapa si kembar jam segini sudah terlelap puas.
Alfin masuk ke kamarnya untuk mandi, sementara Almira meraih koper miliknya di sudut kamar dan membukanya. Membawa beberapa lembar baju, Almira tak lupa menyiapkan semuanya secara detail baik itu keperluan dirinya atau Alfindra. Berpindah ke kamar si kembar, Almira juga mengemasi beberapa baju ganti untuk Arsa dan Ayara tak lupa popok dan segala perlengkapannya.
Arsa dan Ayara memang masih suka mengompol kalau malam, sementara siang hari bocah kembarnya sudah pintar memberitahu kalau ingin pipis.
Dengan cekatan Almira menyiapkannya sendiri dan meletakkan dua koper itu di sudut kamar si kembar.
Selesai mandi, Alfindra menyusul Almira ke kamar si kembar dan duduk disana sambil mengusapi rambutnya dengan handuk.
Aroma khas sabun menyeruak, membuat Almira segera mendekati sang suami.
"Wangi banget, Mas!"
"Dih, Mas. Narsis banget, orang aku cuma minta cium kok," sungut Almira lalu menjauh.
"Hahahaha, sini sini kalau gitu aku hujani." Alfindra terkekeh, gemas sekali melihat wajah istrinya kalau ngambek.
"Hilang mood," dumel Almira.
"Ya ampun, segitunya. Kan tadi Mas kira kamu mau K D R T lagi," ujar Alfin lalu merengkuh pinggang sang istri dan malah berakhir duduk di pangkuannya.
"Kan kan, siapa yang salah?" Omel Almira.
__ADS_1
"Hehehe, tidur aja, yuk?" ajak Alfin lalu mencuri cium di pipi Almira.
"Malu, Mas. Tar anak-anak bangun dan lihat kita malah," sungut Almira.
"Ya kan aku ngajak tidur, rasaan dari tadi pikiran kamu makin kesini makin kesana, Yang!"
Almira bangkit dan memilih ambil posisi di samping Arsa, lalu menutup wajahnya dengan bantal boneka tayo, karena malunya gak karu-karuan.
Paginya, setelah memastikan apa yang dibawa masuk ke mobil, Almira memanggil anak-anaknya. Liburan keluarga itu akhirnya Alfin melibatkan Bambang. Mau tak mau, ia harus membawa bujang matang itu ikut ke Bogor.
Sekitar pukul enam pagi mereka melajukan mobilnya ke rumah Hana dan Wildan, mereka sempat mampir ke indoapril untuk membeli beberapa camilan dan susu buat si kembar.
"Ma, Yara mau es klim..."
"Ini masih pagi, Sayang. Kamu mau makan es klim pagi-pagi? Nanti ya, agak siangan?" bujuk Alfin.
"Yara mau es klim, Pa! Jangan pelit," sungut Yara cemberut.
"Yara ngeyel," protes Arsa.
"Apa cih!" Yara berkacak pinggang. Gara-gara diajak Mbak jalan-jalan keliling komplek, ia jadi ikut gaya emak-emak koplek yang mode galak.
"Yara gak copan," omel Arsa.
"Sudah-sudah, mama beliin susu. Masih pagi, nanti aja kalau udah agak siangan," ujar Almira menasehati. Drama es krim itu memang tak berlanjut disana, setelah selesai dengan apa yang dibeli, Almira mengantri di kasir meski gak antri-antri banget dan Alfin yang bertugas jaga si kembar.
"Biar saya yang bawa Nona," ujar Bambang meraih plastik putih berlogo itu dari tangan Almira.
__ADS_1
Almira mengangguk, lalu menyusul suaminya ke mobil.
Namun, selalu ada drama lain yang Ayara lakukan di setiap kegiatannya, seperti saat mereka turun dari mobil dan bertemu Damian. Ia berlari heboh menghampiri abang sepupunya itu dengan gaya khas, "Mian oh Mian..."