PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
55. Ulah Salma


__ADS_3

Salma tersenyum tipis menyambut kedatangan Almira, menjelma menjadi gadis baik penuh dengan drama karena mengingat dengan betul ia pernah salah tanya pada Almira demi menuntaskan penasarannya pada sosok Hana Araya yang ternyata bukan siapa-siapa Alfindra.


"Mir, kamu buatlah minum untuk suamimu. Soalnya bibi lagi ke pasar, dapurnya sebelah sana," tunjuk Silvia.


"Ya, ma."


Salma tersenyum lebar, ia bisa melihat dengan jelas jikalau Silvia tak terlalu suka dengan Almira dan hal itu memudahkan rencana Salma menyingkirkannya.


"Bang Zion mana, Ma?" tanya Salma kemudian bergerak tak nyaman.


"Kenapa sayang?" tanya Silvia khawatir.


"Eh, aku cuma mau ke toilet sebenarnya," lirih Salma.


"Di dekat dapur juga ada toilet kalau kamu sungkan ke kamar Zion. Hari ini dia keluar sebentar mungkin setengah jam lagi pulang," jelas Silvia diangguki Salma.


Alfindra sibuk memeriksa laporan Madel perihal rencana pindah kembali ke mansion. Meski tak jadi membeli rumah baru, Alfindra ingin beberapa bagian mansion diubah.


"Kau sungguh jatuh cinta pada Alfindra hehe Nona Almira?" Salma menyeringai lebar menghampiri Almira yang sedang membuat minum di dapur. Gerakan tangannya mengaduk kopi terhenti mendengar suara familiar di belakangnya.


"Menurutmu? Apa kamu masih tidak tahu malu hadir diantara kami? Apa aku perlu memperlihatkan seberapa besar suamiku mencintaiku?" jawab Almira sinis, ia sungguh tak ingin meladeni Salma, tipe manusia tak tahu malu itu sungguh membuatnya muak.


"Kalau begitu, mari kita lihat sepanik apa dia jikalau aku tiba-tiba mendorongmu dan membuat kalian kehilangan calon bayi," desis Salma emosi. Namun, dalam hati ia punya rencana lain untuk membuat keduanya salah paham.


Almira cuek, ia memilih meletakkan cangkir kopi ke nampan dan akan segera pergi dari sana. Itu lebih baik dari pada meladeni mantan kekasih suaminya.


Tanpa diduga, Salma merebut cangkir itu dan menumpakkannya ke tubuh sendiri lalu membanting cangkir ke lantai hingga pecah berserakan.


TARRRR....


Suara gaduh dapur tentu membuat Silvia dan Alfindra menoleh kemudian saling pandang.


Salma menyeringai lebar, menatap Almira sengit penuh kemenangan.


"Ada apa ini?" tanya Silvia lalu memekik kala melihat tampilan Salma yang terkena siram kopi.


"Ya ampun Salma," pekiknya terkejut.


"Tante, aku nggak tau salahku apa tapi Almira,--"


Sontak Silvia menoleh ke arah Almira yang masih membeku di tempat.


"Kenapa Al?" Alfindra menyusul lalu dengan khawatir mendekati istrinya.

__ADS_1


"Dia lempar aku pake cangkir yang masih ada kopi panasnya, Fin!" potong Salma.


"Benar itu, Mir? Kamu melemparnya pake kopi?" tanya Silvia dingin.


"Ya tante, jelas-jelas dia berniat jahat sama aku. Dia takut aku merebut Alfin darinya padahal kan kita cuma masalalu. Sekarang ada Bang Zion untuk apa aku seperti itu." Bukan Almira yang menjawab melainkan Salma.


Almira hanya menghela napas kasar, menahan emosi. Ia tak boleh meluapkan amarah yang dapat mempengaruhi bayinya, Almira harus tetap tenang.


"Mir?" Alfindra menatapnya lekat, menuntut kejelasan.


Silvia mengibaskan tangan, "bawa istrimu pulang, Fin!" titahnya segera.


"Mas gak percaya sama aku?" tanya balik Almira membuat Alfindra berdehem tak nyaman.


"Bukan begitu, Mir. Tapi kenyataannya?"


"Kenyataannya baju dia kotor kena tumpahan kopi? Secara tak langsung Mas menegaskan kalau aku yang sengaja melakukannya bukan? Bagaimana kalau aku bilang dia menumpahkan kopi milikku ke bajunya dan melempar cangkir sendiri ke lantai? Apa mas percaya?" sengit Almira.


"Salma bukan orang yang seperti itu, aku mengenal dia dengan baik!" ragu Alfindra.


"Lalu? Menurutmu aku yang melakukannya, Mas? Baiklah, aku akan pulang sendiri. Permisi!" ketus Almira meletakkan nampan. Gegas meninggalkan Alfindra, Silvia juga si ja lang disana.


Almira meraih tasnya lalu pergi begitu saja, tanpa menunggu Alfindra lebih peka untuk mengejarnya. Ia bukan type wanita yang akan merengek-rengek minta dikejar, sudah cukup kecewanya menjadi istri tanpa dipercaya.


"Tapi tan, kenapa mesti dikejar?" keluh Salma.


Silvia hanya mengangkat alisnya sebentar lalu mengalihkan pembicaraan.


"Tante akan minta Zion membawakanmu baju," ujar Silvia.


***


Alfindra menyusul istrinya keluar, akan tetapi Almira terlalu cepat. Ia berusaha menghubungi Almira tapi tak juga diangkat.


Kembali dengan lesu masuk ke dalam, melihat Silvia dan Salma saling diam canggung membuatnya keheranan.


Ia menghempas tubuh di sofa, "nanti Almira akan kembali kalau sudah reda hatinya!" jelas Alfindra sebelum sang mama bertanya macam-macam.


"Kamu mau nunggu dia kembali? Fin, perasaan wanita hamil itu begitu sensitif. Kejar dia," seru Silvia. Ia meminta sang anak membawa istrinya pulang karena tak baik buat Almira bertemu lama-lama dengan Salma yang notabenenya adalah mantan.


"Kok tante?" Salma tak mengerti, ia merasa Silvia berubah.


Klekkk...

__ADS_1


Zion datang, membawa baju seperti yang diperintahkan Silvia meski dengan malas.


"Cih, calon bapak-bapak mukanya kusut begitu," seru Zion setelah menelisik wajah Alfindra.


"Aku pulang, Ma." Alfin pamit, ia tak menanggapi kelakar Zion. Mungkin ucapannya tadi terkesan menuduh Almira, tapi bagaimana penjelasan Almira juga tak masuk akal.


"Kenapa sih, Ma? Ada apa gitu lho pada tegang gini?" tanya Zion.


"Almira nyiram Salma pakai kopi, tuh bajunya basah semua," tunjuk Silvia pada Salma.


"Ya gak mungkin lah, Ma! Bisa jadi itu karena tak sengaja nabrak atau,--"


"Iya ya? Apa kalian gak sengaja tabarakan lalu cangkirnya tumpah?" selidik Silvia membuat Salma seketika meringis.


"Mungkin aku terlalu berlebihan nuduh dia tante," lirihnya.


"Ck ck ck drama mulai," batin Zion. Entah sejak bertemu Almira rasa sukanya dengan Salma semakin berkurang, matanya semakin lebar melihat dunia bahwa wanita cantik di dunia ini bukan hanya dia seorang.


"Gampang, cek aja cctv," usul Zion.


GLEKKK...


***


Almira terus berjalan tanpa arah, ia sengaja masuk jalanan kecil agar Alfindra tak bisa menemukan dirinya. Almira kecewa, baginya tak ada guna rumah tangga tanpa adanya rasa percaya.


"Kamu mengenal baik Salma, Mas? Hahaha lucu sekali, kamu terlalu mengenalnya sampai tak tahu aku orang seperti apa? Aku bukan orang yang mudah terprovokasi oleh sesuatu yang aku benci," gumamnya pelan. Almira bahkan sampai mendongkak menatap langit agar cairan bening di ujung mata tak jatuh meski sejujurnya dalam hati ingin sekali menangis menumpahkan semuanya.


Ia terus berjalan hingga akhirnya memilih berhenti di sebuah rumah kecil.


___


Zion menatap serius laptop ruang kerja yang terhubung dengan cctv seluruh rumah. Silvia sampai mengatupkan bibir saking tak percayanya dengan kelakuan nekad Salma. Gadis itu? Bahkan ia menolak keras dengan dalih panggilan kerja darurat untuk menghindar.


"Mama lihat kan, dibanding dengan istri Alfindra yang sekarang. Salma itu jahat, aku saja heran. Dulu kenapa sampai tergila padanya," seru Zion.


"Tapi Zi, bagaimanapun kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu padanya!" kekeh Silvia.


"Iya tahu. Tapi kalau gak hamil gimana?"


PLAKKK...


"Ya kamu tetap harus nikahi dia, ubah dia jadi wanita baik." Silvia meninggalkan Zion begitu saja. Kejahatan Salma tentu tak bisa dijadikan alasan bagi Zion lari dari tanggung jawab.

__ADS_1


__ADS_2