PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab - 76


__ADS_3

Hari spesial Madel dan Wina tiba, Alfin menatap undangan hitam dengan garis gold itu dengan meragu. Teringat ucapan Madel kala assistennya itu resmi undur diri beberapa waktu lalu.


"Tuan, jika tak berkenan dengan Bianca. Saya bisa mencarikan orang lain. Tapi tolong jangan pecat dia, dia tulang punggung keluarga sementara Ibunya sedang sakit."


"Tapi, Del. Istriku tak suka dengan Bianca," aku Alfin setelah tahu apa yang membuat istrinya akhir-akhir ini uring-uringan. Mirip cewek yang lagi mode pe em es.


"Kalau begitu, atur saja gimana mestinya Tuan memperkerjakan Bianca."


Alfin hanya mendekus sebal sebagai respon.


Apalagi, ia baru menyadari jikalau Bianca tertarik padanya. Alfin tak ingin, hanya karena sering bersama Bianca, Almira jadi marah-marah meski alasan istrinya itu sangat jelas. Haruskah Alfin bersyukur akan tingkat kepekaan Almira? Dimana radar bahaya itu sudah mengancamnya jauh-jauh hari.


"Sudah siap? Arsa sama Ayara mana?" tanya Alfindra kala melihat istrinya itu keluar seorang diri. Masih memakai, dress rumahannya.


"Apa aku nggak ikut aja, Mas? Ayara tertidur," gumamnya pelan.


"Gak ikut? Kalau begitu, aku juga gak akan datang," ucap alfin begitu yakin.


Alfindra duduk, Almira menyusul duduk. "Jangan egois, Mas. Madel itu bukan orang lain buat kita," ujar Almira.


"Nggak enak kalau nggak dateng, apalagi selama jadi asisten kamu, Madel selalu nurut. Apapun itu tugasnya, bahkan di luar nalar sekalipun," sambung Almira lagi membuat Alfin hanya menghela napas kasar.


"Oke oke, tapi kalian?" Alfin seperti berat meninggalkan Almira.

__ADS_1


"Aku bisa handle yang di rumah. Lagian Ayara dan Arsa kan kalau malam tidurnya pulas, nggak bakal kebangun-bangun. Palingan sekarang tinggal bacain Arsa cerita, bentar lagi nusul bobok Ayara."


"Kalau begitu aku akan berangkat, jaga diri baik-baik." Alfin mengusap lembut rambut istrinya, lalu mendaratkan kecupan singkat di pipi dan bibir.


"Aku akan secepatnya pulang," janji Alfin dibalas anggukan senyum oleh Almira.


Mengemudikan mobilnya ke salah satu hotel megah milik Pak Arka. Alfindra berangkat ke pernikahan Madel dan Wina seorang diri, dua puluh menit perjalanan akhirnya sampai di tempat acara.


"Pak?" panggil Bianca, gadis itu berjalan cepat menghampiri Alfindra setelah memastikan atasanya itu menoleh.


"Boleh Bareng, Pak? Aku gak terlalu kenal sama temen-temennya Madel yang sekarang," lirih Bianca.


Dress tanpa lengan warna merah maroon melekat sempurna di tubuhnya, bisa-bisanya Bianca memakai pakaian terbuka di acara seperti ini sendirian.


"Ya sudah, ayo bareng!" Alfindra terpaksa masuk bersama Bianca. Dan benar saja, orang-orang langsung menatap mereka yang berjalan beriringan memasuki ballroom tempat acara Madel dan Wina digelar meriah.


"Selamat kalian," ujar Alfindra menyalami Madel dan Wina bergantian, lalu beralih pada Pak Raka dan istrinya juga keluarga Madel.


Seperti ingin menanyakan sesuatu, akan tetapi urung karena banyaknya tamu undangan yang harus disambut.


"Pak Alfin mau minum?" tawar Bianca menyodorkan segelas wine.


"Nggak, aku bisa mengambil minuman lain. Kau minum saja," ujar Alfindra lalu meninggalkan Bianca sendirian.

__ADS_1


Alfin lebih memilih minuman lain tanpa alkohol ketimbang sampai rumah malah diusir dari kamar. Ah, tentang Almiranya. Alfin tak sabar segera pulang untuk kembali berkumpul bersama anak istrinya.


Di tengah hiruk pikuknya tamu undangan, Alfindra tanpa sengaja bertemu dengan Alina yang malam ini hadir sendiri.


"Nona Alina, anda datang sendiri?" tanya Alfin.


"Eh, Pak Alfin. Iya sendiri, Bu Almira dan anak-anak tidak ikut?" tanya Alina.


"Hm, si kembar tidur di waktu yang tidak tepat. Dan istriku paling nggak tega meninggalkan mereka meski ada yang jaga."


Bianca melihat Alfin malah mengobrol dengan wanita lain pun seketika menjadi kesal. Ia sampai minum beberapa gelas demi meluapkan kekesalannya.


"Kalau gitu, mari Pak!" ujar Alina setelah obrolan mereka terhenti.


Alfin mengangguk, matanya menangkap siluet Bianca sempoyongan. Ingin mengikutinya, tapi kembali suara familiar memanggil.


"Pa, Ma?" Alfin meringis. Jelas ia tahu akan bertemu dengan papa dan mamanya disini.


"Kenapa Almira gak diajak? Harusnya kamu ajak Almira datang kesini," protes Silvia saat tahu kalau menantunya tak ikut datang karena menjaga si kembar.


"Si kembar tidur, Ma. Harusnya malah aku ajak semuanya biar ramai."


"Alasan aja, tahu gitu mamamur aja yang jagain biar Almira bisa ikut kesini. Kamu malah, mau ikutin siapa tadi?" selidik Dominic.

__ADS_1


"Eh, itu. Aku tadi cuma memastikan Bianca tadi kemana..."


Dan Bianca menghilang, akan tetapi itu bukan urusan Alfindra, ia memilih sesegera mungkin meninggalkan pesta setelah pamit pada Madel dan Pak Raka.


__ADS_2