PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab 70


__ADS_3

Satu bulan kemudian, Almira resah padahal masih pukul satu dini hari. Ia bahkan sampai menggigit kuku-kukunya demi menahan rasa sakit yang bergejolak. Menatap suaminya yang masih pulas berbalut selimut, Almira jadi tak tega membangunkannya demi mengeluhkan rasa sakit yang didera.


"Tenang, Mir. Ini kan baru awal-awal mules, gak mungkin langsung lahiran kan?" bisiknya menenangkan diri sendiri. Di tengah kegundahannya, ia pun mencoba menghubungi Hana.


Beberapa hari terakhir, kakaknya itu memang sering menghubungi tengah malam dengan dalih Damian rewel. Meski begitu, Almira yakin kalau Hana tahu kalau minggu-minggu ini adalah hari perkiraan lahirannya.


"Hallo Mir? Gimana? Apa sudah mules?" Hana langsung memberondonginya pertanyaan ketika panggilan Almira terjawab.


"Dikit, kak. Aku harus gimana? Berapa lama lagi, ishhh." Almira tak kuasa menahan ringisannya, mengigit bibir berusaha menahan sakit seorang diri.


"Alfindra mana?" tanya Hana.


"Masih tidur kak, pules banget. Gak tega mau bangunin."


Di seberang sana, Hana menepuk jidatnya. Tak habis fikir dengan apa yang ada di otak adiknya, "bangunin sekarang. Siap-siap, biar aku bangunin bang Wildan buat nyusulin kalian!" titah Hana.


"Iya, kak. Iyaaaa, aku bangunin sekarang! Yaudah aku matiin," balas Almira pelan. Benar saja, telepon mati sepihak dan Almira langsung mengguncang pelan bahu suaminya agar terbangun.


"Mas, bangun Mas! Perutku mules."


"Hah?" sigap Alfindra bangun sekaligus kaget, ia mengerjap cepat demi segera mendapati kesadaran.


"Ayo ke rumah sakit, aku antar sekarang!"


"Mas cuci muka dulu, deh! ini masih jam setengah dua malem lho," seru Almira menunjuk jam. Tangannya tergerak sedari tadi mengusap perut demi meredam rasa sakit.


Rasa-rasanya, Almira ingin terus menerus buang air kecil. Tak ingin kecolongan, gegas Alfindra meminta Bambang mengantar mereka ke rumah sakit segera. Tak lupa menghubungi Silvia, mama Alfindra itu kaget sekaligus panik.

__ADS_1


"Tenang, Ma. Jangan ikutan panik, minta tolong mampir ke rumah karena perlengkapan lahirannya masih ketinggalan," pinta Alfindra memelas. Seharusnya ia membawa dua tas yang sudah dipersiapkan akan tetapi malah satu tas saja yang terbawa. Panik menyerangnya hingga lupa kalau calon anaknya dua, bukan satu.


"Oke, kamu sama siapa disana?" tanya Silvia. Mengingat Almira hanya memiliki kakak perempuan yang pasti sibuk mengurus balitanya yang belum baru menginjak dua bulan.


"Aku sen,--" Alfindra tak menyahut kala mendapati Wildan berlari ke arahnya.


"Kenapa masih ada disini? Masuk, temani istrimu berjuang!" seru Wildan.


"Aku mengabari mama," lirih Alfindra, baru kali ini nyalinya benar-benar ciut. Meski begitu, langkahnya tetap maju memasuki ruang tindakan guna menemani sang istri yang berjuang.


"Tarik napas pelan-pelan," pinta dokter menginterupsi.


"S-sakit, Mas!" lirihnya dengan air mata berderai sekaligus menahan rasa sakit.


"Iya tahu, aku akan disini menemanimu, sabar ya sayang!"


Almira menggeleng lemah, rasanya ia tak lagi punya daya untuk sekedar jalan meski itu demi kelancaran lahirannya.


Panik attack yang mendera membuat sekujur tubuhnya lemas, padahal masih harus mempersiapkan tenaga ekstra untuk melahirkan.


"Apa istri saya memungkinkan bisa lahiran normal, dok?" tanya Alfindra memastikan.


"Saat ini, semua baik Pak. Nggak ada kasus berarti yang membuat Ibu Almira harus operasi, semoga tenaganya kuat. Bapak cukup bantu kami untuk mensupport-nya dan membiarkan kondisi Bu Almira tetap dalam keadaan sadar," terang dokter itu.


"Semangat Bu, sudah siap. Tarik napas, tahan, ejan..."


Almira meringis sakit, mengeluarkan semua tenaganya bahkan tangan yang sedari tadi digenggam erat oleh Alfindra kini sudah berubah posisi menjambak rambutnya.

__ADS_1


"Sakit, Mas..." keluhnya dengan cairan bening membasahi pipi.


"Sabar ya, demi anak kita Mir." Alfindra pun tak kuasa menahan tangisnya. Antara panik juga takut, melihat Almira kesakitan seperti itu sungguh membuatnya tak tega.


Oek... Oek...


Bayi perempuan itu lahir lebih dulu, dengan cekatan suster membantu dokter untuk meraih bayi Almira ke gendongan untuk dibersihkan.


"Selamat ya, Bu. Bayi perempuannya sudah keluar, cantik kaya ibunya!" puji sang dokter tersenyum.


"Pak Alfin, jangan sampai istrinya pingsan. Ajak ngobrol terus, kasih semangat..." pesan dokter hingga kembali memberikan aba-aba pada Almira.


Tak berselang lama, bayi laki-laki keluar membuat keduanya yang tadi tegang sekaligus pucat pun menangis lega.


"Wahh, ganteng yang ini kaya papanya!"


***


Bayi kembar laki-laki dan perempuan itu diletakkan di box bayi setelah proses IMD selesai. Mereka tidur dengan tenang dan lucu. Sementara Almira masih menangis sesegukan, tak menyangka Alfindra tak sedetik pun membiarkannya berjuang sendiri.


Silvia masuk, ia duduk di samping Alfindra setelah memberikan perlengkapan si kembar pada suster.


Ia menatap Almira dengan mata berkaca-kaca, "makasih banyak ya sayang, sudah kasih mama cucu-cucu lucu. Kamu wanita dan ibu yang hebat," ucap Silvia mengusap-usap bahu menantunya.


"Mama juga hebat, karena anak mama itu tak sedetik pun biarin aku sendiri. Aku,--" Almira sampai tak kuasa menahan harunya.


"Kamu yang paling hebat, yang. Makasih sudah berjuang keras dan kesakitan demi memberiku gelar seorang ayah!" Alfindra menangis seraya mengecup punggung tangan Almira.

__ADS_1


Pemandangan itu tentu membuat Silvia senyum-senyum sendiri. Ia bangga pada putranya, bangga pada menantunya dan menyesal pernah menghalangi kebahagiaan mereka.


__ADS_2