
"Ini sudah pas sesuai catatan, kan?" tanya Zion. Menyerah, ia akhirnya menyerah menyibukkan diri. Rupanya ada satu cara yang lebih efektif untuk melupakan seseorang dengan cepat.
Arsa dan Ayara, bayi kembar itu sudah mengalihkan perhatiannya. Membuat Zion jatuh cinta dengan tangis dan tawa bayi kembar itu. Dan hari ini, dia memutuskan meyambangi kembali rumah Alfindra setelah kemarin sempat datang dengan membawa banyak hadiah.
"Hey, Arsa, Ayara. Papi Zi pergi dulu, ya?" pamitnya pada si kembar.
"Papi... Papi... Papa Arsa dan Ayara cuma aku bang!"
"Cemburu lo kebangetan," sembur Zion. Setelahnya ia benar-benar pergi dari sana.
"Jangan lupa, kasih ke temen-temen kantor papa juga, Zi." Silvia membantu menaruh beberapa box syukuran Arsa dan Ayara itu di jok belakang mobil.
"Masuk catatan kan? Aman lah."
"Ya sudah, hati-hati Zi. Konfirmasi kalau ada yang kurang apa gimana." seru Silvia. Zion mengangguk, lalu melambaikan tangan sebelum benar-benar masuk mobil dan pergi
"Makasih banyak, ya Ma. Udah bantu handle," lirih Almira.
"Udah tugas mama, sayang. Oh ya, kakak kamu udah dikirim kue-nya?"
"Udah tadi sama Bambang, Ma."
"Syukurlah, mama lega. Cepat tumbuh besar ya, Nak." mengusap lembut kepala Arsa yang ada di gendongan Almira.
"Ayara sama papanya?"
"Ho'oh, Ayara lebih nempel sama Mas Alfin, Ma. Mungkin karena Ayara anak perempuan hehe..."
Alfindra meletakkan Ayara ke kasur yang ada di ruang santai keluarga. Tawa bayi mungil itu membuat Alfin bahagia, lalu menoleh ke arah Almira dan mamanya yang baru masuk.
__ADS_1
"Yang, Arsa bawa sini."
Almira mengangguk, "bisa jaga dua-duanya nggak? Aku pengen mandi bentar, gerah."
"Bisa dong, lagian ada mama juga. Kalau dua-duanya nangis,--" Alfindra menggantung ucapannya lalu meringis melirik Silvia.
"Sudah sana mandi, Mir!" titah Silvia lalu meraih Arsa dan membawanya mendekat ke Alfin dan Ayara.
"Maaf, Ma, Mas. Bentar doang," gumam Almira dibalas anggukan oleh Silvia.
Almira bergegas, sejak menjadi Ibu dua anak ia melakukan apapun secepat kilat. Padahal baru beberapa hari, tapi ia sudah merasa kewalahan. Meski, dibantu Alfindra dan mengurus si kembar sama-sama. Hal itu juga tak menutup kemungkinan ia akan semakin kewalahan kalau sang suami sibuk mengurus kantor.
Hingga setelah selesai dan memastikan si kembar terurus dengan baik, Almira menyandarkan punggungnya di sofa. Lelah, tapi juga tak membuat dirinya tak bahagia. Ia sangat bahagia dan menikmati peran barunya.
"Kenapa, Yang?"
"Capek banget, pengen rasanya tidur. Untung ada mama sama bang Zion..." Almira melirik si kembar yang ketawa-tawa bersama Silvia dan Zion. Sementara Alfin menarik bahu istrinya dan memijat lembut.
"Ngeluh boleh kok, aku akan usahain semuanya. Kita gak bisa sembarangan milih pengasuh kan, apalagi jaman sekarang banyak kejahatan meraja lela," gumam Alfindra.
"Makasih, Mas. Kamu sendiri gimana? Lagi banyak fikiran aku lihat dari kemarin, jangan cuma nyuruh aku jujur kalau kamu menyimpan masalahmu sendiri. Kita ini bukan cuma suami istri tapi juga teman berbagi. Apapun itu masalahnya, bagi sama aku!"
"Nggak ada, Sayang!" Alfindra tersenyum tipis.
"Bohong banget, kamu kalau bohong hidungmu merah," seru Almira membuat Alfin secara reflek meraba hidungnya.
"Masa sih?"
"Ho'oh." Almira mengangguk singkat, lalu menyandarkan kepalanya di dada bidang sang suami.
__ADS_1
Alfindra mengusap surai pendek Almira, "rambut kamu gak panjang-panjang gara-gara aku, yang!"
"Aku maafin," ucap Almira membuat Alfin tertawa lirih.
"Maaf, Sayang. Aku salah, janji gak akan ulangi lagi," balasnya mengangkat jari membentuk huruf V.
"Janji juga jangan ninggalin aku walau nanti aku keriput lebih dulu, walau nanti aku tambah lebar dan jelek, walau tiap hari cuma bisa pake daster rumahan..."
Cup...
Alfin membungkam bibir istrinya dengan kecupan lembut, "aku gak janji, tapi akan aku buktikan kalau cuma kamu yang ada disini..." tunjuk Alfindra di dada.
Almira bersemu merah, ia berusaha menahan harunya dengan tersenyum tipis.
Mengubah posisi, Almira jadi merebahkan tubuhnya di sofa dengan paha Alfindra sebagai bantalan. Jemari sang suami masih sibuk mengusap surainya, sesekali mencubit pipi dan hidung Almira dengan gemas.
"Apapun keadaannya, kita akan besarkan Arsa dan Ayara sama-sama, sampai tua. Kamu pernah denger nggak? Kalau bayi kembar itu yang tua justru yang lahir terakhir."
"Nggak!" jawab Almira. "Kok bisa gitu yang terakhir yang tua?"
"Ya karena dia ngalah, kasih jalan adiknya dulu," ujar Alfin. "Seperti Arsa yang mungkin memastikan adiknya Ayara bertemu kita lebih dulu!"
"Info dari mana itu? Gimana kalau yang keluar misalnya cowok dulu? Terus ceweknya terakhir. Masa cewek ngalah?"
"Jadi secara tidak langsung kamu negasin kalau cewek nggak mau ngalah, yang?"
"Heh, gak jelas banget Mas."
"Hahahha..."
__ADS_1
***