PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
Bab - 81


__ADS_3

Almira mendekus, seharusnya momen melihat Madel pertama kali setelah laki-laki itu menikah akan Almira gunakan untuk say selamat, semoga samawa till jannah. Nyatanya, emosi mengalahkan segalanya. Keberadaan Bianca di Kingdom Grup juga atas dasar rekomendasi Madel.


Mengamankan ponselnya lebih dulu, Almira menatap Bianca dan Madel bergantian, tentu saja dengan tatapan sengit nan tajam.


"Ada apa, Nona?" ulang Madel heran. Apalagi jelas, istri Alfindra itu terlihat sangat sangat kesal.


"Ada apa? Hehehe, ada ja lang yang berusaha menggoda suamiku, aku harus segera menyingkirkannya bukan?" seru Almira lalu berjalan meninggalkan pantri dan sempat menyenggol keras bahu Madel agar laki-laki itu tahu maksud dari perkataannya.


"Ada apa ini, Bi? Kenapa Nona Almira marah sekali?" tanya Madel.


Bianca hanya mengedihkan bahunya acuh, "dia cemburu buta padaku. Kamu tahu kan, niat aku kesini hanya untuk bekerja!"


"Hm, apa kamu kesulitan? Apa Pak Alfindra mendekatimu?" tanya Madel. Entah kenapa, dibanding langsung ke ruangan Alfindra, ia memilih ke pantri dimana tadi Anita memberitahunya keberadaan Bianca.


"Ya, aku tahu kok kalau masa setelah punya anak. Rasa ketertarikan pada perempuan lain akan muncul. Aku memakhlumi kemarahan istri Pak alfindra," ujar Bianca dengan tenang. Kebohongan yang tercipta adalah untuk mendapatkan pembelaan dari Madel, karena saat ini Madel sudah menjadi suami pewaris perusahaan lain.


"Ya sudah, aku ke Pak Alfin dulu," ujar Madel.


Kopi yang tadi sudah Bianca buat tetap diantar ke ruangan Alfindra. Tanpa mengetuk pintu, Bianca masuk dan malah mendapati Almira yang duduk di pangkuan Alfindra.


"Siapa yang menyuruhmu masuk tanpa mengetuk pintu, Bi?" geram Alfindra marah.


"Bukannya tadi Pak Alfin minta kopi, aku hanya masuk mengantarkannya."


"Jangan diminum, dia memasukkan sesuatu ke dalam kopimu sayang." Almira menatap tajam Bianca, " aku gak yakin pulang bajuku masih utuh kalau kamu meminumnya."


Perkataan Almira bukan main-main, itu semata sebagai peringatan bahwa tak boleh satupun wanita mendekati suaminya. Alfindra hanya milik dia dan anak-anak, bukan wanita lain.

__ADS_1


"Apa dia memasukkan obat ke dalam kopiku?" tanya Alfindra.


"Apa aku harus memecatnya, sayang?" sambungnya lagi membuat Bianca seketika mundur.


Almira merogoh ponselnya, lalu memutar rekaman suara itu di hadapan sang suami. Benar saja, raut Alfindra langsung terkejut.


Tangannya mengepal kala tahu kebaikannya selama ini disalah artikan.


Ketukan pintu terdengar, Alfindra berdecak pelan. Belum sempat memarahi Bianca, bahkan harus ada tamu tak diundang.


"Masuk," titah Alfindra. Pintu terbuka, menampilkan wajah Madel yang mengkerut melihat aura menegangkan di ruangan Alfindra.


"Ada apa Madel?"


"Tidak, saya hanya sedang mampir Tuan. Ada apa dengan Bianca?"


Kenapa, Pak? Dia bahkan baru bekerja beberapa minggu?" Madel sedikit heran, dan kalau itu karena kecemburuan Almira, Madel rasa Alfindra sama sekali tak profesional.


"Aku memecatnya," jawab Alfindra. Almira yang tadi berada di pangkuan kini berdiri di samping Alfindra dengan tangan merangkul bahu sang suami posesif.


"Alasannya?"


"Kau bisa mempekerjakannya di perusahaanmu jika perlu. Aku tidak butuh karyawan yang banyak tingkah, apalagi berusaha mengusik istriku. Kamu tahu kan Madel? Salma yang bahkan lebih cantik dari dia saja aku tak tertarik, apalagi dia? Di dunia ini, selain ibu dan anakku. Hanya istriku yang paling cantik."


"Benar begitu, Bi? Apa yang kau lakukan sampai membuat Nona Almira murka?" tanya Madel.


Bianca pikir, Madel akan berada dipihaknya. Namun, yang terjadi laki-laki itu malah ikut mengintimidasi dirinya.

__ADS_1


"Dia terobsesi menjadi ibu sambung anak-anakku," ujar Almira tersenyum sinis.


Deg...


Madel bukan tidak mengerti maksud perkataan Almira, hanya tak menyangka jikalau Bianca akan senekat itu. Seharusnya, untuk keadaan ekonomi yang awut-awutan, Bia cukup bekerja dengan baik dan ia akan mendapatkan gaji yang lumayan. Toh Alfin bukan type boss pelit, Madel merekomendasikannya karena Bianca memiliki kecerdasan dan pontesi menjadi assisten Alfin.


"Kamu bisa berkemas dari sekarang," tegas Almira. Ia tak akan tenang kalau Bianca masih berada di sisi suaminya.


"Maaf," gumam Bianca, "tolong beri saya kesempatan," sambungnya.


"Kamu bisa berkemas dari sekarang!" dan kali ini suara keras Alfindra. Bianca mengangkat wajah lalu menghela napas sesak. Tak ada raut kecewa disana, karena mungkin Alfindra bukan sasaran yang tepat untuknya.


Dulu, Bianca pernah menjadi simpanan CEO. Namun, pada akhirnya ia dibuang karena laki-laki itu memilih menikahi tunangannya dibanding berjuang bersamanya yang sudah banyak berkorban. Perbedaan kasta selalu menjadi penghalang besar dirinya dalam merajut cinta.


"Permisi," lirih Bia, sempat melirik Madel yang menatapnya sama datar membuat Bianca tak tahan berada disana lebih lama.


Tak sampai disitu penderitaannya, nyatanya Bia harus menghadapi gunjingan karyawan lain di lantai bawah.


"Dia pasti dipecat secara tidak terhormat," ujar salah satu karyawan.


"Woiya jelas, wong dia nantang istri Pak Alfindra, mau jadi ibu sambung katanya."


"Wah, keterlaluan itu sih," sahut yang lain.


"Cantik kagak, ngarep iya."


"Udah miris, tapi banyak tingkah. Padahal nih ya, gaji asisten itu gede loh malah ngarep jadi istri sah," bisik Anita melirik sinis pada Bianca yang lewat dengan wajah nunduk, malunya dobel.

__ADS_1


Sementara Madel meminta maaf pada Alfindra atas keteledorannya sebelum resign.


__ADS_2