PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU

PENGANTIN PENGGANTI KAKAKKU
49. Makan malam


__ADS_3

Meja makan sudah dipenuhi aneka macam masakan yang mengugah selera. Silvia sengaja menyiapkan itu untuk menyambut Alfindra datang, meski sikapnya masih terkesan tak suka pada Almira. Silvia tak bisa berbuat apapun, apalagi berencana memisahkan mereka. Melihat kondisi Alfindra kemarin cukup menamparnya, hingga berakhir memilih pasrah.


"Makan yang banyak, Mir!" seloroh Dominic.


"Calon mama kan harus tetep sehat, apalagi menghadapi anak papa yang kadang-kadang ehm begitu," sambungnya lagi membuat Almira hanya mengangguk senyum.


"Alfin juga makan yang banyak, masih suka mutah gak?" tanya Silvia.


"Mual kalau jauh-jauh dari Almira," jawabnya membuat Dominic sekaligus Zion kompak tergelak.


"Suami kamu itu neng, astaga. Coba kalau nikahnya sama Abang," goda Zion.


"Zion..." Silvia melotot ke arahnya.


"Hehehe pisss ma, lagian heran aku kok mama bisa-bisanya ngebet jadiin Salma mantu," kelakarnya semakin membuat Silvia melotot kesal.


Dominic menengahi istri dan anak-anaknya agar segera memutus debat dan lanjut makan.


Almira melayani Alfin seperti biasa, bahkan saat sang suami tanpa sungkan minta suap di hadapan abang dan kedua orang tuanya sungguh membuat Almira malu-malu gemes, manjanya calon bapak memang gak ketulungan, gak tau tempat dan gak ingat waktu.


Mereka bertiga, Dominic dan Silvia sekaligus Zion dibuat mematung tak berkedip.


"Emang biasanya begitu, Almira? kalau makan?" tanya Silvia heran.


"Ehm, iya ma." Almira hanya bisa melirik sang suami merasa bersalah.


"Kenapa sih, Ma. Lagian aku mual lho kalau gak disuapin Almira. Kan sayang kalau mual terus mutah akhirnya aku gak makan," alibi Alfindra meski bukan itu alasan sebenarnya.


Silvia merasa, putranya berubah seratus delapan puluh derajat dari sebelumnya. Bahkan saat pacaran dengan Salma saja Alfindra masih sangat dingin dan cuek, tapi kenapa hari ini sikap Alfindra berubah sekali?


"Ck, kasian adik ipar!" Zion menggeleng-geleng.


"Gak apa-apa, masih anget-angetnya, dulu papa sama mama juga kaya gitu pas masih baru," bela Dominic membuat Silvia terkenang masa lalu kemudian bibirnya terangkat sedikit, memang persis ia dan Dominic dulu.


"Iri bilang, nikah sono. Me*sum terus gak nikah-nikah," sinis Alfindra.


"Ck! Nungguin si neng cantik menjandah."


"Ngimpi," desis Alfindra.


"Mas,--" Almira mengusap-ngusap bahu Alfindra pelan.

__ADS_1


"Abang aku memang minus akhlak, Mir. Selain itu, dia juga licik!" kekeh Alfindra.


"Tapi setidaknya kelicikan daku membantumu jauh dari Salma kan, buktinya sekarang dia berhenti, hahaha!" aku Zion jumawa.


"Sudah-sudah selesaikan makannya, lalu ke ruang tamu!" tegas Dominic membuat perdebatan mereka terputus dan sunyi. Hanya ada suara denting sendok dan garpu yang beradu.


Setelah selesai makan, mereka kembali berkumpul di ruang tamu untuk membahas hal yang lebih penting dari pada sebuah perdebatan.


"Kami, aku dan mama mau kalian resepsi pernikahan."


Duarrr...


Alfindra dan Almira saling pandang diam, tak menjawab.


"Gimana?" tanya Silvia.


Alfindra menggeleng, membayangkan satu hari berdiri dalam kondisi sekarang Almira hamil membuatnya bersikeras menolak. Belum lagi drama dirinya mual-mual, membuat Alfindra dengan tegas menolak keinginan orang tuanya.


"Ayolah, Fin!" bujuk Silvia.


"No, big no ma. Kalian tahu kan kondisi kami gimana? Almira hamil, belum lagi aku banyak drama."


"Jadi beneran gak mau? Gak mau resepsi lagi, atau nikah lagi biar semua orang tau?"


Keduanya kompak menggeleng.


"Bang Zion aja tuh, nikahin sama Salma. Udah bobo bareng juga, masa gak mau nikah," cibir Alfindra.


"Suttttsss, berisik kamu. Salma aja gak mau, dia maunya kamu!" kekeh Zion.


"Aku udah ada Almira, lagian dari awal aku udah gak sreg!" ujar Alfin keceplosan.


"Mas,--" tegur Almira.


Alfindra hanya mengerjap-ngerjapkan mata pura-pura kelilipan.


"Jangan lupa, kalau mas dulu naksirnya sama siapa," lirih Almira.


"Siapa?" kompak Dominic dan Zion menanyai Almira.


"Ehm, jangan debat. Zion, kamu laki-laki harus tetap menikahi Salma bagaimanapun caranya. Dan kamu Alfin, kami sebenarnya ingin kamu dan Almira resepsi pernikahan. Tapi berhubung kamu nya gak mau kami gak maksa. Nanti aja kalau tiga bulanan bikin syukuran kecil-kecilan buat tetangga dan kerabat," jelas Silvia.

__ADS_1


"Ehm berarti berapa minggu lagi? Mama kabarin aja," ujar Alfin. Nanti aku itung dulu Almira hamil berapa bulannya, kayaknya baru mau enam minggu."


"Oke, tapi apa kalian gak mau nginep disini?" tanya Dominic dibalas gelengan kepala Alfin.


"Kalau bisa, kami pengen ketemu dan kenal keluarga kamu Almira. Mungkin kapan-kapannya diagendakan nanti," ujar Dominic.


"Iya, Pa. Nanti aku kabari kakakku, kalau papa lagi kurang sehat," aku Almira.


"Oh papa kamu lagi sakit? Sakit apa?" tanya Dominic.


"Ehm, sudah malam. Kami sudah harus pulang, nanti kalau Papa Anton sudah mendingan bisa kita atur pertemuan keluarganya," potong Alfin.


"Nanti kalau bisa nginep, nginep Fin. Kasian kamar kamu jadi sarang spiderman," cibir Zion.


"Hati-hati kalian," seru Silvia dan Dominic mengantar keduanya sampai depan.


***


Bosan di apartemen, juga tak ingin kembali ke mansion. Alfindra sebenarnya memiliki rencana membeli rumah baru, yang lebih asri, nyaman dan yang jelas tak memiliki kenangan buruk bersama Almira.


Alfindra sudah meminta Madel mencari hunian yang sesuai ekspetasinya. Namun, hingga saat ini belum menemukan yang cocok. Pengennya yang deket kemana-mana, deket dari supermarket, mall dan deket dari sekolah atau taman biar istrinya senang.


"Gimana Del?" tanya Alfindra duduk di kursi kebesarannya.


"Sudah ada, Tuan. Nanti saya ajak Tuan ke lokasi langsung setelah meeting di caffe sebelah," seru Madel.


"Bukan rumah, ya sudah nanti kita cek lokasi. Maksudku sekertaris baru," seru Alfindra. Meski Madel mengurus pekerjaannya dengan baik, ia tak sampai hati membiarkan asistennya itu bekerja sendiri.


"Sekertaris baru sudah kerja dari kemarin tuan, ruangannya di sebelah saya," aku Madel.


"Ohhh, bagus! Kamu aja yang atur pekerjaannya, apa-apa yang harus dibantu. Kamu yang berhubungan langsung dengannya. Jangan lupa meeting nanti ajak sekalian," ujar Alfindra diangguki Madel.


Setelah Madel keluar, Alfin sibuk dengan dokumennya, selain itu ia mengecek laci dan merapikannya. Matanya tertegun kala melihat map warna merah seperti dokumen perjanjiannya dengan Anton beberapa waktu lalu.


Deg...


"Perjanjian ini harus aku musnahkan kalau tak akan menimbulkan masalah suatu hari nanti," batinnya. Gegas menyobeknya menjadi potongan kecil-kecil lalu membuang ke tempat sampah yang ada di sudut ruangannya.


"Untung gak ketahuan mama pas dateng ke kantor waktu itu," gumam Alfindra.


"Kita akan mulai semuanya dari awal Almira. Aku janji akan berusaha jadi suami yang baik buat kamu dan anak kita. Maafkan aku yang dulu."

__ADS_1


__ADS_2