
"Aku nggak mau ke Jogja, apalagi dalam keadaan kaya gini. Meskipun resikonya sedikit tapi aku benar-benar tak ingin pergi kemanapun! Aku cuma jenuh dan kesal, masalah bakpia itu aku hanya mengerjaimu. Apa kamu akan menuruti kemauanku semisal aku ingin sesuatu," jelas Almira.
"Yakin cuma mengerjaiku, nanti kalau anak kita ileran gara-gara gak keturutan gimana?"
"Aku nggak kepengen apapun, Mas. Aku cuma mau stop berinteraksi dengan mantan kamu. Itu aja, meskipun kamu nggak peka aku bisa baca siasatnya," kekeh Almira akhirnya meluapkan keinginan yang menyesakkan dada.
"Aku hanya akan bantu dia bicara dengan Mama dan Bang Zion, selepasnya aku tidak perduli."
"Mas," tegur Almira. Jelas-jelas ia meminta dengan sangat suaminya berhenti sekarang, malah masih mau membantu sang mantan itu sungguh membuat mood Almira sebagai wanita hamil memburuk.
"Hm, kenapa? Jangan cemburu-cemburu, Salma gak ada apa-apanya dibanding kamu."
"Dih, gembel. Bagaimanapun dia mantan kamu lho," gumam Almira. Memang dia cemburu, tapi wajar kan sebagai istri cemburu toh suaminya kalau sedang cemburu mode ngreog, dua kali lebih parah darinya.
"Gak gombal sayang!" Alfindra sampai mengacak-ngacak rambut Almira dengan gemas.
"Rambut kamu gak panjang-panjang ya, hm. Maaf gara-gara aku dulu jadi kaya gini," aku Alfindra menyesal.
"Suttt yang penting kan sekarang mas sudah berubah!"
Alfindra mengangguk, lalu terlintas ide yang lebih konyol lagi.
"Beli rumah yuk?" ajaknya tiba-tiba. Definisi beli rumah kaya beli martabak, tinggal bayar langsung jadi gak perlu susah-susah cari uang. Masalahnya Almira bukan wanita yang gelap mata.
"Enggak, mansion mas kan nganggur."
"Tapi tempat itu banyak kenangan buruk kita sayang!" bujuk Alfin lagi.
"Gak masalah, Mas. Jangan buang-buang uang, mungkin setelahnya bisa terpakai untuk hal yang lebih penting!"
Drrtttt...
Bunyi getar ponsel Almira membuyarkan perdebatan keduanya.
"Mir, kakak boleh pinjam uang enggak? Abangmu dua hari ke luar kota, uang kakak habis." pesan Hana membuat Almira seketika diam.
"Kenapa?" tanya Alfindra.
"Eng, enggak apa-apa mas!"
Tak ingin bertanya lebih banyak, Alfindra memilih masuk ke dalam kamar. Detik berikutnya Almira menyusul masuk dalam diam.
"Mir, kalau ada apa-apa bilang. Kita ini suami istri," lirihnya seraya menatap langit kamar.
__ADS_1
"Iya, Mas."
***
Semalaman larut dalam lamunan membuat Almira lupa membalas pesan Hana. Pagi hari kala terbangun ia merasakan tangan Alfindra masih merangkulnya erat padahal jam sudah hampir menunjukkan pukul delapan.
"Mas, mas gak ke kantor? Bangun mas," seru Almira seraya menggoyang tubuh Alfindra.
Euhmmm...
"Pagi sayang." Alfindra membuka mata dan tersenyum. Sungguh nikmat yang luar biasa pagi hari disambut istri cantiknya di ranjang. Biasanya Almira sudah berkutat di dapur atau sedang mandi, tidak dengan hari ini. Alfindra benar-benar menikmati wajah ayu istrinya di hadapan.
"Iya, pagi. Mas gak ke kantor?" karena malu Almira memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
Tukkk...
"Kamu lupa hari ini hari apa sayang?" Alfindra menyentil pelan dahi Almira.
"Ishhh namanya lupa mana inget, Mas."
"Panggil aku sayang," pinta Alfindra menarik pinggang Almira posesif, tak ingin posisi sedekat ini berubah barang sejengkal pun. Namun, bunyi perut seolah tak merestui momen romantis mereka. Keduanya saling pandang lama lalu terkekeh.
"Makan dulu, Mas! Tapi aku belum masak apapun hehehe, tau nggak hari minggu itu hari kemerdekaan istri," seru Almira beralibi.
"panggil dulu sayang!" kekehnya tanpa bantahan. Almira hanya meringis, "iya sayang."
Diam-diam Alfindra berselancar ponsel membuka aplikasi pesan makan online. Terkhusus hari ini ia ingin Almira hanya menemaninya dan tak boleh kerepotan.
Almira beranjak, ia akan mandi namun sejurus kemudian Alfindra menyusulnya di belakang dengan senyum aneh.
Klekkk...
Suara pintu tertutup membuat Almira membulatkan matanya karena sang suami mengikutinya sampai kamar mandi.
"Mas, aku mau mandi keluar gih."
"Kita bisa mandi bersama untuk mempersingkat waktu." senyum Alfindra sudah bisa Almira tebak, mempersingkat waktu hanyalah akal-akalannya untuk meminta jatah.
"Enggak aku malu."
"Ck yasudah jangan lama-lama," seloroh Alfindra mengalah lalu kembali keluar. Diam-diam mengecek ponsel sang istri, lalu menemukan pesan dari Hana sang kakak ipar.
"Ck ck pinjam," decaknya pelan. Bukan tak mau, tapi Alfindra masih ragu mempercayai keluarga istrinya mengingat kejadian dulu-dulu.
__ADS_1
"Aku gak ada uang." singkat padat dan jelas Alfindra membalasnya, setelah itu ia menghapus pesan yang sudah terkirim agar Almira tak tahu kalau diam-diam ia membalas pesan Hana.
Sarapan pagi mereka datang, sambil menunggu Almira keluar ia pun mencoba menghubungi Zion, menanyakan masalah Salma.
Di tempat lain, Salma yang sedang senggang pun mengunjungi Silvia, ia akan bersikap seolah menerima Zion tetapi membuat hubungan Alfindra dan istrinya retak, bagaimanapun caranya. Salma ingin membuat celah diantara Alfindra dan istri sampai keduanya salah paham.
"Salma," seru Silvia. Meski tak lagi seantusias sebelumnya, ia tetap bersikap baik pada Salma.
"Apa kabar tante?" tanya Salma basa-basi, ia diantar satpam jaga untuk bertemu orang tua Alfindra.
"Sehat, ayo masuk. Biasanya langsung masuk kenapa harus diantar satpam duh?"
"Hehe nggak enak, Tan. Bagaimanapun, aku dan bang Zion soal yang lalu itu sebenarnya kecelakaan," aku Salma menunduk.
"Kami nggak sengaja ketemu di Bali dan aku juga nggak tahu kalau bang Zion itu,--"
"Zion suka sama kamu, jadi mau kamu menikah sama Zion atau Alfin tetap kamu adalah menantu terbaik tante," ujar Silvia tersenyum lebar.
Salma tersenyum simpul, "baru calon tante, lagian kan tante udah ada menantu, istrinya Alfindra. Ngomong-ngomong, mereka gak ada datang kesini ya? hari minggu."
"Entah, tante juga gak berharap." baru saja mengatupkan mulut suara klakson depan membuat keduanya saling tatap.
Tinnnn...
Almira terlihat gelisah, ia bahkan belum bercerita soal kakaknya yang mau meminjam uang tapi kini Alfindra justru mengajaknya pulang ke rumah orang tua dengan alasan membantu Salma.
"Mas, aku mau ngomong sesuatu. Sebenarnya kak Hana,--"
"Mau minjam uang? Mir, aku bukan lagi gak ada uang, bukan. Tapi aku keberatan kalau kamu terus-terusan bantu mereka. Biarin Hana usaha," kekeh Alfindra.
"Oke mas."
Menghela napas kasar, keduanya masih berada di dalam mobil.
"Toh abang ipar kamu kerja kan, sekali-kali biarin aja lah, biar Hana dan suaminya mikir," ketus Alfindra.
"Kok kamu jadi nyolot sih mas, aku kan bilang oke. Itu artinya oke aku gak akan pakai uang kamu buat bantu mereka tapi please juga ngertiin aku, aku gak suka kamu bantu Salma, dia bukan keluarga kamu! Dia mantan kamu!"
"Udah? ayo turun," ajaknya tanpa menoleh.
Hening, Almira masih diam tak tergerak untuk turun hingga Alfindra memilih turun dulu dan membuka pintu lalu menarik tangannya agar keluar. Sedikit memaksa hingga Almira mengaduh sakit karena Alfin menarik tepat pergelangan tangannya.
Dalam diam keduanya masuk karena pintu dalam keadaan terbuka, melihat keberadaan Salma disana sedang bercengkrama dengan Silvia membuat Almira kembali murung. Apalagi Alfindra mengajaknya langsung mendekat dan bergabung.
__ADS_1
"Fin," sapanya senyum. Alfindra mengangguk setelah menyapa Silvia dengan salim takzim pun dengan Almira yang lebih banyak diam.
"Salma itu pernah datang ke nikahan kak Hana kan, nanya pengantin pria. Jangan-jangan dia kenal dengan bang Wildan," batin Almira teringat sesuatu.