
Tak ingin menciptakan huru hara antara dirinya dan Almira, Alfindra cukup licik dan cerdas. Ia memberitahu Almira lebih dulu lewat pesan kalau dirinya tak sengaja bertemu dengan Caca dan gadis itu menanyakan alamatnya.
Memberi isyarat Madel untuk merahasiakan keusilannya pada Rayyan siang ini.
Alfindra sampai di apartemen bersama Caca dan Madel.
Menyadari ada yang datang, Almira langsung keluar menyambut.
"Caaaa..." dengan girang memeluk gadis itu layaknya tak bertemu berbulan-bulan.
"Ya ampun, aku kangen Mir!" masih di depan pintu mereka pelukan ala-ala teletubis.
"Ehm," deheman Alfindra membuyarkan keduanya.
"Ayo masuk-masuk semua," ajak Almira membuat Alfindra tersenyum geli melihat kesigapan istrinya.
Almira membawa Caca ke ruang tamu, lalu beralih sebentar ke dapur.
"Mas kok bisa ketemu Caca?" tanya Almira berbisik kala Alfindra menghampirinya yang tengah membuat minum di dapur.
"Aku bilang kalau kamu nyidam ketemu dia, hebat kan. Anggap aja aku balas dendam ke Rayyan karena waktu itu membawa istriku hehe," jawabnya lirih tapi dengan nada penuh kepuasan.
"Dih licik, tapi ngomong-ngomong apa hubungan Caca dengan bang Rayyan?" tanya Almira.
__ADS_1
"Jelas ada, kamu gak tau kalau mereka itu lagi jalan bareng? Bahkan tadi itu pas mau berangkat pergi kemana gitu, entahlah." Alfindra mengedikkan bahunya.
Almira mengingat hari, bukankah ini masih hari kerja dan hal itu seketika membuatnya ber-euforia.
"Fix mereka pedekate," serunya hampir didengar oleh Caca kalau telapak tangan Alfindra segera membekapnya.
"Sebelum dapetin Rayyan, jodohin aja sama Madel hehehe..." lagi-lagi Alfindra tersenyum usil.
"Mas!" Almira melotot horor ke arah Alfindra. Apalagi setelah satu fakta terkuak kalau Rayyan dan Caca sedang pedekate. Masa Alfindra dengan mudahnya mau jodoh-jodohin Caca dengan Madel.
"Ya gak benar-benar jodohin, suruh aja Caca tes drive lewat Madel," seru Alfindra tak menyerah meluapkan ide-idenya. Lebih tepatnya, ingin memberi pelajaran pada Rayyan tanpa turun tangan.
Almira melangkah ke depan membawa nampan, akan tetapi melihat interaksi Madel dan Caca, mungkin rencana sang suami tak mungkin berjalan lancar, Almira menjaminnya apalagi melihat jarak duduk mereka yang jauh bak Sabang ke Merauke.
"Kalau sudah kenal, jadiin ayang..." Almira terkikik lalu duduk di sebelah Caca yang hanya menanggapi selorohan pasutri itu dengan tawa canggung.
"Anda berlebihan Nona," jawab Madel.
"Jangan kaku-kaku Del, ini di apartemen bukan di kantor," pinta Alfindra. Sesaat mereka semua terdiam sebelum kembali Almira bersuara.
"Diminum, Ca, gimana kabar temen-temen semua?" tanya Almira memulai obrolan.
"B-bbaik, Mir. Semua baik, masih pada jomblo, you know lah atasannya saja jomblo apalagi kita-kita hehe," lirih Caca dengan tawa.
__ADS_1
"Gebet aja bang Rayyan, Ca!"
Alfindra mengerjapkan mata tak nyaman, "sama Madel aja, dia juga jomblo!" selorohnya membuat Madel yang sedang minum auto tersedak.
Minuman yang harusnya manis malah jadi nyangkut di tenggorokan karena ulah sang atasan yang kalau ngomong seenak jidat.
"Ehm, saya tidak berani Tuan!" Madel berdehem tak nyaman,
"Banyak pekerjaan, saya akan langsung balik ke kantor," sambung Madel lagi membuat Alfindra kecewa karena mau tak mau ia pun harus ikut ke kantor untuk kembali bekerja.
"Oke nikmati waktu santai kalian, kita pergi dulu."
Berhenti dari keusilannya, Alfindra kembali mode serius saat masuk lobi perusahaan bersama Madel. Namun, langkahnya kembali harus terhenti oleh keberadaan Salma yang menemuinya ke kantor bahkan sudah menunggu sejak dari puluhan menit yang lalu.
"Fin," lirih Salma dengan wajah sedih.
Alfindra menoleh, menatap tajam Salma yang masih rela mendatangi kantornya padahal sudah jelas kalau ditolak. Bahkan Alfin tak mau lagi melihatnya meski sebagai calon kakak ipar.
"Apa lagi?" tanya Alfindra ketus.
"Fin aku mau ngomong. Please kali ini aja," lirihnya masih dengan pelan mengikuti Alfindra sampai lift.
"Lima menit," tegasnya lalu membiarkan Madel naik lebih dulu.
__ADS_1